Strategisnya Kesultanan Banten pada Masa Lalu

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Kamis, 04 Februari 2016
Strategisnya Kesultanan Banten pada Masa Lalu

Salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Banten, Banten Lama, Serang, Banten. (Foto: Twitter: @Hawasi16)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Budaya - Kerajaan Islam Banten merupakan kerajaan yang berdiri di Tatar Pasundan, di Pulau Jawa bagian barat. Kerajaan yang disebut Kesultanan Banten itu berawal dari perluasan Islam oleh Kerajaan Demak. Saat itu, pasukan Islam Demak bersama Sunan Gunung Jati memasuki Banten untuk penyebaran Islam.

Kerajaan Banten memiliki ekspor unggulan yaitu lada. Komoditi unggulan tersebut menjadi salah satu pendongkrak ekonomi Banten. Komoditi tersebut menjadikan Banten bandar perdagangan yang diisi oleh para pedagang Eropa dan Asia.

Dalam bukunya "Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004", MC Ricklefs menyatakan bahwa pada abad ke-XIV dan XV, Banten kemungkinan secara politik telah didominasi oleh negara pedalaman Pajajaran. Namun pada tahun 1500, tingkat perdagangan lada internasional yang semakin berkembang memulihkan kembali kekayaan Banten.

Kemunduran Kerajaan Pajajaran kemudian memberikan Banten keleluasaan. Ricklefs memandang, penguasaan Hindu-Budha oleh Pajajaran semakin luntur seiring kemunduran Pajajaran itu. Pajajaran mau tidak mau memberi penguasa Banten peluang untuk bertindak dengan kemandirian lebih besar.

Sekitar tahun 1522, Banten dengan Portugis bersepakat untuk beraliansi anti-Demak. Keduanya merencanakan pembangun pos penjagaan di timur Banten untuk menghadang pasukan muslim. Saat itu, Banten menolak islamisasi. Pengaruh Pajajaran masih sangat besar terhadap Banten. Demak dianggap sebagai kerajaan Islam yang mengancam Banten.

Sebelum kesepakatan aliansi Banten-Portugis itu dilaksanakan, Demak telah masuk ke dalam kekuasaan Banten melalui perdagangan.

Sultan Gunungjati

Pada tahun 1923, salah satu walisongo Sultan Gunungjati bersama tentara demak mendirikan pusat perdagangan strategis di Banten. Sunan Gunung Jati kemudian mengambil alih Banten. Ia menggulingkan kekuasan setempat dan menolak perjanjian dengan Portugis yang sebelumnya pernah dibangun.

Ricklefs menyatakan, meski saat itu Banten diperintah oleh Sunan Gunung Jati yang merupakan vasal Demak, namun keturunannya kemudian hari bebas dari kekuasaan Demak. Sunan Gunung Jati di kemudian hari pindah ke Cirebon dan membentuk garis keturunan kerajaan lain yang memerintah secara merdeka. Kerajaan di Banten dilanjutkan oleh putranya.

Penguasa Banten ke-2 Hasanuddin memperluas kekuasaan Banten. Ia melihat sumber kekayaan rempah jenis lada di Banten bisa menaikkan perekonomian dan sekaligus kekuasaan Banten ke berbagai wilayah. Sultan Maulana Hasanuddin yang merupakan putra Sunan Gunung Jati itu memperluas kekuasaan ke wilayah penghasil lada di seperti Sumatera Selatan dan Lampung. Hasanuddin memerintah Banten sekira tahun 1552-1570.

Sebelum Banten melebarkan sayap menjadi bandar lada besar di Pulau Jawa, Pajajaran telah menjalin kerja sama dengan wilayah lain di Sumatera. Sultan Maulana Hasanuddin melanjutkan jalan tersebut. Terlebih lagi, Hasanuddin memperluas kekuasaan dan disebut sebagai peletak dasar kemakmuran Banten sebagai sebuah pelabuhan lada.

(Foto: Masjid Agung terletak di sebelah Barat alun-alun Banten. disbudpar.bantenprov.go.id)

Kekuasaan Banten benar-benar lepas dari pengaruh Hindu-Budha Pajajaran setelah tampuk kekuasaan Banten di bawah sultan ketiga yaitu Sultan Maulana Yusuf. Kesultanan Banten dipimpin oleh Maulana Yusuf dari 1570-1580.

Meski kekuasan Sultan Maulana Yusuf hanya sebentar, namun ia berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran. Dengan penaklukan Pajajaran sekira 1979, setahun sebelum ia meninggal, maka lenyap pula kerajaan besar terakhir yang menganut Hindu-Budya di Pulau Jawa. Meski kerajaan bersar itu telah ditaklukkan, namun di tanah Sunda masih terdapat beberapa tempat kerajaan pra-Islam dan beberapa wilayah masih non-Islam.

"Setelah Pajajaran berhasil ditaklukkan, maka konon kalangan elite Sunda memeluk Islam," kata Ricklefs dalam bukunya.

Sultan Ageng Tirtayasa

Pada saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651-1683, Kerajaan Islam Banten mencapai zaman keemasan. Pada masa itu, Banten merupakan kerajaan Islam dengan perdagangan yang tersebar luas melintasi sekat kebangsaan. Sultan Ageng Tirtayasa membangun armada kapal modern mengadopsi model Eropa untuk mendukung perdaganan melalui jalur laut. Kapal-kapal tersebut aktif berlayar untuk melakukan perdagangan dengan wilayah-wilayah di Nusantara.

Selain dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, Banten menjalin perdagangan dengan bangsa lain yaitu Persia, India, Siam, Vietnm, Filipina, dan Jepang. Perdagangan-perdagangan jarak jauh tersebut dilakukan kerajaan Banten melalui bantuan pihak Inggris, Denmark dan Cina.

Selain memperkuat perekonomian kerajaan dengan perdagangan, Sultan Ageng Tirtayasa tidak lupa untuk memperkuat ekonomi rakyat kecil melalui pertanian. Ia gencar membangun pertanian di wilayah Banten menjadi lebih modern. Ia membangun sistem irigasi besar-besaran untuk mendukung sistem pertanian yang mumpuni di Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa membangun kanal-kanal sepanjang 30-40 kilometer hingga mempekerjakan sebanyak 16.000 orang dalam satu pembangunan sepanjang kanal-kanal itu, ia membangun 30 ribu hingga 40 ribu hektar areal persawahan baru dan ribuan hektara perkebunan kelapa. Sekitar 30 ribu pendududuk ditempatkan untuk mengolah lahan-lahan baru tersebut.

Ricklefs menyatakan, bukan hanya orang Banten yang menjadi bagian dari kemajuan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa juga menarik pekerja dari luar Banten yang sebenarnya berseberangan kehendak dengan kerajaan, seperti pedatang Bugis dan Makassar, bahkan para pecandu opium. Pembangunan pertanian secara besar-besaran tersebut menjadikan kekayaan pertanian Kerajaan Banten meningkat tajam.

Strategi kesejahteraan melalui pertanian tersebut juga mendorong wilayah-wilayah perbatasan dengan Batavia tetap setia terhadap Banten. Pihak kerajaan mengkhawatirkan wilayah-wilayah Banten yang berbatasan dengan Batavia mudah lepas dari kekuasaan kerajaan yang berpusat di bagian barat. Selain itu, daerah-daerah perdalaman Banten lebih mudah dalam kontrol kerajaan melalui kehidupan yang lebih sejahtera.

Banten Melawan VOC

Kemajuan perdagangan dan pertanian di wilayah perdalaman Banten membuat kerajaan Banten menjadikan Sultan Ageng Tirtayasa sebagai raja yang dianggap berhasil. Ibu kota Kesultanan Banten, yaitu di Serang bagian utara, diperkirakan mengalami pertumbuhan jumlah penduduk sekira 1.500 ribu jiwa pada masa Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada masa pemerintahan Sultan Agen Tirtayasa itu, Banten benar-benar menerapkan kedaulatan politik dan ekonomi. Sultan enggan bekerja sama dengan kolonial Belanda yang diwakili VOC, sehingga Banten menjadi salah satu ancaman VOC yang bermarkas di Batavia itu. Namun demikian, Kesultanan Banten menjadi kerajaan yang disegani dunia dan sangat berpengaruh di Asia. Tidak hanya memajukan perdaganan dengan menjalin kerja sama dengan dunia luar, Sultan Ageng Tirtayasa tidak lupa rakyatnya yang hidup dari dunia pertanian. Ia memodernisasi pertanian untuk menciptakan lahan pekerjaan baru bagi masyarakat Banten, bahkan bagi pendatang.

Claude Guillot dalam buku "Sejarah Banten" menyebut bahwa Sultan Ageng Tirtayasa merupakan sultan yang tidak risi untuk menyerap keilmuan modern. Ia mengangkat arsitek asal Cina bernama Cakradana untuk alih teknologi penggunan batu beton dalam pembangunan, dari awalnya menggunakan kayu. Juga untuk membangun tata kelola air pertanian, ia berani menggunakan jasa seoran Belanda bernama Willem Caeff jika itu untuk kepentingan masyarakatnya.

Pelabuhan Banten menjadi pelabuhan yang dipadati pedagang asing untuk melakukan perniagaan dengan Banten. Ia menjalin kerja sama dengan berbagai negara. Persia, India, Arab, Cina, Jepang, Pilipina, dan negara-negara lain dengan dasar saling menguntungkan. Tapi terhadap Belanda melalui VOC-nya, Sultan Ageng selalu melakukan perlawanan.  Sultan Ageng Tirtayasa meninggal dunia pada tahun 1683 dan digantikan oleh sang putra, Sultan Haji setelah terjadi pertikaian antara keduanya.

 

BACA JUGA:

  1. Wonderful Banten, Surga Wisata di Taman Nasional Ujung Kulon
  2. Pulau Pecang, Surganya Pecinta Snorkling di Banten
  3. Pulau Tinjil, Surga Tersembunyi dari Banten
  4. Yuk Nikmati Pesona Keindahan Pantai Ciantir, Banten
  5. Pesona Wisata Alam Gunung Batu Lawang di Cilegon, Banten
#Sejarah Banten #Budaya Banten #Kesultanan Banten
Bagikan
Ditulis Oleh

Noer Ardiansjah

Tukang sulap.

Berita Terkait

Tradisi
Mengenal Wayang Garing, Kesenian asal Banten yang Terancam Punah
Wayang Garing merupakan kesenian asal Banten yang jarang diketahui. Sayangnya, kesenian ini terancam punah karena tak ada regenerasi.
Soffi Amira - Kamis, 25 Juli 2024
Mengenal Wayang Garing, Kesenian asal Banten yang Terancam Punah
Bagikan