MerahPutih.com - Inggris lolos ke perempat final Euro 2024 setelah mengalahkan Slovakia 2-1 di babak perpanjangan waktu. Nantinya, The Three Lions akan menghadapi Swiss di perempat final, pada Sabtu (6/7) pukul 23.00 WIB.
Namun, Inggris dinilai tampil buruk saat melawan Slovakia. Lalu, apa masalah yang perlu diatasi oleh Gareth Southgate di Perempat Final Euro 2024 nanti?
Baca juga:
UEFA Buat Program untuk Lawan Pelecehan di Media Sosial selama Euro 2024
Masalah yang Perlu Diperbaiki Gareth Southgate di Perempat Final Euro 2024
Mengutip Sky Sports, berikut adalah beberapa masalah yang harus diperbaiki Southgate sebelum timnya menghadapi Swiss pada Sabtu (6/7) mendatang:
1. Pertajam Serangan
Inggris hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran selama 120 menit. Dua gol dari Jude Bellingham dan Harry Kane juga berasal dari upaya tersebut.
Slovakia berhasil melakukan tiga tembakan tepat sasaran selama pertandingan dan lebih banyak dari Inggris. Lalu, Inggris juga mengalami kesulitan saat menciptakan peluang di turnamen tersebut. Di antara tim yang tersisa, hanya Slovenia yang mencatatkan tembakan.
2. Penguasaan Bola
Inggris memiliki rata-rata penguasaan bola sebesar 59,7 persen dalam empat pertandingan. Hanya Portugal dan Jerman saja yang memiliki rata-rata penguasaan bola lebih banyak dari 24 tim.
Pasukan Southgate memiliki penguasaan bola sebesar 63 persen saat melawan Slovakia. Namun, sebagian besar penguasaan bola berada di wilayah mereka sendiri. Kemudian, bek tengah Marc Guehi dan John Stones, hanya bertukar 64 umpan saja.
Phil Foden juga paling menonjol, karena melakukan umpan ke belakang. Mereka juga kesulitan menemukan rekan satu timnya dengan umpan silangnya dari sisi kanan.
Foden hanya memiliki tingkat keberhasilan umpan silang sebesar 17 persen di Euro 2024. Angka itu masih di bawah rata-rata pemain Inggris. Perlu dicatat, bahwa banyak dari umpan silang tersebut datang dari tendangan sudut.
Baca juga:
Menilik Perjalanan Timnas Inggris di Euro 2024, Ada Peluang ke Final?
3. Terlalu Nyaman dengan Umpan yang Tak Efektif
Inggris tampaknya berada dalam posisi yang terlalu dalam. Kritik lain yang dilancarkan di Inggris adalah kecenderungan mereka yang semakin terpuruk setelah memimpin.
Statistik menunjukkan, bagaimana tim asuhan Southgate berada di depan saat tertinggal dalam permainan. Mereka juga tertinggal saat mempertahankan keunggulan ketika sedang unggul satu gol.
Biasanya, Inggris membiarkan lawannya melakukan 16,1 operan sebelum mencoba melakukan intervensi. Hanya Slovenia dan Rumania saja yang kurang intens.
4. Mengandalkan Kane untuk Kuasai Bola
Harry Kane sudah mencetak dua gol, tetapi sering terlihat terisolasi di lini depan. Ia juga mengalami kesulitan untuk mempertahankan permainan.
Faktanya, sang striker rata-rata melakukan sentuhan hampir setengah dari jumlah pemain Inggris lainnya. Ia meraih 27 sentuhan per 90 menit, termasuk kiper Jordan Pickford.
Sebagian besar penggemar Inggris sudah terbiasa dengan Kane yang turun lebih dalam untuk mempengaruhi permainan, yang sejauh ini sulit ia capai di Jerman.
Namun, ada desakan bagi Southgate untuk memainkan Cole Palmer sebagai starter. Hal itu sebenarnya bisa menguntungkan Kane. Keduanya diprediksi bisa saling bertukar enam umpan per 90 menit. Sayangnya, Kane dan Palmer hanya mencatatkan 58 menit di lapangan bersama-sama.
Kane juga kehilangan penguasaan bola sebanyak lima kali selama turnamen. Ia berjuang untuk mempertahankan penguasaan bola di ruang sempit. Namun, striker Bayern Munchen bukanlah penyebab terburuk bagi Inggris.
Tiga pemain Inggris lainnya di lini depan lebih banyak melakukan sentuhan yang gagal, seperti Phil Foden (7) serta Bukayo Saka dan Jude Bellingham (6).
Baca juga:
Musiala Saingi Mikautadze di Papan Top Skor Sementara Euro 2024
5. Nasib John Stones setelah Marc Guehi Diskors
John Stones juga tampil tidak terlalu baik di Euro 2024. Kini, ia akan bekerja sama dengan bek tengah baru saat melawan Swiss. Sebab, Marc Guehi diskors setelah menerima kartu kuning.
Inggris juga dianggap terlalu statis dalam penguasaan bola. Berbeda dengan perannya di Manchester City, Stones hampir seluruhnya beroperasi di wilayahnya sendiri di Euro 2024.
Saat di Manchester City, Stones memiliki variasi passing yang cukup menonojol. Namun, pergerakan passing dirinya di Euro 2024 tidak berkembang.
6. Belum Ada Bek Kiri yang Tepat
Banyak orang yang terkejut ketika Southgate memindahkan Saka ke bek kiri setelah Kieran Trippier terpaksa keluar karena cedera betis.
Namun, posisi bek kiri telah menjadi masalah bagi Inggris sepanjang turnamen. Sebab, tidak ada pemain berkaki kiri alami yang fit untuk menempati posisi tersebut. Walker juga pernah berperan dalam posisi tersebut.
Di antara pemain reguler Inggris yang menjadi starter, Trippier menerima rata-rata peringkat pemain terendah kedua (5,0). Kemudia, hanya Kane yang memiliki skor lebih buruk (4,8).
Ada tanda tanya mengenai apakah Luke Shaw harus mendapat tempat sebagai starter jika dinyatakan fit. Ia terakhir kali bermain sepak bola kompetitif pada Februari 2024 lalu.
Joe Gomez juga akan menjadi pilihan untuk menggantikan Trippier saat melawan Swiss, jika pemain Newcastle itu absen.
Namun, hanya Shaw yang memiliki pengalaman lebih banyak dibanding Gomez sebagai bek kiri di antara skuad Inggris saat ini. Faktanya, Saka juga memiliki pengalaman lebih banyak dibanding Trippier dan Walker, karena juga bermain sebagai bek sayap kanan saat babak perpanjangan waktu melawan Slovakia.
Terlepas dari semua hal di atas, Inggris masih berpeluang untuk memenangkan Euro 2024. (*)

