TREN kecantikan setiap tahun selalu berubah. Begitu juga setiap masa. Termasuk saat ini di masa industri 4.0, tren kecantikan punya cirinya sendiri.
Seorang ahli bidang kecantikan dr Lanny Juniarti menilai telah tejadi pergeseran kriteria cantik di era industri 4.0. Era ini yang mengedepankan teknologi digital menuntut munculnya keinginan penampilan wajah lebih baik.
"Saat ini semakin banyak wanita yang ingin tampil menarik di media sosial sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi industri estetika (kecantikan) untuk memenuhi permintaan masyarakat," kata Lanny yang juga menjabat President Director Miracle Aesthetic Clinic Group di Jakarta, seperti dikutip Antara.
1. Beauty industry dari 1.0 hingga 4.0
Pada tahun lalu, keinginan untuk memiliki tampilan wajah yang lebih baik dan cantik membuat beauty transformation menjadi tren populer. Demikian lanjut Lanny dalam acara Aesthetic Outlook 2019: The Turn-around paradigm of beauty 4.0 .
Beauty industry mengalami revolusi sama seperti halnya revolusi industri berkembang dan mengalami perubahan, dari industri 1.0 menuju 4.0.
Pada Beauty 1.0, konsep perawatan fokus hanya pada satu dimensi saja ketika dokter menggunakan apa yang disebut dengan golden ratio. Dan dari sudut pandang dokterlah yang menentukan perawatan yang terbaik bagi orang yang melakukan perawatan.
Sedangkan pada Beauty 2.0, masyarakat menginginkan tampilan wajah dengan perfect look tetapi tetap memiliki keaslian, versi terbaik dari dirinya, tidak menjadi diri orang lain.
Sementara itu, di era Beauty 3.0 tuntutan masyarakat kian berkembang. Orang yang melakukan perawatan tidak hanya ingin menyempurnakan tampilan wajahnya, tapi perawatan kecantikan dilakukan dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka.
Sekarang, industri kecantikan telah memasuki era Beauty 4.0. Era digital ini sangat memengaruhi perubahan di industri kecantikan. Media sosial bukan hanya menciptakan jaringan sosial, melainkan juga pada akhirnya menyebabkan munculnya social beauty.
2. Tampil cantik dan media sosial
Eksistensi diri seseorang di media sosial dapat menimbulkan dampak yang positif atau justru mendapat kritik dari haters. Kejadian tersebut tersebut tentunya menimbulkan dampak pada sosial dan psikologi seseorang.
Demikian juga di social beauty, penampilan seseorang dapat menjadi pujian, sindiran, atau bahkan mendapat hujatan. Pada akhirnya, hal tersebutah yang membuat terbentuknya tuntutan baru di dunia estetika.
Beauty 4.0 kini tidak lagi fokus pada sudut pandang dokter dan tidak lagi terikat pada sudut pandang dan keinginan individu saja. Tidak juga berorientasi hanya pada 1 atau 2 dimensi, tetapi multidimensional.
"Sebagai seorang ahli di bidang estetik, kami menyarankan perawatan apa yang tepat, untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan klien, dengan tetap memilki kekhasan tampilan wajahnya, sehingga rasa percaya diri mereka semakin bertambah," kata dr Lanny Juniarti.
Tapi tak cukup sampai di situ, kamu perlu memahami juga apakah perwatan kecantikan yang dilakukan dapat memberikan dampak yang baik pada kehidupan sosial mereka atau enggak.
Jangan sampai, misalnya wajah pelanggan malah menjadi bahan hujatan orang lain, seperti tidak proporsional atau bahkan terlihat aneh di mata orang lain. Tujuan dari Beauty 4.0, bagaimana para praktisi dapat memenuhi keempat dimensi tersebut merupakan sebuah tantangan tersendiri. (*)
Baca juga berita lainnya dalam artikel: Hotel Paling Romantis di Dunia 2019, Bikin Baper Banget