Pemudi Jadi Anggota Mapala, Kenapa Tidak?

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Senin, 11 Oktober 2021
Pemudi Jadi Anggota Mapala, Kenapa Tidak?

Tak hanya pria, perempuan pun juga bisa jadi MAPALA. (Foto: unsplash/Tommy Lisbin)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DENGAN tali panjang yang mengingkar di pinggang dan tangan penuh tepung, satu demi satu Rere memijakan kaki di atas bebatuan tajam. Tingginya bukan main, pemilik darah rendah jangan coba-coba meniru Rere. Tak banyak orang yang dapat melakukan ini, namun Rere, Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA), mampu menangani Tebing Citatah 90 dan Tebing Ciampea.

Sejak kecil Rere suka diajak keluarganya untuk rekreasi ke alam. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia mulai menekuni kegiatan pramuka di sekolahnya. Saat aktif di pramuka, ia merasa kalau hubungan manusia dan alam berkesinambungan. Pada 2018, ia memasuki perguruan tinggi di kawasan Tangerang. Dikarenakan kecintaan Rere dengan alam masih berlanjut, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung di UKM MAPALA Universitas Multimedia Nusantara di tahun ajaran tahun kedua.

Baca Juga:

Si Jagoan Ghosting Bikin Hati Doi Terpotek-potek

Menurutnya, naik gunung, panjat tebing, susur goa atau kegiatan alam lainnya itu tidak mengenal gender. "Semua orang diperbolehkan untuk melakukan apa saja, selama hal tersebut positif. Jadi, biasanya kalo ada omongan jelek biasanya gak aku gubris juga, karena cuman buang-buang energi aja," ujarnya kepada merahputih.com.

Keluarganya sangat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh Rere. Ayah Rere pun turut senang karena akhirnya ia menemukan wadah yang sesuai dengan kesukaannya sedari kecil.

Rere tergabung di MAPALA kampusnya. (sumber: dok pribadi )

Di dalam UKM MAPALA, para peserta dibagi menjadi berbagai macam divisi, seperti divisi lingkungan hidup, divisi susur goa, dan panjat tebing. Rere memilih panjat tebing.

"Kalau gunung di luar MAPALA, aku udah ke Prau, Semeru, Merbabu, Sindoro. Tapi kalau selama gabung ke MAPALA, aku ke gunung Lawu, Tebing Citatah 90 sama Tebing Ciampea. Karena sehabis itu gak bisa kemana-mana juga karena pandemi," ujarnya.

Ia mengatakan sebelum pandemi, mereka sering menjelajah ke alam untuk mendaki, manjat, penelusuran, atau memiliki misi tertentu seperti membersihkan pantai, penyuaraan less waste di gunung, jadi tim relawan bencana, dan masih banyak lagi.

Namun, semenjak pandemi, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengadakan seminar online, diskusi bumi daring, ataupun mengadakan penggalangan dana untuk memberi bantuan bencana.

Di masa pandemi ini, juga menjadi tantangan terberat bagi MAPALA di seluruh tempat dan di kampus Rere. Pandemi membuat aktivitas mereka terhentikan. Apalagi mereka perlu pergi ke alam dan mempraktekkannya secara langsung. Sehingga, mereka mau tidak mau, harus beradaptasi dengan kegiatan yang dilakukan secara daring.

Baca Juga:

Starter Pack Pemain E-Sport Paling Standard Biar Gaming Tetap Gahar!

Bagi dirinya sendiri, tantangan menjadi anak panjat tebing di organisasinya itu adalah ia membutuhkan wall untuk berlatih. Namun, untuk latihan tanpa sarana dan prasarana yang diberikan kampus, hal ini akan memakan banyak biaya untuk sekali latihannya.

Selama bergabung di MAPALA, ia tidak merasakan adanya minoritas di dalam organisasi meski Rere merupakan seorang perempuan.

Rere ketika melakukan aktivitas panjat tebing. (Sumber: dok.pribadi)

"Untungnya kalau di MAPALA manapun punya dasar prinsip kekeluargaan ya. Jadi, satu sama lain, baik laki-laki atau perempuan ya semuanya saling menjaga, membantu, dan menghormati. Jadi semuanya setara," ujar pemudi berusia 21 tahun itu.

Dalam menjalani aktivitas kesukaannya ini, ia tidak mengalami rasa duka, ia selalu merasa senang dan semua anggotanya saling mendukung satu sama lain. Ia juga mengatakan merasa lebih berkembang dan setara, karena perempuan dan pria sekalipun bisa melakukan dan menjadi apa saja.

Saat ini, organisasi MAPALA yang ada di kampusnya ini terdiri dari 8 BPH (Badan Pengurus Harian). Tetapi, untuk keseluruhan anggotanya terdiri lebih dari 30 perempuan. Untuk dapat bergabung dengan organisasi ini, akan ada penyeleksian terlebih dulu.

Hal ini dikarenakan terjun ke alam membutuhkan banyak persiapan, seperti mental, kemampuan, dan keberanian. Selain itu, ada banyak peraturan yang harus dilakukan oleh para anggota. Dalam hal ini, Rere termasuk perempuan yang tangguh, berani, dan menyukai tantangan. Rasa kecintaannya pada alam sudah sangat dalam. (cil)

Baca Juga:

Raju, Pemuda NTT Berprestasi di PON Papua Bermodalkan Uang Pribadi

#Oktober Pemuda Jagoan Negeri Aing
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Bagikan