Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Masyarakat Diminta Tak Menolak dan Khawatir dengan Jenazah Pasien COVID-19

Zulfikar SyZulfikar Sy - Minggu, 19 April 2020
Masyarakat Diminta Tak Menolak dan Khawatir dengan Jenazah Pasien COVID-19

Sopir ambulans dan petugas memakamkan jenazah COVID-19 beberapa waktu lalu. (ANTARA/HO-Humas Pemprov Jatim)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan, tidak ada alasan bagi masyarakat menolak penguburan jenazah dengan alasan medis atau pun agama.

Menurutnya, berdasarkan ketentuan yang dibuat dari organisasi kesehatan, agama, menyebutkan tidak ada penolakan penguburan jenazah.

Baca Juga:

Diminta Serius Terapkan PSBB, Anies Harus Bayar Pengorbanan Rakyat agar Tak Sia-sia

"Perlu kita pahami bahwa jenazah yang dimakamkan itu belum pasti jenazah COVID-19. (Merujuk) organisasi profesi adalah tata cara janazah penyakit menular,” katanya kepada wartawan, Sabtu (18/4).

Yuri menjelaskan, penyakit menular seperti HIV, hepatitis, ebola, dan Covid-19 mendapatkan perlakuan yang sama. Standar teknis penguburan jenazah agar tidak menularkan sudah dipastikan, sehingga tidak ada cairan sedikit pun yang keluar.

“Kami bungkus dengan plastik dan kita yakinkan dengan peti yang kedap dan antiseptik yang cukup. Oleh karena itu bukan jangan dimaknai seluruh jenazah adalah COVID-19,” tegasnya.

Ia juga meminta masyarakat jujur soal riwayat kesehatannya sebagai upaya bersama untuk mencegah penularan corona. Hal itu disebut sebagai kunci kerja sama antarelemen bangsa untuk mengakhiri pandemi ini.

"Kami mohon agar kita bisa bekerja sama dengan tenaga medis saat mendapatkan layanan kesehatan. Kunci kerja sama ini yaitu agar kita bisa menjelaskan riwayat kesehatan secara baik," ujar Yurianto yang mengenakan kemeja bermotif batik corona ini.

Petugas pemakaman (ANTARA/HO)
Petugas pemakaman (ANTARA/HO)

Yuri menjelaskan, kejujuran soal riwayat medis harus dilakukan di tiap fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit. Kejujuran masyarakat diperlukan agar bisa segera dilakukan pemisahan supaya penularan tak meluas.

Termasuk pemisahan bagi pasien positif corona dengan gejala berat dan harus mendapat perawatan di rumah sakit dan pasien yang hanya memerlukan isolasi mandiri.

Selain itu, kejujuran soal riwayat kesehatan diperlukan untuk menelusuri kasus positif lainnya.

"Di sini letak kerja sama dibutuhkan. Lewat kejujuran kita bisa lacak siapa yang pernah kontak dekat atau yang memiliki risiko," ujar Yuri seraya mengenakan maskernya.

Dari jumlah tersebut terbanyak di Provinsi DKI Jakarta mencapai 2.924 orang.

Baca Juga:

KSAD Suplai Vitamin dan Madu untuk Anak Buahnya yang Berjuang Tangani COVID-19

Sementara pasien virus corona di Jakarta yang sembuh berjumlah 205 orang. Ada penambahan 1 dibandingkan sebelumnya sebanyak 204 orang.

"Kita berharap masyarakat memahami betul arahan-arahan, pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk yang dibuat pemerintah," ujar dia.

Selain itu, data pemerintah juga menyebutkan pasien yang meninggal dunia di Jakarta mencapai 253 orang. Ada penambahan 7 dibandingkan sebelumnya sebanyak 246 orang.

"Pemerintah memiliki prioritas dalam menangani virus pandemi ini. Gugus Tugas Penanganan COVID-19 bekerja sesuai arahan preisden," ucapnya. (Knu)

Baca Juga:

Puluhan Tenaga Medis Semarang Terpapar COVID-19, Dokter Tirta: Kejujuran Masyarakat Sangat Penting

#Virus Corona
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Virus baru ini berasal dari subgenus merbecovirus, yang juga termasuk virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
Dwi Astarini - Jumat, 21 Februari 2025
 Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Bagikan