Merahputih.com - Lembaga riset dan komunikasi iklim nirlaba, Climate Central, merilis kajian mencengangkan awal bulan ini. Berdasarkan analisis mendalam, pemanasan global akibat aktivitas manusia meningkatkan risiko cuaca panas mengganggu performa pemain pada 97 dari total 104 pertandingan Piala Dunia.
Baca juga:
Prancis Diprediksi Tumbang di Tangan Negara Ini, Peluang Juara Piala Dunia 2026 Hanya 21 Persen
Turnamen garapan tiga negara tuan rumah, Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat ini berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli. Ambang batas suhu melampaui 28°C menjadi momok menakutkan karena memicu penurunan frekuensi sprint serta memperlambat waktu pemulihan fisik atlet.
Bermain di suhu atas 28°C mengubah permainan - mempengaruhi taktik, tempo, dan kualitas secara keseluruhan,
Mike Tipton, profesor di University of Portsmouth sekaligus anggota tim analisis Climate Central.
Ancaman Nyata Fase Grup Jepang dan Spanyol
Tim nasional Jepang menghadapi rintangan super berat sepanjang laga penyisihan grup akibat paparan suhu tinggi.
Sementara itu, laga antara Uruguay melawan Spanyol tercatat mengalami lonjakan risiko cuaca panas paling signifikan akibat pergeseran iklim global.

Berikut rincian data peluang terjadinya panas ekstrem perusak performa selama pertandingan berlangsung:
-
Laga Jepang vs Belanda (Dallas, Texas): Memiliki risiko gangguan panas tertinggi mencapai angka 95 persen.
-
Laga Jepang vs Tunisia (Monterrey, Meksiko): Menghadapi ancaman suhu menyengat sebesar 79 persen pada 20 Juni.
-
Laga Jepang vs Swedia (Dallas, Texas): Mengalami lonjakan probabilitas cuaca panas ekstrem sebesar 98 persen pada 25 Juni.
-
Laga Uruguay vs Spanyol (Guadalajara, Meksiko): Mengalami kenaikan risiko sebesar 37 poin persentase hingga menyentuh angka 70 persen pada 26 Juni.
Kualitas Kompetisi Terancam Merosot
Kondisi ekstrem ini mengundang keprihatinan mendalam dari kalangan aktor lapangan hijau internasional. Gelombang panas bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa ribuan suporter serta kualitas tontonan sepak bola modern.
Baca juga:
Wasit Piala Dunia 2026 Asal Somalia Ditolak Masuk AS, FIFA Buka Suara
Pemain tim nasional Norwegia, Morten Thorsby, melayangkan kritik tajam terkait fenomena alam merugikan ini. Kenaikan suhu global terbukti merusak esensi keindahan olahraga sepak bola profesional.
“Ketika panas berdampak pada kemampuan sprint, pemulihan, dan intensitas secara keseluruhan, hal itu mengubah cara sepak bola dimainkan - dan perubahannya tidak ke arah lebih baik,” kata Thorsby.