MerahPutih.com - Kementerian BUMN membantah isu mengenai Menteri BUMN Erick Thohir terlibat dalam bisnis tes PCR. Bahkan, isu Erick Thohir bermain tes PCR, ditegaskan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga sangat tendensius.
Arya memaparkan, dari data, sampai kemarin (1/11) tes PCR telah mencapai 28,4 juta di seluruh Indonesia. Sementara PT Genomik Solidaritas Indonesia atau GSI yang dikaitkan Erick Thohir, sebanyak 700.000.
Baca Juga:
Aturan Tes PCR Berubah, Anggota DPR Ingatkan Hati-Hati Bikin Kebijakan
"Jadi bisa dikatakan hanya 2,5 persen (terafiliasi dengan GIS) dari total tes PCR yang sudah dilakukan di Indonesia. Sedangkan 97,5 persen lainnya dilakukan pihak lain. Jadi kalau dikatakan bermain, kan lucu ya, 2,5 persen gitu. Kalau mencapai 30 persen, 50 persen itu okelah bisa dikatakan bahwa GSI ini ada bermain-main. Tapi hanya 2,5 persen," tegas Arya Sinulingga. dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (2/11).
Arya menegaskan, dalam kepemilikan GSI, ada yang namanya Yayasan Adaro sebagai pemegang saham dan merupakan yayasan kemanusiaan dengan jumlah sahamnya hanya 6 persen.
"Jadi bisa dikatakan, kata dia, yayasan kemanusiaan Adaro ini sangat minim berperan di tes PCR. Kemudian di yayasan kemanusiaan Adaro ini, Erick Thohir sejak jadi menteri tidak aktif lagi aktif di urusan bisnis dan di urusan yayasan seperti itu," katanya.
Ia menegaskan, dengan kondisi tersebut, sangat jauh lah dari keterlibatan atau dikaitkan dengan Erick Thohir.
"Apalagi dikatakan main bisnis PCR jauh sekali. Jadi jangan tendensius seperti itu, kita harus lebih clear melihat semua," kata Stafsus Menteri BUMN tersebut.
Arya mengatakan, ketentuan mengenai PCR tidak pernah dikeluarkan oleh Kementerian BUMN. Sejauh ini, pemerintah tidak pernah mengeluarkan kewajiban pelaksanaan tes PCR yang menunjuk lab tertentu, kecuali tentunya yang sesuai standar yang ditentukan Kemenkes.
Senada dengan Arya, sebelumnya Juru Bicara Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Jodi Mahardi, menjelaskan tidak ada maksud bisnis dalam keterlibatan sejumlah pebisnis, termasuk Luhut Panjaitan, yang mendirikan Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) Lab pada tahun 2020.
Luhut diduga terlibat dalam bisnis tes PCR lantaran dua perusahaan yang terafiliasi dengannya yakni PT Toba Sejahtra dan PT Toba Bumi Energi, ikut mengantongi saham di GSI.
"Tidak ada maksud bisnis dalam partisipasi Toba Sejahtra di GSI, apalagi Pak Luhut sendiri selama ini juga selalu menyuarakan agar harga test PCR ini bisa terus diturunkan sehingga menjadi semakin terjangkau buat masyarakat," katanya dikutip Antara. (*)
Baca Juga:
Wajib PCR untuk Calon Penumpang Pesawat Dihapus, Beban Masyarakat Jadi Berkurang