Kesehatan

Ketahui Syarat Penting untuk Jadi Pendonor Plasma Konvalesen

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Minggu, 19 September 2021
Ketahui Syarat Penting untuk Jadi Pendonor Plasma Konvalesen

Kenali syarat untuk menjadi pendonor plasma konvalesen (Foto: pixabay/ckstockphoto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

UNTUK menjadi pendonor plasma konvalesen, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Bidang Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia Pusat (PMI Pusat) dr. Linda Lukitari Waseso.

Menurut dokter Linda Lukitari, salah satu syaratnya pendonor plasma konvalesen harus dalam kondisi tubuh yang sehat.

Baca Juga:

Armand Maulana Serukan Pentingnya Vaksinasi COVID-19

"Sebagai pendonor plasma dia harus sehat, walaupun dia baru sembuh dari COVID-19," ujar dokter Linda, seperti dilansir ANTARA.

Syarat utama pendonor plasma konvalesen ialah harus sehat (Foto: pixabay/thevirtualdenise)

Kemudian, syarat yang kedua, calon pendonor harus dinyatakan sembuh, serta memperlihatkan surat keterangan sembuh dari puskesma atau dokter yang merawat. Tak hanya itu, pendonor juga diharuskan tidak pernah menerima tranfusi darah selama 6 bulan terakhir, dan tak mempunyai penyakit penyerta.

Syarat selanjutnya yakni usia calon pendonor. Untuk kamu yang ingin menjadi pendonor plasma konvalesen, disarankan berusia 18 tahun - 65 tahun. Kemudian berat badan minimal harus 55 kg, pernah terkonfirmasi positif yang dibuktikan dengan hasil tes PCR positif, atau rapid antigen positif.

Sedikit informasi, terapi plasma konvalesen merupakan terapi tambahan COVID-19, dengan memberikan plasma yang mengandung antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 dari penyintas COVID-19 kepada pasien COVID-19 yang sedang dirawat.

Terapi tersebut dinilai sangat efektif untuk digunakan sebagai pengobatan SARS, MERS, serta pnademi H1N1.

Baca Juga:

Nasihat Tompi untuk Masyarakat yang Pilih-pilih Vaksin COVID-19

Seperti yang dilansir dari News Medical, ide dasar dari terapi plasma konvalesen, yakni penyintas COVID-19 mempunyai antibodi terhadap penyakit itu, karena itu bisa memperoleh kekebalan.

Terapi plasma konvalesen dipercaya bisa meringankan gejala COVID-19 (Foto: Mp/rizki fitrianto)


Terapi plasma konvalesen, secara teoritis bisa mencegah perkembangan infeksi yang lebih para pada pasien COVID-19 dengan gejala sedang. Namun sejumlah penelitian menunjukkan, bahwa terapi tersebut tak memiliki efek yang signifikan pada pasien COVID-19.

Secara umum, ada tiga tahap dalam donasi plasma konvalesen, yakni persiapan donor dengan melakukan pengisian formulir donor darah dan persetujuan tindakan medis, kemudian seleksi donor lewat anamesis dan pemeriksaan fisik.

Kemudian, pemeriksaan lab donor termasuk konfirmasi golongan darah, skrining antibodi serta infeksi menular lewat tranfusi darah.

Selanjutnya, yang terakhir yaitu pengambilan darah menggunakan mesin apheresis. Biasanya lama waktu pengambilan darah sekitar 45 menit.

Saat ini kasus COVID-19 mulai menurun. Namun, dokter Linda mencatat, bahwa permintaan donor plasma tetap ada, serta stok plasma di PMI berada dalam tingkat jumlah yang cukup. (Ryn)

Baca Juga:

Seorang Pria Terima 5 Dosis dari 3 Vaksin COVID-19 Berbeda

#Kesehatan #COVID-19 #Vaksin Covid-19
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan