Semeru Hantam 204 Hektare Lahan Pertanian Warga, BNPB Ungkap Tiga Orang Luka Berat Terjebak Material Vulkanik
Warga mengabadikan luncuran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (19/11/2025). ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/YU
Merahputih.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak kerusakan yang signifikan pasca-erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Akibat bencana tersebut, tercatat tiga orang warga mengalami luka berat dan kerugian besar menimpa sektor pertanian dengan 204,63 hektare lahan pertanian rusak.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengonfirmasi bahwa ketiga warga yang terluka parah tersebut tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Haryoto Lumajang.
"Selain lahan pertanian seluas 204,63 hektare rusak, ada rumah rusak berat 21 unit, termasuk fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan gardu PLN masing-masing rusak berat satu unit," kata Abdul Muhari.
Baca juga:
Erupsi Gunung Semeru, BNPB Larang Warga Berwisata Melihat Letusan
Kondisi Korban, Pengungsi, dan Bantuan Logistik
Tiga desa dilaporkan paling parah terdampak material vulkanik Semeru, yakni Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Data terakhir yang dihimpun tim petugas gabungan hingga Minggu (23/11) menunjukkan sebanyak 528 orang warga menempati pengungsian yang tersebar di dua pos, yaitu SMP Negeri 02 Pronojiwo (307 jiwa) dan SDN 04 Supiturang (221 jiwa).
Meskipun berada di pengungsian, para warga dilaporkan tetap beraktivitas normal.
"Meskipun berada di pengungsian, mereka tetap beraktivitas, seperti membersihkan rumah mereka yang terdampak abu vulkanik maupun tetap bekerja," ucap Abdul Muhari.
Untuk meringankan beban korban, BNPB telah menyalurkan berbagai bantuan logistik dan kebutuhan kelompok. Bantuan ini mencakup 300 matras, 300 terpal, 300 selimut, 200 boks masker medis, 150 paket alat kebersihan, serta 1.000 makanan siap saji dan 200 paket sembako.
Penyerahan bantuan tersebut dilakukan bersama perwakilan Komisi VIII DPR RI, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang terdampak langsung maupun yang terpapar abu vulkanik di sekitar lokasi.
Penetapan Status Awas dan Tanggap Darurat
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, erupsi Gunung Semeru terjadi pada Rabu (19/11) pukul 16.00 WIB. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak dan menghembuskan awan panas sejauh tujuh kilometer ke arah utara dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram selama 16 menit 40 detik.
Baca juga:
Meski aktivitas erupsi dipastikan berakhir pada pukul 18.11 WIB, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang dan Badan Geologi masih menetapkan status Level IV atau Awas. Penetapan status ini menjadi dasar diberlakukannya Status Tanggap Darurat Bencana Alam hingga 26 November.
"Pemerintah daerah dan Badan Geologi masih menetapkan status Level IV atau Awas untuk mengantisipasi potensi aktivitas lanjutan yang mungkin terjadi," tegas Abdul Muhari.
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
Gerak Cepat Rehabilitasi Bencana Sumatra, Pemerintah Buka Posko Terpadu di Aceh Fokus Segerakan Pendirian Hunian Layak
Gunung Semeru Erupsi Sore Ini, Awan Panas Meluncur 5 Kilometer ke Arah Besuk Kobokan
[HOAKS atau FAKTA]: Peluk Anies, Beban Korban Bencana Alam di Aceh Tamiang Langsung Hilang
3 Kecamatan di Dompu NTB Dilanda Banjir, Tanggap Darurat Diberlakukan
5 Kecamatan di Aceh Timur Dilanda Banjir, Ketinggian Sampai Dada Orang Dewasa
1.178 Orang Tewas dan Ratusan Lainnya masih Hilang, Operasi Pencarian Korban Bencana Alam di Sumatra Diperpanjang
Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian Jadi Ketua
Pemerintah Anggarkan Rp 60 T untuk Darurat Bencana di 2026
Rehabilitasi Bencana di Aceh, Polri Baru Selesaikan Sumur Bor Air Bersih Setengah dari Target
147 Orang Masih Hilang, Kelanjutan Operasi SAR Korban Bencana Sumatera Dievaluasi Lusa