MerahPutih.com - BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Sejumlah daerah bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda peralihan musim dengan kondisi cuaca yang lebih cerah dan suhu udara terasa lebih panas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi cuaca Jakarta yang alami panas terik beberapa waktu belakangan ini, di tengah ibadah bulan suci Ramadan 2026.
Pramono menyebut telah mendapat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca panas yang melanda Indonesia jelang penghujung musim hujan. Ia menyebut dalam waktu dekat hujan akan kembali turun di Jakarta.
"Untuk menghadapi Idulfitri, memang data BMKG menunjukkan sebelumnya itu cuacanya panas. Tetapi pada saat Idulfitri ada kemungkinan curah hujan menengah," kata Pramono di Jakarta, Selasa (17/3).
Baca juga:
66 Persen Wilayah di Jabar Akan Alami Awal Kemarau Lebih Cepat
Pramono menilai, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mempercepat pembentukan awan hujan atau hujan buatan di Jakarta belum memiliki urgensi untuk dilakukan saat ini.
"Jakarta masih belum memerlukan dibuat hujan buatan," ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak April.
BMKG juga mencatat suhu udara maksimum di wilayah Jakarta mencapai angka cukup tinggi. "Dalam beberapa hari terakhir suhu Udara maksimum yang terukur di wilayah Jakarta mencapai 35.4 derajat celsius, tepatnya di wilayah Jakarta Timur," ucap Ida.
BMKG memperkirakan kondisi suhu udara yang terasa panas masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada siang hari saat tutupan awan berkurang. Meski begitu, ia menekankan sebagian besar wilayah Indonesia saat ini masih berada pada fase akhir musim hujan atau masa transisi menuju kemarau.
"Secara umum sebagian besar wilayah Indonesia saat ini masih berada pada periode akhir musim hujan atau masa transisi menuju musim kemarau, sehingga potensi pembentukan awan masih cukup tinggi yang pada waktu tertentu dapat mengurangi pemanasan atau radiasi yang mencapai permukaan," pungkasnya. (Asp)