MERAHPUTIH.COM - HUSTLE culture menjadi salah satu wajah lain dari maskulinitas modern yang tidak lepas dari tekanan kapitalisme. Produser Playvul NYRA, Adhytia Putra, mengungkapkan hal tersebut saat menjelaskan gagasan yang menjadi salah satu kritik sosial dalam film pendek More Pain, More Gain.
Film garapan sutradara Yusgunawan Marto ini menggunakan tubuh pria sebagai metafora tentang kekuatan, ketahanan, pengakuan, dan validasi. Tubuh berotot yang terus dipaksa mengangkat beban menjadi gambaran bagaimana seseorang dapat mengejar standar kesuksesan tanpa memedulikan dampaknya terhadap diri sendiri.
Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan melalui genre body horror. Penderitaan fisik yang dialami karakter menjadi bentuk visual dari dampak nyata ketika maskulinitas toksik dan dorongan untuk terus menjadi 'lebih' tidak lagi memiliki batas.
Adhytia mengklaim, dengan penggambaran body horor, penonton bisa langsung mengerti betapa daya rusak hustle itu sendiri nyata dan tak bisa diabaikan. "Representasi tentang bagaimana sebuah maskulinitas yang toksik bisa berdampak secara nyata ke orang. Dan kurang nyata apa lagi kalau kita melihat dampaknya langsung ke tubuh, raga, dan ujungnya ke jiwa. Makanya ke arah body horror," ujar sang produser.
Dalam film ini, penonton bisa melihat tubuh kekar dan berotot teruji lewat angkatn beban. Aktivitas angkat beban yang dilakukan karakter dapat dimaknai sebagai standar yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pengakuan. Semakin berat beban yang mampu ditanggung, semakin besar pula anggapan bahwa ia merupakan pemenang.
Masalahnya, kemenangan tersebut harus dibayar mahal. Tubuh yang dipaksa terus bekerja akhirnya mengalami cedera dan kehancuran.
Baca juga:
Playvul NYRA Rilis Tiga Film Pendek, Angkat Kritik Sosial lewat Cerita yang Relevan
Ketika Hustle Culture Bertemu Kapitalisme
Pada akhirnya, konsep hustle bermuara pada kapitalisme. Kapitalisme menilai produktivitas tinggi adalah pencapaian. Supaya membuat produktivitas itu terkesan patriotik, politisasi bahasa bermain jadilah hustle. Padahal, di balik keberadaannya adalag tentang pemerasan alias eksploitasi.
Dengan prinsip hustle, ada dorongan untuk terus bekerja, menjadi lebih baik, mengalahkan orang lain, dan mengejar standar tertentu dapat berubah menjadi tekanan yang tidak berkesudahan.
"Kita selalu melihat bagaimana caranya agar kita selamat (produktif). Kita selamat dengan cara yang lebih baik. Namun, di masa kita yang cukup cepat, kita jadi kejar-kejaran. Kejar-kejaran itulah yang menyebabkan hal-hal seperti itu terjadi," ujarnya.
Ia melihat hustle culture sebagai kondisi ketika seseorang terus mendorong dirinya tanpa lagi mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan. "Kita mencoba sebisa mungkin, dorong-dorong tanpa melihat apa pun dampaknya. Itu yang kita cari untuk menjadi jati diri yang diusung, walaupun badannya hancur lebur," lanjutnya.
Ambiguitas tersebut menjadi bagian penting dalam film. Di satu sisi, karakter ingin membuktikan dirinya mampu. Di sisi lain, standar tersebut sebenarnya dibentuk pandangan dan tuntutan dari luar dirinya. Pendekatan visual body horror membuat kritik tersebut terasa lebih kuat. Rasa sakit dan kehancuran tubuh tidak hanya ditampilkan untuk memberikan efek mengejutkan, tetapi menjadi bahasa visual untuk memperlihatkan konsekuensi dari tekanan sosial.
Proses produksi More Pain, More Gain berlangsung pada 2024. Playvul NYRA memberikan ruang kepada sutradara untuk mengembangkan gagasan kreatif dengan tetap berada dalam batasan produksi film pendek.(Tka)
Baca juga:
'Jalan Pulang', Film Pendek tentang Kebaya yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini