MERAHPUTIH.COM - SUARA dentuman menghebohkan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung. Dentuman yang terdengar pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari itu diduga berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala PVMBG Kementerian ESDM Rita Susilawati mengatakan suara erupsi gunung api memang bisa terdengar sangat jauh. Energi akustik yang dilepaskan saat erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer.
"Ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," kata Rita dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui YouTube Badan Geologi, Sabtu (5/9).
Rita menyebut fenomena tersebut pernah terjadi saat erupsi Gunung Kelud pada 13 Februari 2014. Dentuman erupsi saat itu terdengar hingga Yogyakarta dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Menurutnya, erupsi eksplosif atau freatik memiliki potensi menghasilkan suara dentuman yang sangat kuat.
"Erupsi di Gunung Kelud saat itu kolomnya 17 kilometer sehingga melepaskan energi akustik yang sangat besar," ujarnya.
Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, BNPB Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada
Oleh karena itu, suara dari erupsi Anak Krakatau juga memungkinkan terdengar hingga wilayah yang berjarak ratusan kilometer. Namun, Rita menegaskan pihaknya belum bisa memastikan bahwa dentuman di Jawa Barat pada 4-5 September 2026 benar-benar berasal dari Anak Krakatau.
PVMBG masih mencocokkan data pemantauan untuk memastikan sumber suara dan getaran tersebut. "Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga suara yang tadi karena berhubungan dengan erupsi Anak Krakatau yang terjadi tadi malam. Dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan Gunung Api Anak Krakatau," kata Rita.
Ia menegaskan Anak Krakatau saat ini menjadi salah satu dugaan kuat sumber dentuman, tetapi belum menjadi kesimpulan final. Rita menjelaskan bahwa jarak rambatan suara tidak hanya ditentukan besarnya energi erupsi. Kondisi atmosfer turut memengaruhi bagaimana suara bergerak.
Perbedaan temperatur, arah angin, serta kecepatan angin dapat memengaruhi perambatan suara di atmosfer. Namun, Rita mengatakan kajian lebih rinci mengenai pengaruh faktor cuaca tersebut merupakan ranah institusi yang memiliki kewenangan di bidang meteorologi.
PVMBG kembali merujuk pada dua kejadian sebagai pembanding, yakni aktivitas Anak Krakatau pada 2020 dan erupsi Gunung Kelud pada 2014.
"Dengan mempertimbangkan kejadian Anak Krakatau tahun 2020 dan erupsi Kelud 2014, kami sekali lagi menduga memang mungkin erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah di Jawa Barat pada 4-5 September 2026," pungkasnya.(Pon)
Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Pandeglang Rasakan Getaran Hebat