MerahPutih.com - PSSI prihatin bek Timnas Indonesia, Justin Hubner menjadi sasaran serangan di media sosial, berupa ujaran kebencian hingga ancaman.
‘Serangan’ juga menyasar keluarganya, termasuk istri Hubner, Jennifer Coppen, serta putri kecil mereka.
PSSI menilai tindakan tersebut sudah berlebihan dan tidak semestinya dilakukan kepada pemain yang telah berjuang membela Timnas Indonesia.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengatakan Hubner merupakan pemain yang memiliki semangat dan jiwa patriotisme tinggi ketika memperkuat skuad Garuda.
Ya, jelas itu juga yang sangat memprihatinkan. Kita tahu juga Justin ini, Indonesia banget gitu bagi saya,
kata Yunus Nusi kepada awak media di Jakarta, Senin, 10 Agustus, dikutip dari Antara.
Baca juga:
Menurut Yunus, Hubner selalu menunjukkan perjuangan maksimal ketika berada di lapangan. Karena itu, ia menyayangkan masih ada pihak yang memberikan kritik dengan cara menyerang pemain hingga keluarganya.
"Coba lihat kalau main, dia hajar sana hajar sini dengan kemampuan dia. Tetapi sangat kita sayangkan ada, masih ada, masyarakat kita yang mencela sampai anak istrinya juga di-bully seperti itu," ujarnya.
PSSI Minta Pemain dan Keluarga Tak Jadi Sasaran
Yunus mempersilakan masyarakat menyampaikan kritik kepada PSSI. Namun, ia meminta kritik tidak diarahkan kepada pemain maupun pelatih yang telah berjuang membawa nama Indonesia di kancah internasional.
Ia menegaskan para pemain telah mengorbankan banyak hal demi Timnas Indonesia, termasuk mempertaruhkan kondisi fisik dan mengalami cedera saat bertanding. Karena itu, serangan dan ancaman, terlebih yang melibatkan keluarga, dinilai tidak dapat dibenarkan.
Terkait kemungkinan langkah hukum, PSSI masih memantau perkembangan serangan maupun kritik negatif yang diterima para pemain.
Baca juga:
PSSI juga mengimbau suporter untuk tetap memberikan dukungan kepada skuad Garuda, baik ketika menang maupun kalah. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga mental dan semangat pemain.
"Kami khawatir, ketika tekanan ini semakin kuat, maka mereka bisa saja, dengan berbagai macam alasan untuk tidak lagi membela negara," kata Yunus. (*)