Kesultanan Banten Musuh Bebuyutan VOC (2)
Salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Banten, Banten Lama, Serang, Banten. (Foto: Twitter: @Hawasi16)
MerahPutih Budaya - Kerajaan Islam Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kerajaan yang disebut juga sebagai Kesultanan Banten itu berawal dari penyebaran Islam oleh salah satu Walisongo Sunan Gunung Jati. Kesultanan Banten merupakan salah satu kerajaan di Nusantara yang sangat menetang keberadaan Belanda melalui kamar dagangnya Vereenig-de Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Maskapai Hindia Timur.
MC Ricklefs dalam bukunya "Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004" menceritakan tentang perjalanan kedua Belanda untuk berniaga ke Nusantara setelah kegagalan ekspedisi pertama mereka. Zaman pelayaran periode kedua pada 1958 itu disebut Ricklefs sebagai zaman "liar" atau "tidak teratur", di mana perusahaan Belanda tidak hanya bersaing dengan pengusaha lokal atau bangsa lain seperti Portugis, tetapi antarperusahaan Belanda sendiri saling berebut pengaruh. Hal itu kemudian mendorong pemerintah Belanda untuk menyatukan semua perusahaan Belanda, yang kemudian dibuat sebuah persekutuan VOC.
VOC merupakan organisasi dagang bentukan pemerintah Belanda. Namun meski begitu, orang-orang dalam VOC banyak bukan orang Belanda. Orang-orang VOC yang diisi oleh beragam latar belakang itu salah satnya menjadi menentu perjalanan VOC ke depan. VOC banyak melakukan kekejaman untuk memeroleh keuntungan dari perdagangan rempah di Nusantara.
Gerak perdagangan VOC di Nusantara tidak terlepas dari persaingan dengan orang-orang Portugis. Pada awal pembentukan VOC pada Maret 1602, Belanda menyadari bahwa mereka kalah jauh dengan Portugis terutama terkait basis militer. Awal keberhasilan Belanda atas Portugis dan Spanyol yaitu ketika mereka melakukan pendudukan atas Ambon 1605. Itu dilakukan untuk menyingkirkan pesaing baik sesama bangsa Eropa maupun dari pesaing lokal.
Belanda berhasil menduduki Ambon setelah bekerja sama dengan orang lokal yang tidak suka terhadap Portugis. Penduduk Hitu menyambut bantuan Belanda dan berhasil mengusir Portugis. Imbalan penduduk Hitu itu kepada VOC yaitu dengan sebuah hak tunggal membeli hasil rempah-rempah dari sana. Terjadi perlawanan kembali dari Portugis terhadap Belanda, tetapi pada akhirnya Belanda benar-benar menunjukkan kekuatan dan mengenyahkan Portugis dari Ambon pada 1605.
Sementara itu, Spanyol menduduki Ternate dan Tidore pada 1606. Hanya setahun setelah keberhasilan Belanda menguasai perdagagan di Ambon, Spanyol berhasil mengambil alih kembali. Pendudukan Spanyol terhadap di Ambon bertahan hingga 1660. Meski ada keberhasilan di Ambon pada tahun-tahun itu, Belanda masih jauh di bawah tujuan mereka untuk memonopoli rempah-rempah dari surga rempah Nusantara. Saingan Belanda sesama Eropa terlalu kuat waktu itu. (bersambung...)
BACA JUGA:
Bagikan
Berita Terkait
Mengenal Wayang Garing, Kesenian asal Banten yang Terancam Punah