MerahPutih.com - Rollink Action memulai debutnya lewat film horor Aku Harus Mati yang dijadwalkan tayang pada April 2026. Tak sekadar menghadirkan teror, film ini juga menyelipkan kritik sosial tentang kebiasaan berutang yang kian dinormalisasi.
Sutradara Hestu Saputra menyebut, film ini lahir dari keresahan terhadap maraknya praktik pinjaman online (pinjol) yang kini seolah menjadi hal biasa di media sosial.
“Di sosial media itu hampir kita melihat itu jadi hal yang biasa. Itu kemudian menjadi PR kita bersama untuk tidak ikut menormalisasikan itu, baik sebagai korban ataupun sistem besar di baliknya. Sebenarnya keresahan-keresahan ini yang menjadi motivasi kuat kami,” kata Hestu, dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Kamis (27/3).
Baca juga:
Haus Validasi Berujung Petaka, Sinopsis Film Horor Aku Harus Mati Tayang 2 April
Lewat Aku Harus Mati, Hestu mencoba menggambarkan gejolak psikologis yang dialami para korban pinjol, mulai dari rasa cemas, terganggunya aktivitas sehari-hari, hingga beban emosional yang tak kunjung usai.
Pesugihan Zaman Modern
Dalam sudut pandang yang lebih dalam, praktik pinjaman online digambarkan sebagai wajah baru dari pesugihan di era modern. Jika dahulu pesugihan identik dengan tumbal, kini “tumbal” itu menjelma menjadi hilangnya ketenangan, kenyamanan, bahkan kewarasan.
Gagasan tersebut tercermin dalam karakter utama, Mala, sosok yang terobsesi pada validasi dan pengakuan sosial. Ia rela menjalani gaya hidup mewah demi terlihat “bernilai” di mata orang lain, tanpa menyadari konsekuensi yang perlahan menghancurkan dirinya.
Di balik itu, kegelisahan Mala juga berakar dari trauma masa lalu. Kehilangan anggota keluarga akibat praktik pesugihan membuatnya tumbuh tanpa rasa aman dan validasi yang utuh.
Baca juga:
Keluarga Meninggal Terlilit Pinjol di Ciputat, Ternyata Ayah Gantung Diri Setelah Bunuh Anak-Istri
Edukasi di Balik Teror
Sementara itu, Eksekutif Produser Aku Harus Mati, Irsan Yapto, mengungkapkan isu yang diangkat dalam film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama fenomena flexing di media sosial yang kerap mendorong seseorang melampaui batas kewajaran demi validasi.
“Saya melihat banyak relatenya di dunia maya. Tentang sampai sejauh mana seseorang merasa wajib memenuhi ekspektasi validasi itu, bahkan sampai melanggar prinsipnya sendiri,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Aku Harus Mati tak hanya menawarkan kengerian, tetapi juga menjadi refleksi tentang tekanan sosial, gaya hidup semu, dan konsekuensi dari keputusan finansial yang keliru. (Tka)