Perusahaan Teknologi Finansial Raih Pendanaan Rp100 Miliar untuk Pendidikan Indonesia
Demi meningkatkan ekosistem pendidikan di Indonesia. (Foto: Unsplash/Pang Yuhao)
PUTARAN pendanaan Seri A senilai USD7 juta atau sekitar Rp100 miliar telah diterima oleh perusahaan teknologi finansial, Pintek, melalui Socap Holding Pte. Ltd. Dengan demikian, total dana yang terkumpul sebesar USD 35 juta atau sekitar Rp 500 miliar, dan akan digunakan untuk meningkatkan akses pendidikan serta mata pencaharian bagi UMKM di Indonesia.
Dana yang masuk menjadi langkah baru untuk memaksimalkan kontribusinya terhadap ekosistem pendidikan di Indonesia dengan merekrut talenta baru. Investor baru yang masuk pada putaran ini adalah Kaizenvest, Heritas Capital, Blue7 dan Earlsfield Capital. Sedangkan untuk investor sebelumnya yaitu Finch Capital, Global Founder Capital (GFC), Accion Venture Lab, Strive and Fox Ventures juga bergabung dalam putaran ini.
Baca juga:
Pintek Gandeng Google for Education dan Partners Google for Education Indonesia
“Kami ingin terus memaksimalkan peran dalam mendukung sektor pendidikan di Indonesia. Kami ingin menjadi salah satu pendorong untuk mempercepat penetrasi teknologi pendidikan dan produk layanan keuangan yang inklusif dan berkualitas tinggi di Indonesia,” kata Ioann Fainsilber, Socap Holding Pte. Ltd. CEO & Pintek Co-Founder.
Sejak didirikan pada 2018, Pintek dan afiliasinya mendukung lebih dari 2.750 institusi pendidikan dan 100 UKM pendidikan untuk menjangkau lebih dari 650.000 siswa di 29 provinsi di Indonesia. Mereka juga menargetkan untuk berkontribusi pada 10 juta pelanggan di ekosistem dalam lima tahun ke depan.
“Kami melihat adanya peningkatan permintaan di sektor pendidikan dan ingin mendorong aksesibilitas layanan keuangan di Indonesia dengan melayani seluruh ekosistem,” kata Tommy Yuwono, Co-Founder dan Direktur Utama Pintek.
Menurut Tommy, fokus dana yang didapatkan akan digunakan untuk pengembangan bisnis, meningkatkan layanan, dan mengembangkan produk.
Baca juga:
Pandemi COVID-19 saat ini mempengaruhi infrastruktur pendidikan dan sangat membatasi akses pendidikan di Indonesia. Lebih dari 68 juta siswa harus belajar dari rumah, dan lebih dari 642.000 institusi pendidikan terkena dampak operasionalnya.
Sulitnya transisi lembaga pendidikan ke pembelajaran online dan kurangnya digitalisasi, menjadi tantangan signifikan yang memengaruhi kegiatan belajar mengajar.
“Melalui kerja sama ini, kami berupaya memberikan layanan keuangan terbaik untuk pendidikan dan seluruh ekosistemnya,” tutup Ioann Fainsilber. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Redmi Buds 8 Lite dan Mijia Smart Audio Glasses Bakal Hadir di Indonesia Bersamaan dengan Peluncuran Redmi Note 15 Series
Tutorial Mudah Bikin Tren Photomontage Feed Sosmed Ala 'Zootopia 2' Pakai OPPO Reno 15 Series
OPPO Reno 15 Series Usung Desain 'Dancing Aurora', Terinspirasi dari Fenomena Alam Langka
OPPO Reno 15 Perkenalkan Fitur AI Flash Photography 2.0, Selfie Minim Cahaya Jadi Lebih Maksimal!
POCO X8 Pro Max Muncul di Sertifikasi BIS, Sudah Siap Meluncur Global?
Vivo X300 Ultra Siap Masuk Indonesia, Sudah Kantongi Sertifikasi TKDN!
Simak Nih! Cara Pakai StandBy Mode iPhone iOS 17: Tips dan Kustomisasi
Desain Layar iPhone 18 Mulai Terungkap, Model Pro Alami Perubahan Besar
Apple Makin Dekat Rilis iPhone Lipat, Dikabarkan Meluncur September 2026
Xiaomi 17 Max Bakal Bawa Baterai 8.000mAh, ini Spesifikasi Lengkapnya