Merahputih.com - Federasi Otomotif Internasional (FIA) memberikan sinyal keras bahwa otoritas balap dunia tersebut siap menjatuhkan penalti kepada pembalap maupun tim yang mencoba mencari keuntungan dari perubahan terbaru dalam aturan start.
Memasuki musim kompetisi dengan regulasi unit tenaga baru yang membagi energi pembakaran dan listrik sebesar 50-50, kekhawatiran serius muncul terkait stabilitas mobil saat memulai balapan.
Baca juga:
Aston Martin Terpuruk, Fernando Alonso Pertimbangkan Pensiun dari F1
Ancaman Sanksi Bagi Manipulator Aturan
Direktur Single-Seater FIA, Nikolas Tombazis, memperingatkan seluruh kontestan agar tidak mengelabui sistem deteksi terbaru ini. FIA mengembangkan sistem deteksi start daya rendah untuk mengidentifikasi mobil dengan akselerasi yang sangat rendah sesaat setelah pelepasan kopling.
Jika sistem mendeteksi kegagalan akselerasi, pelepasan MGU-K otomatis akan aktif guna memastikan tingkat percepatan minimum terpenuhi demi keselamatan.
"Kami menjelaskan bahwa ini bukan mekanisme yang dimaksudkan untuk membuat orang tergoda melakukannya dengan sengaja demi keuntungan," ujar Nikolas Tombazis.
Ia menekankan bahwa teknologi ini berfungsi mengubah start yang buruk menjadi sedikit lebih baik, bukan mengubah start buruk menjadi start yang sempurna.
Uji Coba Teknologi Keamanan di GP Miami
Langkah preventif ini berawal dari insiden berbahaya saat Liam Lawson hampir tertabrak dari belakang oleh Franco Colapinto dalam Grand Prix Australia. Kurangnya tenaga pada mobil Lawson menyebabkan perlambatan mendadak yang hampir memicu tabrakan massal.
Baca juga:
Akal Bulus Tim Mercedes dan Red Bull Ketahuan! FIA Haramkan Trik MGU-K di Kualifikasi F1
Sebagai solusi, FIA juga menyertakan sistem peringatan visual berupa lampu berkedip di bagian belakang dan samping mobil untuk memperingatkan pembalap lain.
Proposal teknis ini menjalani pengujian intensif sepanjang akhir pekan GP Miami sebelum implementasi penuh pada balapan berikutnya di Kanada.
FIA memastikan bahwa intervensi sistem hanya terjadi jika mobil berada di bawah ambang batas akselerasi tertentu, seperti yang dialami Lawson di Australia, namun tidak akan berlaku untuk kegagalan start biasa seperti yang dialami Max Verstappen di China.