Film Pendek 'More Pain More Gain' Tafsirkan Hustle Culture, Soroti Wajah Lain Maskulinitas Modern

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Film Pendek 'More Pain More Gain' Tafsirkan Hustle Culture, Soroti Wajah Lain Maskulinitas Modern

Cuplikan film pendek 'More Pain, More Gain'. (foto: Dok Playvul Nyra)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - HUSTLE culture menjadi salah satu wajah lain dari maskulinitas modern yang tidak lepas dari tekanan kapitalisme. Produser Playvul NYRA, Adhytia Putra, mengungkapkan hal tersebut saat menjelaskan gagasan yang menjadi salah satu kritik sosial dalam film pendek More Pain, More Gain.

Film garapan sutradara Yusgunawan Marto ini menggunakan tubuh pria sebagai metafora tentang kekuatan, ketahanan, pengakuan, dan validasi. Tubuh berotot yang terus dipaksa mengangkat beban menjadi gambaran bagaimana seseorang dapat mengejar standar kesuksesan tanpa memedulikan dampaknya terhadap diri sendiri.

Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan melalui genre body horror. Penderitaan fisik yang dialami karakter menjadi bentuk visual dari dampak nyata ketika maskulinitas toksik dan dorongan untuk terus menjadi "lebih" tidak lagi memiliki batas.

Adhytia mengklaim bahwa dengan penggambaran body horor penonton bisa langsung mengerti betapa daya rusak husstle itu sendiri nyata. Dan tak bisa diabaikan.

"Representasi tentang bagaimana sebuah maskulinitas yang toksik bisa berdampak secara nyata ke orang. Dan kurang nyata apa lagi kalau kita melihat dampaknya langsung ke tubuh, raga, dan ujungnya ke jiwa. Makanya ke arah body horror," ujar sang produser.

Dalam film ini penonton bisa melihat tubuh kekar dan berotot teruji lewat angkatn beban. Aktivitas angkat beban yang dilakukan karakter dapat dimaknai sebagai standar yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pengakuan. Semakin berat beban yang mampu ditanggung, semakin besar pula anggapan bahwa dirinya adalah pemenang.

Masalahnya, kemenangan tersebut harus dibayar mahal. Tubuh yang dipaksa terus bekerja akhirnya mengalami cedera dan kehancuran.


Ketika Hustle Culture Bertemu Kapitalisme



Pada akhirnya, konsep hustle akhirnya bermuara pada kapitalisme. Kapitalisme menilai produktivitas tinggi adalah pencapaian. Supaya membuat produktivitas itu terkesan patriotik, maka politisasi bahasa bermain jadilah hustle.

Padahal di balik keberadaannya adalag tentang pemerasan alias eksploitasi.

Dengan hustle ada dorongan untuk terus bekerja, menjadi lebih baik, mengalahkan orang lain, dan mengejar standar tertentu dapat berubah menjadi tekanan yang tidak berkesudahan.

"Kita selalu melihat bagaimana caranya agar kita selamat(produktif). Kita selamat dengan cara yang lebih baik. Namun, di masa kita yang cukup cepat, kita jadi kejar-kejaran. Kejar-kejaran itulah yang menyebabkan hal-hal seperti itu terjadi," ujarnya.

Ia melihat hustle culture sebagai kondisi ketika seseorang terus mendorong dirinya tanpa lagi mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.

"Kita mencoba sebisa mungkin, dorong-dorong tanpa melihat apa pun dampaknya. Itu yang kita cari untuk menjadi jati diri yang diusung, walaupun badannya hancur lebur," lanjutnya.

Ambiguitas tersebut menjadi bagian penting dalam film. Di satu sisi, karakter ingin membuktikan dirinya mampu. Di sisi lain, standar tersebut sebenarnya dibentuk oleh pandangan dan tuntutan dari luar dirinya.

Pendekatan visual body horror membuat kritik tersebut terasa lebih kuat. Rasa sakit dan kehancuran tubuh tidak hanya ditampilkan untuk memberikan efek mengejutkan, tetapi menjadi bahasa visual untuk memperlihatkan konsekuensi dari tekanan sosial.

Proses produksi More Pain, More Gain sendiri berlangsung pada 2024. Playvul NYRA memberikan ruang kepada sutradara untuk mengembangkan gagasan kreatif dengan tetap berada dalam batasan produksi film pendek.(Tka)

#Film #Film Pendek #Film Baru
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

ShowBiz
Film Pendek 'More Pain More Gain' Tafsirkan Hustle Culture, Soroti Wajah Lain Maskulinitas Modern
Film garapan sutradara Yusgunawan Marto ini menggunakan tubuh pria sebagai metafora tentang kekuatan, ketahanan, pengakuan, dan validasi.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Film Pendek 'More Pain More Gain' Tafsirkan Hustle Culture, Soroti Wajah Lain Maskulinitas Modern
ShowBiz
13 Film dan Serial Klasik yang Tayang di Netflix Awal September 2026
Beberapa di antara film yang akan tayang bahkan sudah berusia puluhan tahun, tetapi masih memiliki cerita yang menarik untuk disaksikan kembali.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
13 Film dan Serial Klasik yang Tayang di Netflix Awal September 2026
ShowBiz
Dua Sisi Kim Jun Han di 'The Intern', dari Rekan Kerja Ramah hingga Sosok Tegas di Ruang Rapat
Film Korea 'The Intern' merilis foto terbaru Kim Jun Han dan Ryu Hye Young. Keduanya berperan sebagai pekerja ambisius di perusahaan mode milik Han So Hee.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 23 Agustus 2026
Dua Sisi Kim Jun Han di 'The Intern', dari Rekan Kerja Ramah hingga Sosok Tegas di Ruang Rapat
ShowBiz
Park Seo Joon, Park Hae Il, dan Choi Dae Hoon Bintangi Film Misteri Sejarah 'Firefly'
Park Seo Joon, Park Hae Il, dan Choi Dae Hoon bergabung dalam film misteri sejarah 'Firefly'. Kisahnya mengungkap misteri Desa Hwayong yang terkubur 24 tahun.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 23 Agustus 2026
Park Seo Joon, Park Hae Il, dan Choi Dae Hoon Bintangi Film Misteri Sejarah 'Firefly'
ShowBiz
'100 Days of Deception' Mulai Produksi, Kim Yoo Jung dan Park Jinyoung Jadi Mata-Mata di Era Pendudukan Jepang
Mengusung perpaduan spionase, romansa, dan drama sejarah, 100 Days of Deception mengambil latar masa pendudukan Jepang di Korea.
Yusuf Abdillah - Minggu, 23 Agustus 2026
'100 Days of Deception' Mulai Produksi, Kim Yoo Jung dan Park Jinyoung Jadi Mata-Mata di Era Pendudukan Jepang
ShowBiz
'Ghost in the Cell' Resmi Tayang di Netflix, Film Horor Joko Anwar yang Bikin Tegang
Ghost in the Cell tayang di Netflix. Film horor garapan Joko Anwar ini membawa penonton merasakan kehidupan keras penghuni lapas Labuhan Angasana.
Soffi Amira - Sabtu, 22 Agustus 2026
'Ghost in the Cell' Resmi Tayang di Netflix, Film Horor Joko Anwar yang Bikin Tegang
ShowBiz
'Mutiny', Film Aksi Terbaru Jason Statham tentang Pengkhianatan dan Balas Dendam
Jason Statham membintangi film aksi Mutiny sebagai Cole Reed, bodyguard yang memburu pelaku di balik kematian bosnya. Tayang 21 Agustus 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 21 Agustus 2026
'Mutiny', Film Aksi Terbaru Jason Statham tentang Pengkhianatan dan Balas Dendam
ShowBiz
Film Horor 'Ice Cream Man' Bawa Teror Berdarah, Ari Millen Jadi Penjual Es Krim Psikopat
Film horor slasher Ice Cream Man tayang di bioskop Indonesia 26 Agustus 2026. Ari Millen berperan sebagai penjual es krim psikopat Jonathan Smiley.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 21 Agustus 2026
Film Horor 'Ice Cream Man' Bawa Teror Berdarah, Ari Millen Jadi Penjual Es Krim Psikopat
ShowBiz
Scarlett Johansson Dirumorkan Gabung 'The Batman Part II', Bakal Perankan Gilda Dent?
Scarlett Johansson dirumorkan gabung The Batman Part II. Ia disebut akan memerankan Gilda Dent.
Soffi Amira - Jumat, 21 Agustus 2026
Scarlett Johansson Dirumorkan Gabung 'The Batman Part II', Bakal Perankan Gilda Dent?
ShowBiz
The Conjuring Berlanjut, Prekuel 'First Communion' Ungkap Masa Muda Ed dan Lorraine Warren
The Conjuring: First Communion disiapkan sebagai prekuel yang mengungkap masa muda Ed dan Lorraine Warren. Garrett Wareing dan Amanda Fix menjadi pemeran.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 20 Agustus 2026
The Conjuring Berlanjut, Prekuel 'First Communion' Ungkap Masa Muda Ed dan Lorraine Warren
Bagikan