Perusahaan Rekaman Gandeng Kreator Film Lokal Berkarya di Platform OTT
popularitas OTT meningkat pesat setelah pandemi COVID-19 memasuki tahun ketiga. (Foto: Unsplash/Jakob Owens)
MINAT masyarakat Indonesia terhadap konten film dan series yang tayang eksklusif di platform Over The Top (OTT) kian bertumbuh. Berdasarkan riset Future of TV dari The Trade Desk (TTD), popularitas OTT meningkat pesat setelah pandemi COVID-19 memasuki tahun ke tiga.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa satu dari tiga orang Indonesia menonton konten OTT dan mereka menonton setidaknya 3,5 miliar jam konten setiap bulannya. Bahkan, Indonesia kini memimpin posisi konsumsi OTT terbanyak di Asia Tenggara.
Tren tersebut telah lama diperhatikan oleh perusahaan label rekaman Trinity Optima Production (TOP). TOP juga membuka kesempatan pada kreator film lokal dan Production House kecil-menengah sebagai mitra produksi konten, sebelum dipasarkan lewat OTT rekanan Trinity.
"OTT saat ini membutuhkan pasokan karya-karya lokal yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan penonton mereka. Di sisi lain, banyak kreator film dan serial yang ingin menjual karyanya ke OTT namun terkendala biaya produksi, promosi, sponsor, dan lainnya," kata CEO Trinitiy Optima Production Yonathan Nugroho, dalam siaran pers yang diterima Merahputih.com, Jumat (12/8).
Baca juga:
Setia Band Rilis Single Terakhir bersama Trinity Optima Production
"Di satu sisi, kehadiran OTT sangat diminati karena konten film dan serialnya punya daya tarik tinggi di masyarakat. Cerita yang berkualitas, pemeran yang cakap dan strategi marketing yang tepat jadi kewajiban untuk suksesnya sebuah konten," lanjutnya.
Langkah awal TOP di platform OTT berawal sejak 2019 melalui serial Cerita Dokter Cinta yang tayang di Maxstream. Seiring berjalannya waktu, pihaknya pun memutuskan untuk bersama-sama dengan konten kreator melakukan kolaborasi yang lebih menyentuh.
"Dalam proses produksi film atau serial, kita tidak hanya membutuhkan dana tetapi juga end to end proses produksi sampai selesai, termasuk dalam hal marketing dan promosi, harus dibuatkan strategi agar karya dapat diterima oleh pasar," kata Yonathan.
Bagi kreator film dengan budget produksi terbatas, kemitraan dengan TOP dapat membantu mereka mengelola cashflow agar proses produksi berjalan lancar.
Baca juga:
Talenta Muda Indonesia Unjuk Gigi di Konser 'Hari Ini Indah'
Menurut Yonathan, bisnis ini mengalami pertumbuhan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Pertumbuhan revenue tahun ke tahun bisa mencapai 20 persen setiap tahunnya. Tentunya ini menjadi salah satu new revenue generator yang baik ke depannya.
"Yang kami kejar tidak semata profitnya, tetapi juga peningkatan nilai kreator film lokal di mata publik," tuturnya.
Beberapa karya lain yang didukung oleh TOP, antara lain Cerita Dokter Cinta (2019), Journal of Terror: Afterlife (2020), Vidi-O-Call (2020), Kau & Dia Season 1 (2021), hingga E-Sport Legend: Push It Down (2022). (and)
Baca juga:
Peran Penting Label Rekaman dalam Berkarier di Industri Musik
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
OPPO Reno 15 Hadir dengan Sentuhan Baru, Bakal Punya Varian Warna Starry Pink
Vivo X300 Ultra Sudah Dapat Sertifikasi EEC, Sinyal Peluncuran Makin Dekat?
Xiaomi 17 Ultra Sudah Raih Sertifikasi Global, Siap Meluncur Lewat Baterai 6.000mAh
Rilis Sebentar Lagi, Spesifikasi OPPO Reno 15, Reno 15 Pro, dan Reno 15 Pro Mini Terungkap
OPPO Find X9 Ultra Dipastikan Bawa Kamera Ganda 200MP, Meluncur Tahun Depan!
Apple Mulai Bingung, Terpaksa Minta Samsung Jadi Pemasok Memori iPhone 18
Bikin Penggemar Kecewa, Samsung Galaxy S26 Edge Batal Meluncur
OPPO Reno 15 Series Segera Meluncur di Indonesia, Berikut Spesifikasi Lengkapnya
Bocoran Samsung Galaxy Z Fold 7 2026, Desainnya Mirip iPhone Fold
Meluncur 25 Desember, Xiaomi 17 Ultra Dipastikan Bawa Kamera Telefoto Periskop 200MP