Diblokir di Facebook, ‘Stop the Steal’ Justru Semakin Menyebar

Andreas PranataltaAndreas Pranatalta - Sabtu, 07 November 2020
Diblokir di Facebook, ‘Stop the Steal’ Justru Semakin Menyebar

Grup Stop the Steal dibuat satu hari setelah pemilu AS. (Foto: The New York Times)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

FACEBOOK dilaporkan telah memblokir grup pendukung Presiden Donald Trump demi kelancaran pemilu AS. Tagar tersebut umumnya berkisar pada klaim yang mengatakan Joe Biden dari Partai Demokrat mencoba memanipulasi pemilu untuk mengalahkan Trump. Kini, gerakan Stop the Steal telah menemukan platform baru yang lebih kecil untuk berdiskusi.

Melansir The Verge, kelompok Stop the Steal merupakan sebuah gerakan yang mendukung klaim palsu Trump atas penipuan pemilu dan berharap menghentikan proses sertifikasi suara yang sedang berlangsung. Kelompok ini juga mempromosikan demonstrasi pro Trump di Arizona, Pennsylvania, Nevada, dan Georgia.

Mereka pun mengorganisirnya melalui platform seperti Parler dan Discord.

Baca juga:

Facebook dan TikTok Blokir Tagar Teori Konspirasi Pemilu AS

Diblokir di Facebook, ‘Stop the Steal’ Justru Semakin Menyebar
Mereka memanfaatkan platform Discord. (Foto: Global News)

Mengutip Channel News Asia, grup pro Trump tersebut berkembang cukup pesat. Setiap 10 detik, ada 1,000 anggota baru yang bergabung dan dalam satu hari berisi mencapai 365 ribu orang.

“Sepatu di lapangan untuk melindungi integritas suara,” ujar salah satu anggota.

Seruan itu merupakan buntut dari klaim tak berdasar yang disebarkan Trump maupun akun-akun terkenal Partai Republik tentang adanya kecurangan pemungutan suara.

Adapun Qanon, sebuah teori konspirasi yang menyatakan bahwa terdapat rencana rahasia yang dilakukan oleh “negara rahasia” terhadap Trump dan para pendukungnya.

“Presiden Trump memiliki suara. Tapi Demokrat, Big Tech, dan Media Berita Palsu mencoba “mencuri” pemilihan ini. Ini adalah operasi penipuan suara dalam sejarah Amerika. Hentikan Pencurian,” ujar Marjorie Taylor Greene, seorang pendukung Qanon.

Baca juga:

Donald Trump Akan Larang TikTok di AS

Diblokir di Facebook, ‘Stop the Steal’ Justru Semakin Menyebar
Ratusan ribu orang tergabung dalam grup ini. (Foto : BC)

Grup yang baru terbentuk satu hari setelah pilpres ini dipenuhi dengan informasi yang salah tentang Demokrat yang mencurangi pemungutan suara. Selama periode singkat itu, grup tersebut menjadi pusat informasi yang salah tentang pemilu.

TikTok juga memblokir tagar #sharpiegate, #stopthesteal, dan istilah yang lebih umum #riggedelection. TechCrunch menemukan tagar seperti #rigged, #electionfraud, #electionmeddling, dan lainnya masih berfungsi, bahkan mengarahkan pengguna ke konten yang terkait dengan konspirasi Qanon.

Perler membedakan dirinya dari Facebook dan Twitter dalam penolakannya untuk memoderasi konten yang dilarang oleh platform teknologi besar, termasuk ujaran kebencian. Lebih luas lagi, Discord secara proaktif memantau seluruh layanan untuk kesalahan informasi pemilu yang menyebabkan dampak besar di dunia nyata. (and)

Baca juga:

Ini Alasan Bos Instagram Kecam Larangan TikTok di AS

Bagikan
Ditulis Oleh

Andreas Pranatalta

Stop rushing things and take a moment to appreciate how far you've come.
Bagikan