Festival Lentera, Mengenal Uniknya Cap Go Meh Warga Tiongkok
Kemeriahan Imlek (Foto: people)
MERIAHNYA Imlek tidak hanya berhenti di hari itu saja. Lima belas hari setelah Hari Raya Imlek ada tradisi Cap Go Meh. Bila biasanya imlek dirayakan dengan sembahyang ke kelenteng untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan di tahun baru, sementara Cap Go Meh, tradisi membawa persembahan berupa kue keranjang dan melakukan sembahyang kue keranjang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.
Cap Go Meh merupakan rangkaian terakhir perayaan Tahun Baru Imlek. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian berarti secara harafiah 15 hari atau malam setelah Tahun Baru Imlek.
Baca juga:
Jelang Perayaan Tahun Baru Imlek, Omzet Pengrajin Lampion di Solo Naik 50 Persen
Meriahnya Cap Go Meh ini dibuktikan dengan adanya Festival Lentera atau akrab disebut Yuan Xiao di Tiongkok. Dimulai lebih dari 2000 tahun lalu, festival ini telah mengembangkan banyak makna, seperti merayakan reuni keluarga dan masyarakat. Hal ini merupakan tradisi spiritual kuno. Beberapa dari mereka menyebutnya sebagai hari Valentina China "sejati". Kegiatan di Festival Lentera meliputi menatap bulan, menyalakan lentera, teka-teki, dan tarian singa.
Pada Tahun 2008, Festival Lentera terdaftar sebagai elemen warisan budaya tak benda. Tiap tanggal 15, semua orang tanpa memandang usia atau jenis kelamin, pergi ke jalan untuk merayakan. Di samping melambangkan reuni, Festival Lentera juga merupakan waktu untuk bersosialisasi dan bebas melakukan apapun.
Baca juga:
Menyambut Imlek, JHL Solitaire Solitaire Helat Intimate Gala Dinner
Dahulu di masa Tiongkok Kuno, perempuan biasanya tidak diizinkan keluar rumah. Tetapi pada malam ini, mereka dapat berjalan bebas, menyalakan lentera, bermain game dan berinteraksi dengan pria. Festival Lentera dimulai pada zaman Dinasti Han Barat. Pemimpin saat itu, Kaisar Wu menetapkan hari Cap Go Meh untuk ritual penyembahan bagi Tai Yi, salah satu penguasa alam semesta.
Seteh kaisar berganti, untuk merayakan kembalinya perdamaian, Kaisar Wen menetapkan hari libur nasional tiap tanggal ke-15. Setiap rumah di hari itu akan menyalakan lentera. Hal tersebut dikenal sebagai Nao Yuan Xiao. "Nao" dapat diartikan sebagai bersenang-senang, atau menjadi liar karena kegembiraan.
Durasi perayaan Festival Lentera bervariasi sepanjang sejarah. Saat ini, festival secara teknis bukan hari libur nasional. (nic)
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
Permintaan Daging Naik, Pramono Pastikan Pasokan Aman Jelang Imlek dan Ramadan
Pemprov DKI Klaim Ketersedian Pangan Cukup Jelang Imlek dan Puasa
Imlek Nasional 2026 di Jakarta, Pemprov DKI Perluas Publikasi dan Agenda Pendukung
Lirik Lagu “Gong Xi Gong Xi” yang Selalu Mengiringi Perayaan Imlek
Tanggal Merah Februari 2026 Lengkap, Ada Long Weekend Imlek!
Pemerintah Gelar Imlek Festival 2026, Rayakan Kebhinekaan di Bulan Ramadan
Imlek Festival Perdana Usung Semangat Bhinneka Tunggal Ika
Wagub Rano Karno Pastikan Persiapan Imlek 2026, Jakarta Light Festival Bakal Digelar
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Hennessy Hadirkan Koleksi Tahun Kuda nan Berani
Geliatkan Ekonomi Jakarta, Gubernur Pramono Gelar Lomba Lampu dan Lampion Imlek di Pusat Perbelanjaan