Merahputih.com - Fakta kematian Diego Maradona kembali memanas setelah sidang terbaru mengungkap bahwa sang legenda Argentina seharusnya tidak menjalani rawat jalan di rumah.
Tim dokter Maradona diduga melakukan kesalahan fatal karena membiarkan pasien dengan sindrom kebingungan akut tanpa pengawasan institusi psikiatri yang memadai.
Kelalaian medis berlarut-larut inilah yang memicu gagal organ beruntun hingga berujung pada hilangnya nyawa sang ikon sepak bola dunia.
Baca juga:
Bola ‘Tangan Tuhan’ Maradona Terjual Rp 53 Miliar, Disebut masih Jauh dari Perkiraan
Dalam sidang medis Maradona yang digelar baru-baru ini di San Isidro, kesaksian mengejutkan datang dari José Luis Covelli, seorang perwira psikiater.
Secara blak-blakan, ia menyebut kalau keputusan memulangkan ikon Argentina itu dari Klinik Olivos pada awal November silam adalah langkah keliru.
Bukannya makin membaik, penyebab meninggalnya Maradona justru berkaitan erat dengan kurangnya kontrol klinis saat ia mengalami gejala putus zat alkohol yang parah.
Bukan Mati Mendadak, Tapi Korban Blunder Medis?

Covelli menjelaskan secara gamblang bahwa kondisi sang legenda saat itu benar-benar tidak stabil dan butuh pengawasan profesional, bukan sekadar dirawat di rumah.
Pasien mengalami sindrom kebingungan akibat putus alkohol. Pada 11 November, ia sama sekali tidak dalam kondisi untuk mengambil keputusan terkait kesehatannya sendiri,
tegas Covelli di hadapan majelis hakim.
Daripada sekadar dirawat di rumah dengan fasilitas seadanya, Covelli menilai Maradona butuh penanganan di rumah sakit jiwa atau institusi mental. Ada risiko besar karena ia sering marah-marah, butuh pengekangan, dan bahkan sempat mencoba kabur.
Rawat jalan di rumah tidak memenuhi syarat untuk pemantauan kognitif pasien. Yang gagal di sini adalah kontrol klinisnya,
tambahnya.
Dalam kesaksiannya, ia secara langsung menunjuk ahli bedah saraf Leopoldo Luque dan psikiater Agustina Cosachov sebagai pihak yang bertanggung jawab atas blunder perawatan ini. Apalagi, obat-obatan yang dikonsumsi Maradona membawa efek samping pada jantung dan hati, yang mana seharusnya diatur ketat mengingat sang legenda punya riwayat penyakit liver.
Tubuh Membengkak: Sinyal Bahaya yang Diabaikan
Nggak cuma dari kacamata kejiwaan, dokter klinis Silvino Ramírez yang juga bersaksi hari itu ikut memperkuat dugaan kelalaian. Ia sepakat kalau sang bintang butuh pengawasan harian yang ketat di fasilitas kesehatan yang memadai.
Banyak yang mengira Maradona meninggal secara tiba-tiba, namun Ramírez membantah keras hal tersebut. Menurutnya, cairan di paru-paru dan perut Maradona tidak muncul dalam semalam.
Apa yang memicu henti jantung adalah gagal ginjal, hati, dan jantung; sesuatu yang sebenarnya sudah berproses selama beberapa hari terakhir. Seharusnya mereka menyedot cairan dari paru-parunya, itu pasti akan sangat membantu. Kekurangan oksigen inilah yang menyebabkan hilangnya kesadaran,
ungkap Ramírez.
Ketegangan Memuncak di Ruang Sidang
Sidang ke-38 yang dihadiri langsung oleh putri-putri Maradona (Jana, Dalma, dan Gianinna) ini berlangsung cukup panas.
Pengacara dari pihak dokter yang jadi terdakwa, seperti Francisco Oneto dan Vadim Mischanchuk, berkali-kali mencecar para saksi dengan pertanyaan tajam.
Saking alotnya, Covelli dan Ramírez sampai secara terbuka menyatakan merasa diintimidasi oleh nada bicara tim pembela hukum.
Baca juga:
30 Oktober Memperingati Hari Apa? Lahirnya Sang Dewa Sepak Bola, Diego Maradona!
Suasana ruang sidang juga berubah emosional ketika foto-foto jenazah Maradona pasca meninggal dunia pada 25 November 2020 ditampilkan di layar. Hakim bahkan sampai menyarankan Jana Maradona untuk keluar ruangan sejenak agar tidak trauma melihat visual yang sensitif tersebut.
Sidang ini menjadi bukti kuat bahwa hari-hari terakhir Diego Maradona dipenuhi dengan tanda tanya besar terkait kualitas perawatan medis yang ia terima.
Proses hukum masih terus berlanjut untuk menentukan siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas kepergian sang legenda.