MERAHPUTIH.COM - DAMPAK kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyayat hati. Salah satunya Karhutla di Raja Ampat yang masih terjadi hingga pekan kedua Oktober 2026. Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Raja Ampat, total luasan hutan dan lahan yang habis terbakar mencapai 1.254,26 hektare.
Per 7 Oktober lalu, luasan karhutla yang belum mampu dipadamkan mencapai 59 hektare yang meliputi Pulau Dayyan, Kampung Samate, Kampung Atkari, Hutan Warkesi, dan Hutan Warbaryam.
Kepala BPBD Kabupaten Raja Ampat Muhammad Guntur Tamima menerangkan total kerugian dampak ekonomi akibat kebakaran hutan di Raja Ampat yang terjadi sejak Juli lalu mencapai lebih dari Rp 200,419 miliar.
Menurut dia, jumlah ini terus bertambah karena masih ada sejumlah kawasan yang terbakar dan belum bisa dipadamkan petugas. Angka tersebut berdasarkan kalkulasi komprehensif dari seluruh komponen valuasi dampak ekonomi dan ekologi karhutla yang meliputi kerusakan fisik langsung, kehilangan jasa lingkungan, kerugian bidang pariwista, pelepasan emisi karbon, serta penanganan darurat oleh pemerintah daerah.
Baca juga:
Lewat Fotografi dan Karya Visual, Seniman Sumatra Kritik Karhutla
Guntur menyebut penanganan karhutla di Raja Ampat sudah melalui lima kali tanggap darurat mulai dari Juli hingga Oktober. Masih ada beberapa wilayah yang mengalami karhutla dan belum bisa dipadamkan karena lokasi perbukitan yang sulit dijangkau dan alat yang terbatas.
Guntur menambahkan, sampai dengan periode kelima tanggap darurat karhutla di Raja Ampat, belum ada bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. Bantuan yang diterima daerah hanya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa selang, baju pelindung, pompa punggung, dan mesin pompa air.
"Karhutla di Raja Ampat sudah menyebar ke seluruh distrik. Ini merupakan kebakaran hutan yang paling parah sejak kabupaten ini berdiri. Kami memilki keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia," ujarnya.
BPBD Raja Ampat berharap ada bantuan pemadaman dari udara atau water bombing untuk menangani lokasi yang sulit dijangkau melalui darat.
Karhutla Mengancam Satwa Endemik Kalimantan
Selain dampak ekonomi, karhutla juga mengancam flora fauni endemik Kalimantan yang hibitatnya berada di hutan. Seperti dilansir Orangutan.or.id, satwa endemik yang hidup di hutan Kalimantan yaitu orangutan dan berbagai jenis burung terancam hutan yang terbakar.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar baru saja melakukan translokasi terhadap delapan orangutan yang terdampak karhutla. "Translokasi pada 9 Oktober 2026 itu menjadi pemindahan pertama orangutan terdampak karhutla ke habitat yang dinilai sesuai dan relatif aman dari risiko kebakaran," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Murlan Dameria Pane.
Delapan orangutan tersebut terdiri atas tiga pasangan induk dan anak serta dua individu jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.
Laporan Mongabay pada 23 September 2026 menyebut karhutla juga mengancam keberadaan hewan bekantan. Per Minggu, 13 September 2026, 11 bekantan mati, terdiri dari 10 dewasa dan satu anakan akibat karhutla.
Satwa endemik Kalimantan lainnya yang terancam karhutla, yaitu burung bondol Kalimantan (Lonchura fuscans), burung kecil pemakan biji-bijian yang hanya hidup di hutan Kalimantan dataran rendah, burung pentis Kalimantan (Proinochilus xanthopygius). Burung pemakan buah-buah kecil dan serangga ini familier disebut burung cabai.
Selanjutnya, lutung dahi putih (Presbytis frontata) atau masyarakat Dayak sering menyebutnya puan. Satwa ini tergolong rentan menghadapi risiko kepunahan dan ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi.
Berikutnya satwa terancam punah lainnya yaitu owa kalawat. Hewan ini termasuk satwa frugivore atau pemakan buah-buahan, tapi juga memakan daun muda dan serangga. Selain itu, ada pula jenis reptil endemik Kalimantan yaitu ular kepala nasi (Amphiesma flavifrons). Reptil ini memakan telur, kecebong, dan katak.(Asp)
Baca juga:
Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, 1.673 Penerbangan Domestik Terdampak