Pemda Tak Diberi Ruang Atasi Corona, Pemerintah Pusat Dianggap Arogan dan Otoriter

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Sabtu, 14 Maret 2020
Pemda Tak Diberi Ruang Atasi Corona, Pemerintah Pusat Dianggap Arogan dan Otoriter

Warga berjalan dengan latar depan spanduk bertuliskan COVID-19 di Jalan Margonda, Depok, Jawa Barat, Kamis (12/3). ANTARA/Asprilla Dwi Adha/aww.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menilai pemerintah pusat terkesan menunjukkan arogansinya dalam penanganan virus corona. Pasalnya, mereka melarang pemerintah daerah untuk aktif berperan menangani wabah seperti melakukan uji spesimen.

Beberapa kepala daerah yang aktif berbicara ke publik soal penanganan corona antara lain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, hingga Gubernur Banten Wahidin Halim. Khusus Wahidin, ia menyampaikan dua warga Banten positif corona.

Baca Juga:

Bahaya Malware Saat Buka Peta Penyebaran Corona

Trubus menyebut peran pemda dalam menangani virus corona, sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

"Tapi pemerintah pusat dengan bahasa agak arogan melarang," kata Trubus kepada wartawan di Jakarta, Jumat (14/3).

Pemda yang dipimpin oleh kepala daerah memiliki tanggung jawab kepada masyarakat yang tinggal di wilayah yang mereka pimpin. Mengingat kepala daerah ini dipilih langsung oleh masyarakat.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: MP/Asropih)

Menurutnya, tak ada yang dilanggar oleh kepala daerah ketika aktif dan juga mengumumkan persebaran virus corona. "Menurut saya yang melanggar, enggak taat asas, enggak taat aturan itu pemerintah pusat sendiri," ujarnya.

Trubus mengatakan pemerintah daerah juga boleh ikut melakukan pemeriksaan terhadap pasien suspect virus corona. Menurutnya, langkah tersebut adalah bentuk kerja sama antara pusat dan daerah menangani virus yang sudah menjangkit 34 orang di Indonesia.

"Pemerintah tidak tunduk pada aturan itu sendiri. Jadi artinya payung hukum sudah ada, undang-undang sudah ada," tutur pengajar di Universitas Trisakti ini.

Baca Juga:

Anies Terus Koordinasi Pemerintah Pusat Terkait Skenario Terburuk Corona

Selama ini, ia menilai, terjadi ego sekotral di pemerintah pusat. "Jadi semuanya dikendalikan oleh pusat, daerah tidak boleh bicara. Padahal yang terjadi kan sebenarnya pusat sendiri koordinasinya sangat lemah, ujar Trubus

Trubus menyebut, data yang disampaikan pemerintah kan seperti fenomena “ gunung es”. "Gak tahu mana puncaknya dan dimana dasarnya," jelas dia. (Knu)

#Virus Corona #Pasien Corona #Penyakit Corona
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Virus baru ini berasal dari subgenus merbecovirus, yang juga termasuk virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
Dwi Astarini - Jumat, 21 Februari 2025
 Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Bagikan