MerahPutih.com - Upacara penganugerahan Ballon d’Or 2026 berlangsung di London, Inggris. Lalu, pemenangnya juga berasal dari London, yakni Harry Kane.
Keberhasilan Kane kini menegaskan bahwa dalam sepak bola, tidak ada yang lebih berharga dibanding torehan gol. Ia mencetak 73 gol (61 untuk Bayern Munchen dan 12 bersama timnas Inggris), serta meraih gelar juara Bundesliga, Piala Jerman (DFB-Pokal), dan Piala Super Jerman.
Selain itu, ia juga menempati posisi ketiga di Piala Dunia 2026. Hal ini sekaligus menunjukkan, bahwa kampanye promosi diri hampir tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap hasil akhir.
Baca juga:
Harry Kane Ukir Sejarah Raih Ballon d’Or 2026, 3 Faktor ini Jadi Kunci Kemenangannya
Alasan Harry Kane Layak Menang Ballon d'Or 2026
Namun, tidak ada yang salah dengan kemenangan Kane, terutama pada tahun tidak ada kandidat utama yang memiliki pencapaian meyakinkan.
Kariernya yang luar biasa, meski dijalani dengan rendah hati, memang layak mendapatkan pengakuan. Ia selalu menjadi penyerang tengah yang istimewa.
Lalu, kepindahannya ke Bayern Munchen membuatnya masuk dalam jajaran kandidat peraih penghargaan individu paling bergengsi dalam sepak bola tersebut.
Sebenarnya, hal yang sama bisa saja terjadi jika ia bergabung dengan Real Madrid. Carlo Ancelotti sempat meminta pihak klub untuk merekrut Kane, setelah mengetahui bahwa Karim Benzema akan hengkang ke Arab Saudi. Namun, kekhawatiran mengenai usia sang penyerang membuat kemungkinan tersebut pupus.
Baca juga:
Ballon d’Or Kembali Luput, Kylian Mbappe Masih Punya Misi yang Belum Tuntas di Real Madrid
Meski demikian, dengan selisih yang sangat tipis di antara para kandidat utama, Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi penentu.
Ketika pencapaian para kandidat tergolong setara, kompetisi paling bergengsi musim ini sudah sepatutnya memiliki bobot penilaian terbesar. Hal itulah yang terjadi pada Lionel Messi pada 2023 dan Fabio Cannavaro pada 2006.
Lamine Yamal dan Kylian Mbappe Gagal Menang Ballon d'Or 2026
Sayangnya, Spanyol justru tidak memiliki pemenang Ballon d’Or setelah dua kali menjuarai Piala Dunia. Hal itu mungkin dikarenakan kemenangan tersebut diraih berkat kerja kolektif yang sangat dominan. Namun, ada ironi tersendiri di sini, mengingat sepak bola pada dasarnya adalah olahraga beregu.
Lamine Yamal cukup dirugikan karena gagal menampilkan performa terbaiknya di saat-saat krusial. Rodri serta Fabian Ruiz, yang meraih trofi lebih banyak, juga kurang diuntungkan karena tidak memiliki daya tarik bintang.
Hal itu menjadi sesuatu yang biasanya lebih melekat pada pemain yang sering mencetak gol. Sementara itu, Marc Cucurella dan Pau Cubarsi juga ikut luput dari perhatian karena mereka berposisi sebagai bek.
Setidaknya, kesuksesan Spanyol mendapatkan pengakuan di tempat lain. Pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente, menerima penghargaan Pelatih Pria Terbaik Tahun Ini.
Kemudian, Alexia Putellas meraih Ballon d’Or ketiganya, sementara Lamine Yamal, Vicky Lopez, Unai Simon, Pere Romeu, Cata Coll, serta tim sepak bola wanita Barcelona turut mendapatkan penghargaan.
Baca juga:
Ballon d'Or's Coming Home, Harry Kane Akhiri 25 Tahun Penantian Inggris di London
Mereka semua merepresentasikan apa yang bisa dibilang sebagai sistem pengembangan sepak bola terbaik di dunia, yakni sebuah model yang dipelajari dan coba ditiru oleh negara-negara lain.
Selain itu, pihak lain yang juga mengalami kekecewaan besar adalah Kylian Mbappe. Meski telah menjuarai Piala Dunia 20218 dan mencapai satu final lainnya pada 2022, serta menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam turnamen tersebut, ia tercatat hanya pernah menempati peringkat ketiga Ballon d’Or 2023.
Gol-gol yang ia cetak belum berbuah trofi yang cukup, kemudian kenyataan ini harus dibayar mahal.
Sama seperti Lamine Yamal, Mbappe harus menelan kekecewaan alih-alih membawa pulang Ballon d’Or. Setidaknya, pemain asal Prancis itu bisa sedikit terhibur dengan kemenangan Real Madrid dalam laga El Clasico. (sof)