Pengalaman Pilu Iga Massardi Sebelum Sukses Bersama Barasuara
Iga Massardi jatuh bangun membesarkan Barasuara (Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)
BARASUARA saat ini tengah melambung tinggi dan tentunya menjadi idola para anak muda. Betapa tidak, lantaran karya-karyanya yang fenomenal, Barsuara berhasil memikat hati para pecinta musik di tanah air.
Sebut saja beberapa lagu yang menjadi hit di Indonesia, antara lain yakni Bahas Bahasa, Sendu Melagu, Guna Manusia, Pikiran dan Perjalanan, serta masih banyak lagi yang lainnya.
Baca Juga:
Tampil dengan Kostum Karakter, Barasuara Hentak Synchronize Fest 2019
Tak ayal jika Barasuara saat ini kerap tampil di berbagai festival dan acara-acara musik besar di Indonesia. Apalagi grup yang digawangi oleh Iga Massardi, TJ Kusuma, Gerald Situmorang, Marco Steffiano, Asteriska dan Puti Chitara itu terus menelurkan karya-karya baru yang sangat keren. Pastinya membuat Barasuara kian dikenal publik tanah air maupun internasional.
Tentunya pencapaian itu bukan dalam semalam. Mereka mengerti betul arti kerja keras dan jatuh bangun untuk terus melangkah di dunia musik. Seperti yang diceritakan oleh Iga Massardi, vokalis sekaligus gitaris dari Barasuara, ia menyimpan banyak kenangan selama merintis kariernya.
Untuk bisa menjadi sukses seperti sekarang, Iga telah melewati banyak hal. Bahkan pernah dikeluarkan dari kampusnya. Selain itu Iga pun pernah dianggap pengamen oleh bapaknya sendiri, saat dirinya memilih jalur sebagai musisi. Hal itu terjadi tepat diawal karier, saat Iga manggung dari kafe ke kafe di Bekasi.
"Saat gue main top 40 itu, gue dikenalin di keluarga besar gue sebagai pengamen. Gue no offences yah terhadap pengamen, ini cuma bagaimana cara bokap gue menyampaikan pikirannya. Pada saat itu gue telan aja," kenang Iga Massardi.
Baca Juga:
Iga Barasuara Berencana Produksi Batik Sendiri
Ayah Iga Massardi sendiri merupakan seorang sastrawan kawakan, yakni Yudhistira ANM Massardi. Setelah Iga sempat dikenalkan sebagai pengamen, pilihan Iga Massardi untuk bermusik pun akhirnya mendapat pengakuan dari orang tuanya. Yakni ketika bandnya sukses menggelar konser.
"Di tahun 2009, gue bikin konser di Goethe Haus. Kapasitas 301 seat, sold out dalam waktu kurang dari seminggu," ujar Iga.
Konser di Goethe Haus itu pun lantas menjadi turning point bagi sang ayah. Dari situlah sang Ayah lambat laun mulai memperkenalkan Iga sebagai musisi pada keluarganya.
"Gue undang bokap gue lah di konser itu, keluarga kita semua datang. Ssai konser, bokap memeluk gue sambil haru. Pada saat itu gue bisa bangga. Dia ngomong ke pakde-pakde gue, ya ini sekarang band-nya The Trees and The Wild," tambahnya.
Iga Massardi boleh berbangga dengan pencapaiannya sebagai salah satu musisi Indonesia. Barasuara menjadi salah satu band yang diperhitungkan di industri musik tanah air. Bersama para personel Barasuara lainnya, Iga pun sukses membuat karya yang berkarakter, mengagumkan dan berani tampil beda. (ryn)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Featuz Rilis 'People Never Change', Lagu Reflektif tentang Cinta dan Perubahan
Elephant Kind Buka 2026 dengan 4 Lagu Baru, Arah Musikal Enerjik Menuju Album More Time
Musik Alternatif Penuh Refleksi, Larung Kembali dengan Single 'Menanam Racun'
NiMBY Hadirkan Lagu 'Ruang Untuk Pulang', tentang Kesehatan Mental dan Kesepian
Ruzan & Vita Visualisasikan Kisah Cinta 20 Tahun Lewat Video Musik 'Rayuanmu'
Album 'Awal Masa' Jadi Ruang Paling Personal Raissa Faranda lewat Proyek GUNGS
Palm Trees Rilis 'Gojod Bae', Lagu Kritik Sosial yang Ajak Generasi Muda untuk Bergerak
SANTASANTAP Rilis EP 'RUN', Catatan Refleksi Diri dalam Balutan Reggae Soul
'Favorite Dinner Guest': Album Debut Ricecooker tentang Cinta, Kesepian, dan Healing