Denny JA Perkenalkan Teori Kerusuhan Era Digital, Soroti Peran Kelas Rentan Digital

Soffi AmiraSoffi Amira - 1 jam, 42 menit lalu
Denny JA Perkenalkan Teori Kerusuhan Era Digital, Soroti Peran Kelas Rentan Digital

Pendiri LSI, Denny JA, memperkenalkan gagasan Teori Kerusuhan Era Digital. Foto: Dok. Denny JA

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com – Pendiri LSI, Denny JA, memperkenalkan gagasan baru yang ia sebut sebagai Teori Kerusuhan Era Digital untuk menjelaskan fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi oleh teknologi dan algoritma.

Melalui esainya, Denny JA menilai kerusuhan yang terjadi pada Agustus 2025 bukan sekadar gejolak politik atau sosial biasa, melainkan tanda lahirnya pola baru dalam dinamika masyarakat digital yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori-teori sosial klasik.

Baca juga:

Denny JA Ungkap Fenomena DVC, Kelas Sosial Baru di Era Kapitalisme Algoritma

Teori Lama Dinilai Belum Cukup

Menurut Denny JA, berbagai teori sosial yang selama ini menjadi rujukan masih relevan, tetapi belum mampu menjelaskan secara utuh fenomena kerusuhan di era digital.

Ia menyoroti tiga teori besar, yakni Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr yang menjelaskan kemarahan akibat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, Resource Mobilization Theory dari McCarthy dan Zald yang menekankan pentingnya organisasi dan sumber daya dalam gerakan sosial, serta Networked Protest Theory dari Manuel Castells dan Zeynep Tufekci yang menjelaskan peran internet dan media sosial dalam mobilisasi massa.

Meski demikian, ketiga teori tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menjelaskan peran algoritma, media sosial, dan munculnya kelompok pekerja digital dalam membentuk gelombang protes masa kini.

Salah satu konsep utama yang ditawarkan Denny JA adalah Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelas rentan digital.

Baca juga:

Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital

Kelompok ini terdiri dari pengemudi ojek online, kurir digital, freelancer, pekerja platform, kreator konten, hingga berbagai pekerja informal yang menggantungkan penghasilan pada sistem digital.

Menurutnya, kelompok ini hidup dalam tiga bentuk kerentanan sekaligus, yakni kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan.

DVC disebut sebagai aktor sosial baru yang berpotensi menjadi kekuatan utama dalam berbagai gejolak sosial di era digital.

5 Variabel Teori Kerusuhan Era Digital

Pendiri
Pendiri LSI, Denny JA. Foto: Dok. Denny JA

Denny JA menjelaskan bahwa teori yang ia ajukan dibangun di atas lima variabel utama, yaitu:

  • Economic Grievance: Keresahan ekonomi menjadi bahan bakar utama munculnya kemarahan sosial. Kenaikan harga kebutuhan pokok, menurunnya daya beli, terbatasnya lapangan kerja, serta ketidakpastian masa depan menjadi sumber akumulasi kekecewaan masyarakat.
  • Digitally Vulnerable Class (DVC): Kelas rentan digital menjadi kelompok yang paling merasakan dampak perubahan ekonomi dan algoritma sehingga rentan menjadi bagian dari mobilisasi sosial.
  • Social Media Amplification: Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif yang mampu mengubah persoalan lokal menjadi perhatian nasional dalam waktu singkat.
  • Trigger and Provocation: Setiap kemarahan membutuhkan simbol atau pemicu. Setelah pemicu muncul, disinformasi maupun provokasi dapat mengubah aksi protes menjadi kerusuhan.
  • Broken Social Contract: Kerusuhan terjadi ketika masyarakat merasa negara gagal memenuhi janji dasarnya, seperti memberikan perlindungan, keadilan, peluang ekonomi, dan ruang untuk didengar.

Kerusuhan Digital Berpotensi Menjadi Pola Baru Abad ke-21

Menurut Denny JA, kelima faktor tersebut saling berkaitan dan membentuk siklus yang memperbesar potensi terjadinya kerusuhan di era digital. Ia merumuskan konsep tersebut dalam formula:

Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract

Melalui teori ini, Denny JA berupaya menjelaskan hubungan antara kondisi ekonomi, algoritma, media sosial, emosi kolektif, dan legitimasi negara dalam satu kerangka yang terintegrasi.

Baca juga:

DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda

Masyarakat Berubah Lebih Cepat dari Teori

Sementara di bagian akhir esainya, Denny JA menegaskan, bahwa kerusuhan digital bukan hanya fenomena yang terjadi di Indonesia, melainkan berpotensi menjadi pola baru yang muncul di berbagai negara pada abad ke-21.

Ia menilai. masyarakat telah berubah jauh lebih cepat dibandingkan teori-teori yang selama ini digunakan untuk memahaminya.

Jadi, Teori Kerusuhan Era Digital hadir sebagai upaya untuk menjelaskan bagaimana masyarakat modern yang hidup di bawah algoritma, bekerja tanpa kepastian, dan terhubung melalui jaringan digital membentuk dinamika sosial yang baru.

Menurut Denny JA, setiap zaman melahirkan kelas sosial yang menjadi penggerak perubahan sejarah. Jika Revolusi Industri melahirkan proletariat dan era globalisasi melahirkan precariat, maka era algoritma melahirkan Digitally Vulnerable Class (DVC) yang menjadi salah satu kunci memahami gejolak sosial abad ke-21. (*)

#Denny JA #Digital #Teknologi #Algoritma
Bagikan
Ditulis Oleh

Soffi Amira

Berita Terkait

Indonesia
Denny JA Perkenalkan Teori Kerusuhan Era Digital, Soroti Peran Kelas Rentan Digital
Pendiri LSI, Denny JA, memperkenalkan Teori Kerusuhan Era Digital. Ia menyoroti peristiwa yang terjadi pada Agustus 2025.
Soffi Amira - 1 jam, 42 menit lalu
Denny JA Perkenalkan Teori Kerusuhan Era Digital, Soroti Peran Kelas Rentan Digital
Tekno
Xiaomi 18 Muncul di Database IMEI GSMA, Pertanda Meluncur November 2026?
Xiaomi 18 kini muncul di database IMEI GSMA. HP tersebut diperkirakan meluncur November 2026 mendatang.
Soffi Amira - Minggu, 14 Juni 2026
Xiaomi 18 Muncul di Database IMEI GSMA, Pertanda Meluncur November 2026?
Indonesia
Denny JA Ungkap Fenomena DVC, Kelas Sosial Baru di Era Kapitalisme Algoritma
Pendiri LSI, Denny JA mengatakan, bahwa Indonesia sedang menyaksikan kemunculan kelas sosial baru, yaitu Digitally Vulnerable Class (DVC).
Soffi Amira - Minggu, 14 Juni 2026
Denny JA Ungkap Fenomena DVC, Kelas Sosial Baru di Era Kapitalisme Algoritma
Indonesia
Pemerintah Perbanyak Talenta AI, Wujudkan Indonesia Emas 2024
Pemerintah, menjadikan upaya pengembangan talenta digital sebagai prioritas dalam pelaksanaan transformasi digital nasional.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 11 Juni 2026
Pemerintah Perbanyak Talenta AI, Wujudkan Indonesia Emas 2024
Lifestyle
Amazfit Rilis Seri Cheetah 2 Series di Indonesia, Pilihan Pas untuk Pelari Serius dan Atlet Endurance
Amazfit memperkuat komitmen mereka dalam menghadirkan smartwatch sport-performance yang membantu pengguna berlatih lebih terarah.
Dwi Astarini - Rabu, 10 Juni 2026
Amazfit Rilis Seri Cheetah 2 Series di Indonesia, Pilihan Pas untuk Pelari Serius dan Atlet Endurance
Tekno
Vivo X500 Ultra Batal Pakai Kamera Telefoto 10x, OPPO Find X10 Ultra Makin tak Tertandingi
OPPO Find X10 Ultra kini makin tak tertandingi. Sebab, Vivo X500 Ultra mundur dari kamera telefoto 10x.
Soffi Amira - Senin, 08 Juni 2026
Vivo X500 Ultra Batal Pakai Kamera Telefoto 10x, OPPO Find X10 Ultra Makin tak Tertandingi
Tekno
Xiaomi 18 Gegerkan Pasar Flagship, Jadi HP Pertama yang Pakai Snapdragon 8 Elite Gen 6!
Xiaomi 18 akan meluncur September 2026. HP itu akan menjadi yang pertama menggunakan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 6.
Soffi Amira - Kamis, 04 Juni 2026
Xiaomi 18 Gegerkan Pasar Flagship, Jadi HP Pertama yang Pakai Snapdragon 8 Elite Gen 6!
Tekno
OPPO Reno 16, Reno 16 Pro, dan Reno 16 FS Segera Meluncur Global, Berikut Spesifikasinya
OPPO Reno 16 global kini mulai muncul. Kabarnya, HP tersebut akan segera meluncur dalam waktu dekat.
Soffi Amira - Rabu, 03 Juni 2026
OPPO Reno 16, Reno 16 Pro, dan Reno 16 FS Segera Meluncur Global, Berikut Spesifikasinya
Tekno
Xiaomi 18, Vivo X500, dan OPPO Find X10 Dikabarkan Rilis Bersamaan, Siapa Paling Gahar?
Xiaomi 18, Vivo X500, dan OPPO Find X10 berpotensi meluncur bersamaan pada September 2026.
Soffi Amira - Rabu, 03 Juni 2026
Xiaomi 18, Vivo X500, dan OPPO Find X10 Dikabarkan Rilis Bersamaan, Siapa Paling Gahar?
Indonesia
Kedekatan Indonesia dan Prancis Dinilai Cerminkan Kemandirian Geopolitik
Denny JA menilai kedekatan Indonesia dan Prancis mencerminkan lahirnya kekuatan baru negara-negara menengah yang ingin tetap berdaulat
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 29 Mei 2026
Kedekatan Indonesia dan Prancis Dinilai Cerminkan Kemandirian Geopolitik
Bagikan