‘Staycation’ Jadi Pilihan Keluarga Selama Long Weekend
Memilih untuk liburan di dekat rumah. (Foto: Unsplash/Rhema Kallianpur)
PERISTIWA Tri Hari Suci kemarin menjadi momen yang tepat karena sebagian orang merasakan libur panjang atau long weekend. Untuk melepas penat, Wakil Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Anton Sumarli mengatakan bahwa segmen pasar untuk liburan keluarga memilih staycation atau liburan di tempat yang dekat dengan tepat tinggal.
“Kami melihat, sasarannya lebih ke arah family. Untuk anak-anak muda ke hotel kayaknya tidak terlalu banyak. Keluarga lebih memilih melakukan staycation di hotel karena anak-anaknya bisa beraktivitas dan bermain seperti berenang dan having fun,” kata Anton mengutip ANTARA.
Selain menghabiskan waktu bersama keluarga, staycation dilakukan karena mereka ingin menikmati fasilitas hotel yang nyaman. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Anton berpendapat masyarakata mulai memilih downtown hotel. Buat kamu yang belum tahu, downtown hotel adalah jenis hotel yang justru berlokasi di pusat keramaian, yakni kawasan perdagangan dan perbelanjaan.
Baca juga:
“Untuk hotel yang diminati saat staycation, memang tergantung tempatnya. Kalau di kota besar seperti Jakarta, mereka lebih memilih menginap di downtown hotel di tengah kota, tempat yang nyaman utuk family. Apalagi sekarang hotel bintang empat ke atas tidak terlalu mahal dengan adanya berbagai promosi,” ujar Anton.
Melanjutkan di atas, potensi masyarakat melakukan staycation di libur panjang kali ini cukup tinggi dan cenderung akan mengalami lonjakan.
“Lonjakan staycation secara general pasti ada. Semua memilih liburan terbatas di sekitar, mengingat untuk bepergian ke luar negeri memiliki berbagai kebijakan seperti keharusan untuk karantina. Sehingga, masyarakat memilih untuk melakukan staycation di sekitar tempat mereka,” tuturnya.
Selain momen liburan pekan kemarin, staycation tampaknya akan dijadikan pilihan sebagai pengganti larangan mudik dari pemerintah. Dengan adanya vaksinasi bisa jadi memengaruhi keberanian masyarakat untuk staycation di tempat pilihan mereka.
Baca juga:
“Mungkin kondisi yang lebih baik kalau bicara staycation, mungkin ada sedikit peningkatan dibandingkan tahun lalu,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani mengutip ANTARA.
Larangan mudik tahun ini akan membuat kondisi sama seperti libur lebaran tahun lalu. Ekspektasi daerah-daerah yang biasa menjadi daerah tujuan wisata untuk mendapat pemasukan akhirnya tidak terpenuh karena sumber pemasukan mereka berkurang. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Whoosh Jadi Incaran Turis Asing, Hampir 300 Ribu WNA Malaysia Datang Cuma Buat Naik
88 Ribu Penumpang Gunakan Kereta Api dari Daop 1 Jakarta Selama Libur Akhir Pekan Isra Mikraj, Yogyakarta Masuk Tujuan Tertinggi
Long Weekend Isra Mikraj, Jumlah Penumpang Kereta Cepat Whoosh Meningkat
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Daftar Tanggal dan Hari Libur di 2026, Catat Buat Bikin Agenda Liburan
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand