Sejak Awal Rezim Jokowi Tidak Pro Guru Honorer

Zulfikar SyZulfikar Sy - Jumat, 27 Maret 2020
Sejak Awal Rezim Jokowi Tidak Pro Guru Honorer

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/ama.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melakukan realokasi anggaran untuk menanggulangi pendemi COVID-19. Realokasi anggaran dengan total Rp405 miliar itu paling besar ditujukan untuk peningkatan kapasitas dan kapabilitas rumah sakit pendidikan.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun mengkritik realokasi anggaran Kemendikbud. Pasalnya, tidak ada pos bantuan subsidi untuk para guru honorer yang sangat terdampak oleh kebijakan peniadaan proses belajar mengajar selama wabah corona.

Baca Juga:

Pasien PDP Asal Sukoharjo yang Meninggal di RSUD Dr Moewardi Solo Positif COVID-19

"Rezim ini sejak awal tidak begitu pro pada guru honorer. Saya masih ingat betul ketika ribuan guru honorer demonstrasi di depan Istana dicuekin," kata pria yang karib disapa Ubed ini kepada merahputih.com, Jumat (27/3).

Menurut Ubed, kebijakan yang dikeluarkan Kemendikbud tersebut dibuat tanpa kalkulasi yang matang. Ia pun mengingatkan peran guru honorer sangat besar dalam proses belajar di sekolah.

"Mereka lupa bahwa proses belajar di sekolah saat ini akan pincang jika tidak ada guru honorer," ujar Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (CESPEL) ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. ANTARA/HO-Humas Kemendikbud/pri.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. ANTARA/HO-Humas Kemendikbud/pri.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian sebelumnya membenarkan rencana realokasi anggaran dari kementerian yang dipimpin Nadiem Makarim tersebut.

Menurut Hetifah, fokus APBN saat ini untuk pencegahan dan penganggulangan penyebaran COVID-19. Namun, Hetifah tak menyinggung soal pos bantuan subsidi untuk para guru honorer dalam realokasi anggaran tersebut.

Baca Juga:

KAI Setop 32 Perjalanan Kereta Api Lintas Selatan

Ubed juga mengkritik sikap Hetifah yang tidak memperhatikan nasib guru honorer. Sebagai wakil rakyat di komisi pendidikan, kata Ubed, Hetifah seharusnya lebih peka terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

"Eksekutif dan legislatif saat ini setali tiga uang, sama saja. Dari partai yang sama dan mayoritas DPR adalah mayoritas juga di kementrian. Jadi tidak aneh kalau DPR abai pada guru honorer," kata dia.

Oleh karena itu, Ubed menyarankan Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera mengambil opsi lockdown wilayah. Hal itu dilakukan agar biaya hidup guru honorer di tengah pandemi COVID-19 ditanggung oleh negara.

"Lockdown wilayah agar yang tidak punya uang di jamin negara. Itu diatur dalam UU No 6 tahun 2018," kata pendiri Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) ini. (Pon)

Baca Juga:

Bamsoet Minta Lockdown Mulai dari Jakarta

#Virus Corona
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Virus baru ini berasal dari subgenus merbecovirus, yang juga termasuk virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
Dwi Astarini - Jumat, 21 Februari 2025
 Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Bagikan