Plombir, Pajak Tahunan Sepeda Onthel

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 30 Juni 2020
Plombir, Pajak Tahunan Sepeda Onthel

Dahulu, sepeda onthel dikenakan pajak. (Foto: Unsplash/Chris Barbalis)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SAAT masa kenormalan baru dimulai, muncul juga kebiasaan baru warga Indonesia. Bersepeda. Tidak sedikit yang rela membeli sepeda dengan harga fantastis demi gowes asyik. Entah karena mengikuti tren atau bagian dari hobi. Di balik itu semua, bersepeda memberi segudang manfaat kesehatan, terutama di tengah pandemi seperti saat ini.

Maraknya sepeda di jalanan memunculkan gagasan untuk mengenakan pajak pada sepeda. layaknya kendaraan bermotor. Kabar itu berembus kencang beberapa hari belakangan. Faktanya, mengutip Antara, informasi tersebut keliru.

BACA JUGA:

Jangan Ngaku Pencinta Binatang Jika Belum Lakukan Ini

Bantahan datang dari pihak Kementerian Perhubungan. Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati menegaskan pihaknya sedang menyiapkan regulasi untuk mendukung keselamatan para pesepeda. Keputusan itu diambil mengingat animo masyarakat yang sangat tinggi saat ini.

Namun, tahukah kamu, di zaman dulu pajak memang dikenakan untuk sepeda?

pajak sepeda
Pajak yang dikenakan tergantung dari harga sepeda. (Foto Unsplash Conor Luddy)

Dahulu, sepeda punya surat pajak bagi setiap pemiliknya. Jenis sepeda yang dikenai pajak ialah sepeda onthel. Siapa pun yang memilikinya wajib membayar pajak. Pajak itu sering disebut plombir.

Di era 80-an sampai 90-an mengoleksi peneng sepeda atau plombir menjadi kegiatan yang membawa kenangan. Plombir sudah dikeluarkan pemerintah sejak 1960-an.

Dalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), plombir diartikan sebagai materai dari timah dan digunakan sebagai tanda sudah membayar pajak kendaraan. Kendaaran di sini bukan kendaraan seperti mobil atau motor, melainkan andong, becak, dan sepeda. Sederhananya, plombir serupa dengan STNK yang berisi informasi mengenai kendaraan dan pajak. Jika STNK bisa ditaruh di dompet atau kantong, plombir justru ditempel pada badan sepeda.

Pemerintah mencetak lempengan logam yang diukir sesuai dengan logo pemerintah daerah masing-masing. Di era 1970-an, lempengan logam itu berubah menjadi stiker.

Besaran pajak yang dikenakan pun tergantung jenis sepedanya. Biasanya berkisar Rp50, Rp100, Rp200, Rp250, bahkan lebih tinggi. Semakin mahal harga sepeda, semakin mahal pula pajak yang harus dibayar. Misalnya untuk sepeda Phoenix, pajak yang harus dibayarkan bisa mencapai Rp500 per tahunnya. Sementara itu, sepeda onthel hanya dikenai Rp100 hingga Rp200 setiap tahunnya.

plombir
Plombir kini banyak dicari dan menjadi salah satu barang koleksi. (Foto Unsplash Jonny Kennaugh)

Pajak sebesar itu terasa berat bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Tidak jarang, petugas melakukan razia mendadak untuk memastikan pemilik sepeda sudah membayar pajak. Pemilik sepeda tanpa plombir akan disuruh membeli stiker dari petugas langsung di tempat. Bahkan, petugas tidak segan mencabut pentil sepeda jika mereka tidak memiliki uang.

Agar terbebas, pemilik sepeda di zaman itu punya cara unik mengakali para petugas. Mereka akan patungan membayar pajak. Satu stiker disobek jadi dua lalu ditempelkan di sepeda masing-masing. Ketika razia, mereka mengatakan, 'separuhnya sudah mengelupas'. Para petugas pun tidak bisa membuktikan kebenarannya dan mereka akhirnya lolos.

Sejak era 90-an, plombir sudah mulai tidak digunakan lagi. Kini, plombir menjadi salah satu barang yang dicari untuk dikoleksi atau bahkan sengaja ditempel di sepeda.(and)

BACA JUGA:

Lewat Film Terakhirnya, Animasi 'We Bare Bears' Pamit Undur Diri

#Sepeda
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Kondisi Pembatas Jalur Sepeda Warisan Anies di Jalan Palmerah Timur Rusak dan Tak Terawat
Sejumlah kendaraaan melintas dekat separator pembatas jalur sepeda di Jalan Palmerah Timur, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026).
Didik Setiawan - Senin, 20 April 2026
Kondisi Pembatas Jalur Sepeda Warisan Anies di Jalan Palmerah Timur Rusak dan Tak Terawat
Berita Foto
SEA Games 2025 Thailand: Aksi Sepeda Downhill Putri Indonesia Raih Medali Perak
Atlet sepeda downhill putri Indonesia Riska Amelia Agustina saat bertanding di Khao Kheow Open Zoo Bang Phra, Si Racha, Chon Buri, Thailand, Rabu (10/12/2025).
Didik Setiawan - Rabu, 10 Desember 2025
SEA Games 2025 Thailand: Aksi Sepeda Downhill Putri Indonesia Raih Medali Perak
Berita Foto
SEA Games 2025 Thailand: Aksi Sepeda Downhill Putra Indonesia Raih Medali Perak
Atlet sepeda downhill putra Indonesia Rendy Varera Sanjaya memacu sepedanya saat bertanding pada nomor downhill putra di Thailand, Rabu (10/12/2025).
Didik Setiawan - Rabu, 10 Desember 2025
SEA Games 2025 Thailand: Aksi Sepeda Downhill Putra Indonesia Raih Medali Perak
Indonesia
Puluhan Pesepeda Usia 60 Tahun ke Atas Ikut Gowes dari Jakarta ke IKN
Gowes sepeda ini digelar dengan rute Jakarta - Cirebon - Semarang - Tuban - Surabaya - Banjarmasin - Penajam- Balikpapan - IKN sepanjang 1.500 kilometer.
Dwi Astarini - Kamis, 13 November 2025
Puluhan Pesepeda Usia 60 Tahun ke Atas Ikut Gowes dari Jakarta ke IKN
Berita Foto
Pemprov DKI Jakarta akan Bangun Jalur Sepeda Tambahan Sepanjang 3,8 Km dengan Konsep Complete Street
Pedagang cilok melintas di jalur sepeda Kawasan Jalan Tentara Pelajar, Palmeran, Jakarta, Selasa (6/5/2025).
Didik Setiawan - Selasa, 06 Mei 2025
Pemprov DKI Jakarta akan Bangun Jalur Sepeda Tambahan Sepanjang 3,8 Km dengan Konsep Complete Street
Indonesia
Dishub DKI Targetkan Pemeliharaan Jalur Sepeda Usai Lampaui Target 2025
Target panjang jalur sepeda hingga 2025 sebesar 250 km telah terlampaui dengan realisasi 314 km
Angga Yudha Pratama - Senin, 28 April 2025
Dishub DKI Targetkan Pemeliharaan Jalur Sepeda Usai Lampaui Target 2025
Indonesia
Dishub DKI Jakarta Bangun 3,8 Km Jalur Sepeda Baru Tahun Ini, Fokus pada Keamanan dan Kenyamanan Pesepeda
Selain pembangunan fisik, Dishub Jakarta juga berkolaborasi dengan berbagai instansi pemerintah dan organisasi non-pemerintah (NGO)
Angga Yudha Pratama - Senin, 28 April 2025
Dishub DKI Jakarta Bangun 3,8 Km Jalur Sepeda Baru Tahun Ini, Fokus pada Keamanan dan Kenyamanan Pesepeda
Indonesia
MRT Jakarta Bantu Pelanggan yang Kehilangan Sepeda Lapor ke Polsek Setiabudi
MRT Jakarta bantu pelanggan yang kehilangan sepeda lapor ke Polsek Setiabudi. Lalu, menyerakhkan rekaman CCTV atas kejadian pencurian itu.
Soffi Amira - Kamis, 17 April 2025
MRT Jakarta Bantu Pelanggan yang Kehilangan Sepeda Lapor ke Polsek Setiabudi
Indonesia
Viral Sepeda Rp 3,3 Juta Hilang Dicuri di Parkiran MRT Setiabudi, Polisi Cek TKP
Sepeda berwarna biru itu sebelum hilang sudah dalam kondisi terkunci rantai yang berkode saat diparkir
Wisnu Cipto - Rabu, 16 April 2025
 Viral Sepeda Rp 3,3 Juta Hilang Dicuri di Parkiran MRT Setiabudi, Polisi Cek TKP
Berita Foto
Pilkada DKI Jakarta: Program Fasilitas Non Jalur bagi Pengguna Sepeda Komuter
Suasana jalur sepeda dengan separator di Kawasan Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat, Senin (14/10/2024).
Didik Setiawan - Senin, 14 Oktober 2024
Pilkada DKI Jakarta: Program Fasilitas Non Jalur bagi Pengguna Sepeda Komuter
Bagikan