MerahPutih.com - Menteri Keuangan (Menkeu) RI Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kondisi sejumlah negara yang mulai terdampak perang di Timur Tengah.
Negara tetangga Indonesia, Filipina sudah mengumumkan status darurat energi nasional, sementara Bangladesh dilanda krisis bahan bakar minyak (BBM).
Purbaya mengatakan masalah darurat energi bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan dari suplainya.
"Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan," kata Purbaya kepada wartawan di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).
Sampai saat ini Purbaya memastikan APBN masih tahan menghadapi kenaikan harga energi dan tidak akan diubah sampai akhir tahun.
“Pada saat sekarang, sampai akhir tahun dengan harga sekarang, kita masih tahan APBN, tergantung keputusan pimpinan nantinya, tetapi saya tawarkan, aman," ucap Purbaya.
Baca juga:
Purbaya menilai masih terlalu dini untuk mengubah harga minyak dan subsidi energi dalam APBN.
"Nanti kalau naiknya (tinggi) baru kita hitung lagi berapa. Jadi nggak otomatis tiba-tiba jadi US$ 100, kan kita hitung rata-rata," imbuh Purbaya.
Sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. resmi mengumumkan status darurat energi nasional. Kondisi ini terjadi imbas perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Deklarasi tersebut ditetapkan melalui Perintah Eksekutif Nomor 110 yang ditandatangani pada Selasa (24/3), dengan mempertimbangkan posisi Filipina sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak bumi.
Pemerintah Filipina langsung membentuk sebuah komite untuk memastikan pergerakan, pasokan, distribusi dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, produk pertanian dan barang-barang penting lainnya. (Knu)