MerahPutih.com – Pendiri LSI, Denny JA, memperkenalkan gagasan baru yang ia sebut sebagai Teori Kerusuhan Era Digital untuk menjelaskan fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi oleh teknologi dan algoritma.
Melalui esainya, Denny JA menilai kerusuhan yang terjadi pada Agustus 2025 bukan sekadar gejolak politik atau sosial biasa, melainkan tanda lahirnya pola baru dalam dinamika masyarakat digital yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori-teori sosial klasik.
Baca juga:
Denny JA Ungkap Fenomena DVC, Kelas Sosial Baru di Era Kapitalisme Algoritma
Teori Lama Dinilai Belum Cukup
Menurut Denny JA, berbagai teori sosial yang selama ini menjadi rujukan masih relevan, tetapi belum mampu menjelaskan secara utuh fenomena kerusuhan di era digital.
Ia menyoroti tiga teori besar, yakni Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr yang menjelaskan kemarahan akibat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, Resource Mobilization Theory dari McCarthy dan Zald yang menekankan pentingnya organisasi dan sumber daya dalam gerakan sosial, serta Networked Protest Theory dari Manuel Castells dan Zeynep Tufekci yang menjelaskan peran internet dan media sosial dalam mobilisasi massa.
Meski demikian, ketiga teori tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menjelaskan peran algoritma, media sosial, dan munculnya kelompok pekerja digital dalam membentuk gelombang protes masa kini.
Salah satu konsep utama yang ditawarkan Denny JA adalah Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelas rentan digital.
Baca juga:
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Kelompok ini terdiri dari pengemudi ojek online, kurir digital, freelancer, pekerja platform, kreator konten, hingga berbagai pekerja informal yang menggantungkan penghasilan pada sistem digital.
Menurutnya, kelompok ini hidup dalam tiga bentuk kerentanan sekaligus, yakni kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan.
DVC disebut sebagai aktor sosial baru yang berpotensi menjadi kekuatan utama dalam berbagai gejolak sosial di era digital.
5 Variabel Teori Kerusuhan Era Digital

Pendiri LSI, Denny JA. Foto: Dok. Denny JA
Denny JA menjelaskan bahwa teori yang ia ajukan dibangun di atas lima variabel utama, yaitu:
- Economic Grievance: Keresahan ekonomi menjadi bahan bakar utama munculnya kemarahan sosial. Kenaikan harga kebutuhan pokok, menurunnya daya beli, terbatasnya lapangan kerja, serta ketidakpastian masa depan menjadi sumber akumulasi kekecewaan masyarakat.
- Digitally Vulnerable Class (DVC): Kelas rentan digital menjadi kelompok yang paling merasakan dampak perubahan ekonomi dan algoritma sehingga rentan menjadi bagian dari mobilisasi sosial.
- Social Media Amplification: Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif yang mampu mengubah persoalan lokal menjadi perhatian nasional dalam waktu singkat.
- Trigger and Provocation: Setiap kemarahan membutuhkan simbol atau pemicu. Setelah pemicu muncul, disinformasi maupun provokasi dapat mengubah aksi protes menjadi kerusuhan.
- Broken Social Contract: Kerusuhan terjadi ketika masyarakat merasa negara gagal memenuhi janji dasarnya, seperti memberikan perlindungan, keadilan, peluang ekonomi, dan ruang untuk didengar.
Kerusuhan Digital Berpotensi Menjadi Pola Baru Abad ke-21
Menurut Denny JA, kelima faktor tersebut saling berkaitan dan membentuk siklus yang memperbesar potensi terjadinya kerusuhan di era digital. Ia merumuskan konsep tersebut dalam formula:
Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract
Melalui teori ini, Denny JA berupaya menjelaskan hubungan antara kondisi ekonomi, algoritma, media sosial, emosi kolektif, dan legitimasi negara dalam satu kerangka yang terintegrasi.
Baca juga:
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
Masyarakat Berubah Lebih Cepat dari Teori
Sementara di bagian akhir esainya, Denny JA menegaskan, bahwa kerusuhan digital bukan hanya fenomena yang terjadi di Indonesia, melainkan berpotensi menjadi pola baru yang muncul di berbagai negara pada abad ke-21.
Ia menilai. masyarakat telah berubah jauh lebih cepat dibandingkan teori-teori yang selama ini digunakan untuk memahaminya.
Jadi, Teori Kerusuhan Era Digital hadir sebagai upaya untuk menjelaskan bagaimana masyarakat modern yang hidup di bawah algoritma, bekerja tanpa kepastian, dan terhubung melalui jaringan digital membentuk dinamika sosial yang baru.
Menurut Denny JA, setiap zaman melahirkan kelas sosial yang menjadi penggerak perubahan sejarah. Jika Revolusi Industri melahirkan proletariat dan era globalisasi melahirkan precariat, maka era algoritma melahirkan Digitally Vulnerable Class (DVC) yang menjadi salah satu kunci memahami gejolak sosial abad ke-21. (*)