Rumah Tua Rilis Album Debut “Merayakan Hari Akhir”, Merangkai Kisah Kelahiran hingga Perlawanan
Rumah Tua lepas album perdana. (foto: dok/rumah tua)
MerahPutih.com - Rumah Tua resmi memperkenalkan album penuh debut mereka bertajuk “Merayakan Hari Akhir”. Album ini berisi delapan lagu yang disusun dengan alur naratif berkesinambungan, menghadirkan sebuah perjalanan emosional yang dimulai dari fase kelahiran, berlanjut pada kegelisahan hidup sehari-hari, hingga berujung pada pernyataan sikap yang tegas tentang makna perlawanan.
Lewat rilisan ini, Rumah Tua menampilkan kemampuannya meramu pengalaman personal dan keseharian menjadi sebuah kisah musikal yang solid, terarah, dan konseptual.
“Album ini kami susun seperti perjalanan yang kami alami sendiri. Dimulai dari kelahiran, kegelisahan sehari-hari, sampai akhirnya tiba di titik di mana kami merasa harus mengambil sikap dan melawan.” ucap Dwiky, drummer Rumah Tua.
Album ini dibuka dengan lagu “Kata Pengantar”, yang berfungsi sebagai gerbang awal menuju keseluruhan cerita. Nomor pembuka tersebut memperkenalkan atmosfer awal album: sebuah ruang kelahiran yang jauh dari kesan steril, dipenuhi hiruk-pikuk batin, keresahan, serta pencarian arah yang belum menemukan kepastian.
Baca juga:
Baru 3 Bulan Usai Album 'KARMA', Stray Kids Pecahkan Rekor Lewat ‘DO IT’
Selanjutnya, trek “Perjamuan” memperluas lanskap narasi dengan menghadirkan konsep rumah pertemuan sebagai simbol. Lagu ini menggambarkan sebuah ruang terbuka tempat siapa pun bisa hadir, duduk bersama, dan ikut terlibat dalam perjalanan yang tengah berlangsung.
Ide jamuan di sini dimaknai sebagai ruang berbagi, mendengar satu sama lain, serta menyusun ulang energi sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Memasuki bagian tengah album, konflik mulai dipadatkan melalui lagu-lagu seperti “Korban”, “Lara Membara”, dan “Satu Api”. Ketiga trek ini menyoroti tarik-menarik antara kerapuhan dan keteguhan, antara menerima luka dan memilih untuk terus bergerak maju.
Dengan pendekatan musikal Rock & Soul yang menjadi ciri mereka, Rumah Tua membangun emosi yang kian menguat dari satu lagu ke lagu berikutnya.
Intensitas tersebut kemudian berlanjut dalam “Setapak Kematian” dan “Tanya Tanda?”, dua lagu yang mendorong pendengar untuk berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar arah hidup dan batas keberanian.
Keduanya berfungsi sebagai ruang jeda reflektif, mengajak untuk menengok kembali beban dan makna yang telah dikumpulkan sepanjang perjalanan album.
Sebagai penutup, lagu “krsst” hadir sebagai puncak yang menegaskan pesan utama “Merayakan Hari Akhir”: kekalahan tidak pernah benar-benar menjadi akhir, melainkan titik awal yang selalu terbuka bagi siapa saja.
Lagu ini menafsirkan ulang konsep kalah sebagai bagian dari ambisi dan proses, sebuah kondisi yang justru mampu menyalakan kembali semangat untuk melawan.
Penutup tersebut meninggalkan kesan bahwa perlawanan bukan milik satu suara semata, melainkan dapat diteruskan oleh siapa pun yang bersedia mendengarkan dan bergerak. (far)
Bagikan
Berita Terkait
Rumah Tua Rilis Album Debut “Merayakan Hari Akhir”, Merangkai Kisah Kelahiran hingga Perlawanan
Oel Pluto Perkenalkan “Disco Asoy” Lewat Single Terbaru “Jeany”
BoA Cabut dari SM Entertainment, Akhir Karier atau Permulaan Era Baru?
BTS Umumkan Album Terbaru ‘ARIRANG’, akan Dirilis dalam 16 Versi
ARMY Bersiap! Jadwal BTS World Tour Jakarta 2026 dan Bocoran Harga Tiket
Lirik Lagu 'Big Girls Don’t Cry' dari ENHYPEN, Bawa Pesan Emosional soal Perempuan
Jeff Satur Rilis 'Passion Fruit', Lagu tentang Cinta Manis yang Tak Lagi Sama
ENHYPEN Wujudkan Konsep Vampir, Kumpulkan Darah Bersama Palang Merah Korea
Lirik Lagu 'Semua Aku Dirayakan' dari Nadin Amizah, Ada Makna Mendalam di Baliknya
Single 'Gut Punch' Isyaratkan Album Baru Nick Jonas di 2026