MERAHPUTIH.COM - PENGELOLAAN sampah elektronik melalui program E-Waste School Movement terus digencarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di sekolah-sekolah Ibu Kota. Ditargetkan, ada 9.000 sekolah yang menjalankan program pengelolaan sampah elektronik. SMA Negeri 68 Jakarta Pusat menjadi titik awal pelaksanaan program tersebut. Gerakan tersebut diawali dari sekolah Adiwiyata yang peduli terhadap lingkungan.
"SMA 68 dipilih untuk mewakili, tapi selanjutnya akan terus bergerak ke sekolah-sekolah yang lain. Ada 9.000-an sekolah di Jakarta yang terus untuk gerakan ini," kata Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data, dan Informasi Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, Elisabeth Tarigan, di SMA 68 Jakarta Pusat, Selasa (22/9).
Elisabeth mengatakan, program pengolaan sampah elektronik ini diharapkan mampu mengurangi beban di Ibu Kota. Pengelolaan sampah ini menjadi program prioritas Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
"Nah, diharapkan, dengan gerakan pengelolaan sampah ini, pengelolaan sampah elektronik ini, menjadi dukungan untuk mengurangi beban yang selama ini ada," tuturnya.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Pusat Bakwan Ferizan Ginting menyatakan gerakan ini sesuai dengan Instruksi Kadis Pendidikan Nomor 33 Tahun 2026 tentang Gerakan Pilih dan Olah Sampah.
Program ini didukung fasilitas seperti drop box e-waste di setiap sekolah dan pengangkutan sampah akan disesuaikan dengan kondisi setiap sekolah. "Di Dinas Pendidikan, ada lebih kurang sekitar 9.000 sekolah, baik negeri dan swasta, yang tentunya juga butuh kolaborasi daripada kita semua," tuturnya.
Baca juga:
Luncurkan Program Sayang Bumi, 50 SMA Jabodetabek Dilibatkan Kumpulkan 5 Sampah Elektronik
Founder EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah elektronik. Prinsip kerja sama diusung untuk mengelola sampah elektronik. "Kami bekerja sama, kita membangun ekosistem. Kami membuka dan berkolaborasi dengan semua orang. Ada yang pengelola bagian A, B, kami ajak kerja sama semuanya. Karena kami tahu masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri, tapi harus bersama-sama bareng-bareng dengan semua orang," ujar Rafa
Fokus utama tahun ini adalah edukasi sejak dini melalui kampanye pengelolaan sampah elektronik di lingkungan pendidikan. Rafa menyebut sebanyak 400 sekolah ditargetkan menjadi bagian dari program pengelolaan sampah elektronik ini.
Program yang dimulai dari Jakarta ini akan diperluas secara bertahap ke daerah lain yakni Yogyakarta, Bali, dan Bandung. Dukungan dari pemerintah daerah disebut menjadi faktor penting untuk mempercepat sosialisasi bahaya sampah elektronik jika tidak dikelola dengan benar.
Melalui pendekatan ekosistem ini, setiap pihak mulai dari pengumpul, pemilah, hingga pengelola komponen spesifik diajak untuk saling terhubung, sehingga sampah elektronik bisa memiliki nilai ekonomi sirkular sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
"Tapi itu kan juga program yang di Jakarta, nanti secara bersamaan kita pindah ke Yogya, ke Bali, ke Bandung, kita bersama-sama dengan pemerintah, dukungan pemerintah juga untuk melakukan program untuk kampanye mengenai sampah elektronik," jelasnya.(Asp)
Baca juga:
Tim Envision Racing Ciptakan Mobil Formula E dari Sampah Elektronik