Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Ini Bahaya yang Terjadi jika Terjadi Stigma Negatif Soal Corona di Masyarakat

Zulfikar SyZulfikar Sy - Jumat, 01 Mei 2020
Ini Bahaya yang Terjadi jika Terjadi Stigma Negatif Soal Corona di Masyarakat

Petugas medis di ruang isolasi instalasi paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Dumai, Riau, Sabtu (7/3/2020). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/ama.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai, stigma negatif terhadap mereka yang terkait dengan corona (COVID-19) berkontribusi menambah jumlah angka kematian di Indonesia.

Pasalnya, stigma negatif tersebut akan berujung pada penolakan sehingga mengenyampingkan kesembuhan dan memperburuk status kesehatan.

Baca Juga:

PKS Soroti Maraknya PHK Tenaga Kerja dan Nasib Buruh saat Pandemi Corona

"Inilah yang perlu dipahami bahwa stigma berkontribusi terhadap tingginya angka kematian," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Fidiansjah melalui siaran langsung dari saluran Youtube BNPB Jumat (1/5).

Fidiansjah mencontohkan, bagaimana fenomena penolakan itu berdampak bagi mereka yang sedang dalam musibah, lalu meninggal dunia. Terlebih katanya, muncul juga fenomena lainnya terkait penolakan jenazah corona saat akan dikuburkan.

Dia mengatakan, stigma ini bukan hanya dapat memperburuk kesehatan masyarakat, tapi juga terhadap kondisi Indonesia saat ini.

"Stigma ini sesuatu hal yang akan memunculkan label dan sesuatu negatif dan hanya beberapa orang atau bahkan masyarakat melakukan perilaku yang tidak sepatutnya mendiskriminasi dan mengucilkan beberapa orang yang terkait dengan masalah corona ini," katanya.

Fidiansjah mengajak seluruh masyarakat untuk melawan stigma dengan tidak mendiskriminasi dan mengucilkan tenaga kesehatan dan orang-orang yang terpapar COVID-19 ketika harus melakukan isolasi mandiri di rumah.

Petugas medis memberikan tanda cinta dari dalam ruang perawatan pasien COVID-19 yang baru saja diluncurkan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020).(ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Petugas medis memberikan tanda cinta dari dalam ruang perawatan pasien COVID-19 yang baru saja diluncurkan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020).(ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Stigmasisasi tersebut sangat berdampak terhadap imunitas seseorang yang terpapar COVID-19 dan akan berpengaruh dalam proses proses penyembuhan pasien.

Upaya melawan COVID-19, menurut Fidiansjah, harus secara komprehensif. Tidak hanya pada penanganan secara fisik, tapi juga dalam konteks kesehatan jiwa dan psikososial masyarakat.

Jangan sampai berbagai informasi yang disampaikan pemerintah terkait penanganan COVID-19 setiap harinya malah menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat akibat ketidakpahaman.

Menurut Fidiansjah, stigma di masyarakat dapat ditekan dengan cara menyampaikan komunikasi risiko dengan tepat. Media berperan penting dalam komunikasi risiko kepada masyarakat dengan tidak hanya fokus pada pertumbuhan kasus dan kurangnya keterbukaan informasi perihal penanganan COVID-19.

Dia menilai, pemberitaan media terkait informasi yang utuh soal penularan virus yang tidak sampai ke masyarakat sangat memengaruhi stigma terhadap orang dengan COVID-19. Baik itu kategori orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), pasien positif dan keluarga pasien serta tenaga kesehatan.

Baca Juga:

BPIP Minta Pemerintah dan Pengusaha Pedulikan Nasib Buruh di Pagebluk COVID-19

Fidiansjah mencontohkan kasus perawat yang distigma dan mendapatkan perlakuan tidak patut di lingkungannya kemudian terpapar COVID-19 dan meninggal dunia, bahkan dalam proses pemakamannya pun masih mendapat penolakan.

“Tentu sikap ini harus kita lawan, dan ini akan menimbulkan dampak kesehatan jiwa pada komunitas masyarakat itu sendiri,” kata Fidiansjah.

Kemkes mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi pada tenaga kesehatan atau pada orang-orang yang turut memberikan dukungan dalam penanganan COVID-19. Apresiasi yang dimaksud bukanlah hal yang muluk-muluk, tapi memberikan perhatian dan penghargaan itu sudah cukup.

“Mari beri apresiasi ketika ada segelintir masyarakat yang memberikan dukungan terhadap persoalan Covid-19, segera kita berikan perhatian dukungan dengan ucapan, terima kasih anda telah berikan pertolongan, dan sebagainya,” pungkas Fidiansjah. (Knu)

Baca Juga:

Peringati Hari Buruh, Ketua DPR Singgung Pembahasan Omnibus Law

#Virus Corona
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Virus baru ini berasal dari subgenus merbecovirus, yang juga termasuk virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
Dwi Astarini - Jumat, 21 Februari 2025
 Ilmuwan China Temukan Virus Corona Kelelawar Baru yang Sama dengan COVID-19, Disebut Dapat Menular ke Manusia Lewat
Bagikan