Perjuangan Anak Muda Menggantikan Peran Ayahnya Menghidupi Keluarga Lewat Musik
Peran ayah tak mudah dalam menghidupi keluarga. (Unsplash-Ante Hamersmit
KRISTO baru menyadari betapa tak mudah mengisi peran ayahnya. Ia akhirnya memahami kesulitan tersebut setelah bertukar posisi menjadi tulang punggung selepas ayahnya mendiang. Pemuda berusia dua puluh tahun tersebut sempat gamang terhadap kemampuannya, serta peran dan tanggung jawab baru.
Baca Juga:
Starter Pack Pemain E-Sport Paling Standard Biar Gaming Tetap Gahar!
Ia merasa belum cukup bekal karena kemampuannya hanya bermain musik. Jika selagi masih ada ayahnya, Kristo menjadikan musik sebagai hobi. Namun, kini ia tak lagi jadikan musik sebagai ajang bergaya di depan teman-temannya, melainkan juga sebagai mata pencahariannya. “Kalau orang belum tau aku, pasti bilang ‘wah enak kerja dari hobi.’ Tapi tetap saja hobiku ini belum terlalu menghasilkan,” jelasnya.
Gajinya sebagai seorang guru musik honorer di salah satu sekolah swasta di dekat rumahnya, belum bisa terlalu meringankan biaya sekolah kedua adiknya. Adik perempuannya kini duduk di bangku SMP, sedangkan adik bungsunya saat ini baru duduk di bangsu Sekolah Dasar (SD).
Demi menambah penghasilannya, Kristo bekali-kali menawarkan diri untuk menjadi pemain musik di gereja tak jauh dari rumahnya. Maklum, grup koornya sering memberi sedikit tambahan bagi para pemain. Hal tersebut bukan kali pertama Kristo bermain di gereja. Sebelum sang ayah meninggal dunia, hampir setiap minggunya Kristo dan sang ayah melengkapi formasi dari tim paduan suara gereja. Denting piano dimainkannya, mengikuti tempo dari tangan sang ayah nan bertugas sebagai dirigen.
“Kalau soal musik, ayah itu keras. Tangan ku sudah beberapa kali luka karena dipukul, soalnya tangan ku suka salah pas main piano,” ujar Kristo sambil menunjukkan beberapa luka di beberapa jari tangannya. Sambil menghela napas, Kristo kembali mengingat kenangannya beroleh disiplin cukup keras dari ayahnya. Mungkin saat itu, lanjutnya, air mata jatuh karena rasa takut akan sang ayah, namun sekarang air matanya jatuh karena rasa rindu tak terbendung dengan sang ayah.
“Kau berikan aku semua yang terindah, aku hanya memanggilmu ayah di saat ku kehilangan arah. Aku hanya mengingatmu ayah, jika aku tlah jauh darimu,” suara Kristo terdengar bergetar setelah menyanyikan dua bait lagu selalu mengingatkannya kepada sang ayah.
Tak kuat rasanya jika harus menyanyikan keseluruhan lagu milik band Seventeen tersebut. Rasa bencinya kepada sang ayah karena sikapnya terlalu keras saat mendidiknya, kini menjadi salah satu hal paling dirindukan dan berharga dalam hidupnya. Mungkin kini, Kristo tak dapat bertahan hidup jika bukan karena sikap keras sang ayah.
Baca Juga:
Sekarang, Kristo bertanggungjawab mulai dari memberikan uang saku, hingga membayar uang sekolah kedua adiknya. Di tengah keadaan ekonomi terbatas, Kristo tentunya harus menentukan prioritas dalam hidupnya. Pendidikan adik-adiknya merupakan hal utama, oleh karena itu, Kristo harus merelakan kesempatan untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi. “Sebenarnya waktu ambil jurusan Ekonomi juga bukan kemauan aku sih, waktu itu aku pilih paling murah di kampusku aja,” jelasnya.
Kristo besar bersama musik. Berbeda dengan teman-teman sebayanya biasa memainkan mainan mobil-mobilan, Kristo lebih memilih memainkan piano di ruang tamu rumahnya. Walaupun rumahnya terbilang kecil, piano tentunya menjadi salah satu hal wajib di rumahnya.
Berbekal kemampuan bermain piano sejak kecil bersama ayahnya, membuatnya jadi lebih siap menghadapi anak-anak murid sekolah dasar diajarnya. Sekolah tempatnya mengajar, merupakan sekolahnya menimba ilmu pada 2006-2012. (Cit)
Baca Juga:
Raju, Pemuda NTT Berprestasi di PON Papua Bermodalkan Uang Pribadi
Bagikan
Yudi Anugrah Nugroho
Berita Terkait
Lirik Lagu “Aduhai” Ciptaan Rhoma Aroma, yang Diaransemen Fira Cantika dan Irwan Krisdiyanto Jadi Lebih Segar dan Berwarna
Mahalini Hadirkan Karya Terbaru ‘Bermimpi’, Simak Lirik Lagunya
Cody Jon Angkat Luka Usai Patah Hati dalam Lagu 'Keyring', Simak Lirik Lagunya
Ariana Grande Hidupkan Karakter Glinda di Film 'Wicked: For Good' lewat Lagu 'The Girl in the Bubble'
The Flowers Hadirkan Nuansa Berbeda Lewat Single 'Luka Yang Manis'
Five Finger Death Punch Rayakan 20 Tahun dengan Album 'Best Of – Volume 2'
Sunwich Kembali ke Jepang, Masuk Lineup Festival BiKN Shibuya 2025
Menuju Album 'Sandbox', The All-American Rejects Rilis Single 'Get This' di Penghujung 2025
Coldiac Rilis EP Loving You Like This, Hadirkan Ulang 4 Lagu Cinta Klasik Indonesia
Menutup 2025 dengan Lelah? Tama Yuri Hadirkan Lagu 'Hari yang Berat' sebagai Penguat