MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung memaparkan, terjadu aktivitas pembentukan awan konvektif yang disebabkan oleh faktor labilitas atmosferik lokal di Bandung, Jawa Barat pada April ini.
Kondisi tersebut, harus diwaspadai karena curah hujan diprediksi akan terjadi lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya menjelang akhir musim hujan ini.
Baca Juga:
BMKG Sebut Tasikmalaya Berpotensi Diterjang Tsunami 23 Meter
Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu memaparkan, peralihan musim ini berpotensi membuat suhu di wilayah Bandung Raya lebih dingin karena adanya proses pendinginan evaporatif. Teguh mengatakan proses pembentukan awan konvektif diawali oleh proses evaporasi.
"Proses evaporasi didominasi oleh proses perubahan fasa air, dari kondisi cair menjadi gas. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pendinginan di lingkungan terjadinya evaporasi atau biasa disebut sebagai pendinginan evaporatif," kata dia.
Dia menjelaskan, pendinginan evaporatif adalah pendinginan udara karena penyerapan panas laten molekul air. Ketika air menguap, proses penguapan membutuhkan energi panas (kalor) dari lingkungan agar penguapan terjadi.
Baca Juga:
Jalan Layang Pasupati Bandung Ganti Nama Jadi Prof Mochtar Kusumaatmadja
"Dengan menghilangkan kalor dari udara, maka udara menjadi dingin," katanya.
BMKG memberikan peringatan pada masyarakat, curah hujan meningkat, potensi bencana hidrometeorologi juga meningkat. Terutama, fenomena alam yang berpotensi terjadi yakni angin kencang atau angin puting beliung hingga hujan es.
"Perubahan cuaca yang dinamis juga patut diwaspadai karena dapat menyebabkan menurunnya stamina atau imunitas tubuh," katanya. (Imanha/Jawa Barat)
Baca Juga:
BMKG Amati Hilal Awal Ramadan 1 April, Diprediksi Tak Terlihat