Merahputih.com - Aspal panas jalur pantura dan liukan jalan provinsi menanti jutaan roda kendaraan dalam ritual mudik lebaran mendatang. Di tengah antusiasme pulang kampung, pemandangan mobil dengan "topi" tambahan alias roof box kerap menghiasi atap-atap kendaraan pribadi.
Alih-alih fungsional, tumpukan barang di atas kabin justru menyimpan risiko fatal jika luput dari perhitungan teknis.
Pakar serta instruktur senior keselamatan berkendara Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, memperingatkan masyarakat agar tidak membawa barang terlalu banyak. Penggunaan roof box sebaiknya dihindari demi menjaga keselamatan perjalanan jauh.
Baca juga:
“Roof box jangan jadi ikut-ikutan deh, karena itu sebenarnya ruang tambahan jika di bagasi tidak muat. Kita asumsikan mudik itu bukan seperti pindahan, jadi bawa barang secukupnya aja,” ujar Sony Susmana, Selasa (10/3).
Risiko Keseimbangan dan Ancaman Tergelincir
Sony menyarankan pengisian barang ringan saja jika pemudik terpaksa menggunakan komponen tambahan tersebut. Imbauan ini berdasar pada aspek teknis kendaraan. Muatan berlebih pada atap menyebabkan mobil lebih mudah tergelincir saat melintasi tikungan tajam.
Titik berat kendaraan berubah naik sehingga stabilitas terganggu secara drastis. Kondisi ini membahayakan penumpang, terutama saat sopir melakukan manuver mendadak.
“Kalau memang kebutuhannya harus ada roof box, isi dengan barang-barang ringan supaya tidak mengganggu keseimbangan kendaraan. Konsekuensi lainnya kecepatan kendaraan dibatasi tidak lebih dari 80 km per jam terutama di jalan tol banyak angin atau di jalan provinsi banyak ranting,” tegas Sony.
Baca juga:
Skema WFA Geser Pola Mudik 2026, Daerah Terancam Kena Getahnya
Pemborosan BBM dan Gangguan Aerodinamika
Dampak negatif penggunaan ruang tambahan di atap mencakup sisi finansial. Roof box mengubah profil aerodinamika kendaraan sehingga hambatan angin meningkat tajam. Mesin mobil terpaksa bekerja ekstra keras melawan terpaan udara dari arah depan.
Beban kerja mesin lebih berat mengakibatkan konsumsi bahan bakar meningkat sekitar 5 sampai 15 persen. Hal ini tentu menambah biaya pengeluaran perjalanan mudik secara signifikan. Perubahan arus angin di sekitar bodi mobil juga berpotensi mengganggu kendali setir saat melaju kencang di jalur terbuka.