MerahPutih.com - Film biopik musikal Michael langsung menggebrak box office dengan pendapatan sekitar Rp 201 miliar (USD 12,6 juta) pada awal penayangannya. Capaian ini menjadikannya sebagai pembukaan terbesar tahun ini.
Angka tersebut melampaui Project Hail Mary yang meraih sekitar Rp 191 miliar (USD 12 juta) serta Scream 7 dengan Rp 124 miliar (USD 7,8 juta). Bahkan, hanya dari penayangan awal hari Rabu, Michael sudah mengantongi sekitar Rp 60 miliar (USD 3,8 juta).
Meski sempat dibayangi ulasan negatif dan berbagai masalah produksi, performa film ini justru melesat. Proyeksi pendapatannya terus meningkat signifikan.
Baca juga:
Awalnya diprediksi meraup sekitar Rp 958 miliar (USD 60 juta), angka tersebut naik menjadi kisaran Rp 1,03 triliun hingga Rp1,19 triliun (USD 65–75 juta) pada akhir pekan pembukaannya. Bahkan, beberapa pihak memperkirakan pendapatan bisa mendekati Rp 1,27 triliun (USD 80 juta).
Jika angka tersebut tercapai, Michael berpotensi memecahkan rekor pembukaan film biografi musikal. Rekor sebelumnya dipegang oleh Bohemian Rhapsody dengan Rp 814 miliar (USD 51 juta) dan Straight Outta Compton yang meraih Rp 958 miliar (USD 60 juta).
Di pasar internasional, performa film ini juga tak kalah kuat. Michael diproyeksikan meraih sekitar Rp 1,19 triliun hingga Rp 1,27 triliun (USD 75–80 juta) dari 82 negara. Secara global, total pendapatan akhir pekan diperkirakan menembus Rp 2,23 triliun hingga Rp 2,39 triliun (USD 140–150 juta).
Baca juga:
Jaafar Jackson Hidupkan Sosok Sang Paman di Trailer Film Biopik ‘Michael’
Disutradarai oleh Antoine Fuqua, film ini mengangkat perjalanan karier Michael Jackson sejak era Jackson 5 hingga menjadi ikon musik dunia. Sosok Jackson diperankan oleh keponakannya, Jaafar Jackson, dengan dukungan akting dari Colman Domingo dan Nia Long sebagai orang tuanya.
Di balik kesuksesan awalnya, Michael juga menghadapi tantangan besar dalam proses produksi. Dengan biaya mencapai sekitar Rp 2,71 triliun (USD 170 juta), film ini menjadi salah satu film biografi termahal sepanjang masa. Proses syuting ulang dalam skala besar turut menambah biaya produksi, terutama setelah bagian akhir cerita harus dirombak.
Perubahan tersebut berkaitan dengan penghapusan alur yang menyinggung kasus hukum tahun 1993. Adegan tersebut akhirnya tidak dapat digunakan setelah ditemukan klausul hukum yang melarang penggambaran pihak terkait dalam film maupun televisi.
Meski diliputi kontroversi, Michael tetap melaju kencang di box office dan berpotensi menjadi salah satu film biopik paling sukses dalam beberapa tahun terakhir. (Tka)