MerahPutih - Tokoh NU Nadirsyah Hosen mengatakan penanganan radikalisme yang mengancam kebhinekaan bangsa akan repot apabila kerkelindan dengan kepentingan politik.
"Bukannya bersikap tegas, tapi demi kepentingan politik lantas bersikap lembek, bahkan merangkul kelompok radikal," kata Nadirsyah Hosen dalam Ngobrol Bareng Merawat Keindonesiaan: Tolak Radikalisme, Lawan Terorisme di Kantor DPP PKB, Jakarta, Minggu (23/7) kemarin.
Nadir mengatakan jika bangsa Indonesia berkonsensus Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai harga mati maka hendaknya tak cuma sekadar menjadi jargon, sementara di di tataran praktik masih saja dipersoalkan.
Menurut dia, salah satu bentuk ketegasan yang diperlukan adalah tidak memberikan toleransi kepada kelompok yang ingin mengubah bentuk maupun ideologi yang telah disepakati para pendiri bangsa.
"Masak organisasi yang jelas-jelas anti-Pancasila diterima sebagai ormas," kata dosen Fakultas Hukum Universitas Monash Australia itu.
Terkait dengan Peraturan Pemerindah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas, Nadirsyah mengingatkan ormas-ormas yang ada di Tanah Air untuk tidak perlu khawatir sepanjang organisasinya tidak bertentangan dengan Pancasila.
"Jadi, jangan mau ditakut-takuti. Selama tidak bertentangan dengan Pancasila tidak akan menjadi sasaran perppu ini," kata dia.
Mantan teroris Kurniawan yang juga tampil sebagai pembicara mengakui kelompok radikal teroris memang tidak mengakui bentuk negara maupun pemerintahan di Indonesia.
"Kelompok radikal memang gampang mengkafirkan yang lain, mempertanyakan keislaman yang lain, menganggap negara dan aparatnya sebagai thaghut yang layak diperangi. Karena itulah aparat diserang," kata dia.
Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar mengatakan di era reformasi dan demokrasi yang memberikan kebebasan memang muncul lagi kelompok yang rindu pada ide negara agama. Konsensus yang telah disepakati melalui perdebatan panjang oleh pendiri bangsa kembali dipersoalkan.
"Demokrasi memunculkan kekuatan yang merongrong NKRI," kata Muhaimin Iskandar.
Oleh karena itu, lanjutnya, kebinekaan, keindonesiaan harus terus menerus dirawat hingga menjadi kekuatan untuk mencapai cita-cita bangsa.
"Zaman Orde Baru pun Pak Harto berusaha merawat kebinekaan, cuma dengan cara represif. Berhasil, tapi menghilangkan kekritisan. Tapi, benang merahnya adalah merawat kebinekaan dan persepsi yang sama atas keindonesiaan," kata dia. (*)
Sumber: ANTARA