MerahPutih.com - Danantara Indonesia dan perusahaan teknologi Arm Ltd menargetkan pengembangan hingga 15.000 talenta semikonduktor Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan guna mendukung penguatan industri digital nasional.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia dan Singapura tengah membahas pengembangan pusat data regional melalui kerja sama kawasan Singapura-Johor-Riau.
Pembahasan tersebut menjadi bagian dari penguatan rantai pasok dan ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Kita sedang berbicara bagaimana menyinergikan Singapura-Johor-Riau untuk menjadi data center. Nah, ini juga kita sedang bahas dan ini juga sifatnya strategis,
kata Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/6).
Baca juga:
Layanan Pusat Data Nasional Sementara Diklaim Telah Pulih Setelah Diserang Ransomware
Dunia, tegas ia,saat ini mulai melihat sektor digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang relatif tidak terdampak konflik geopolitik.
Global juga melihat sektor digital ini menjadi pemicu pertumbuhan selanjutnya karena sektor ini tidak terdisrupsi oleh perang,
ujarnya.
Airlangga mengatakan, pemerintah bersama Singapura juga terus memperkuat pengembangan kawasan Batam-Bintan-Karimun (BBK) dan Kawasan Industri Kendal.
Kawasan Industri Kendal yang saat sekarang sudah utilisasinya hampir penuh dan akan ekspansi lagi 1.000 hektare,
ucapnya.
Nongsa Digital Park di Batam juga disebut hampir penuh dan tengah memproses ekspansi lanjutan.
Kawasan Nongsa di Batam selama ini berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi digital nasional karena kedekatannya dengan Singapura serta dukungan infrastruktur telekomunikasi dan pusat data.
Menurut Airlangga, penguatan sektor digital dan pusat data menjadi penting karena tidak terlalu bergantung pada logistik fisik yang rentan terganggu akibat konflik global maupun perang.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa isu digitalisasi dan semikonduktor kini juga menjadi perhatian utama dalam pembahasan ekonomi global, termasuk dengan Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN.
Baik itu di Eropa, kemudian di ASEAN, bahkan juga dengan pembicaraan dalam USTR (Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat). Mereka juga concern mengenai digitalisasi dan semikonduktor,
ungkapnya.