Burberry Masker Antimicrobial, Bisakah Lindungi Kamu dari Virus Corona
Burberry Masker Antimicrobial, Bisakah Lindungi Anda dari Virus Corona (Foto: Burberry)
DENGAN pandemi global yang masih terus berlanjut, High End Fashion Brands cepat beradaptasi dengan memasukkan masker wajah yang dihiasi dengan logo pola signiture mereka dalam line terbaru. Salah satunya Burberry dengan masker antimicrobial.
Masker kain yang terbuat dari bahan biasa sudah dinyatakan banyak ilmuwan dan WHO dapat membantu memperlambat penyebaran COVID-19. Namun fashion brand ingin menawarkan lebih dari itu. Mereka memasarkan aksesori baru berupa masker dan untuk beberapa lini pakaian yang memiliki sifat antimikroba.
Baca juga:
Penambahan antimikroba ini dipercaya menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur, atau mengurangi aktivitas virus. Namun, apakah benar fungsi antimikroba dapatkah memberikan perlindungan ekstra selama pandemi?
Di AS, sebuah brand tidak dapat mengklaim bahwa produknya akan melindungi pemakainya dari SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, tanpa memberikan bukti yang cukup. Oleh karena itu, beberapa label hanya menunjukkan perlindungan atau kebersihan ekstra. Kadang juga menyertakan small print mengenai penambahan antimikroba yang dimaksudkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau virus, bukan melindungi pengguna dari patogen.
Baca juga:
Tanpa pengujian ilmiah yang baik oleh brand secara menyeluruh, sulit untuk menilai apakah penambahan antimikroba dapat melindungi pemakainya dari virus corona. Demikian menurut Amy Price, seorang ilmuwan peneliti senior di Stanford Anesthesia Informatics and Media (AIM) Lab seperti diberitakan cnn.com (19/11) Dia juga menjadi penasehat WHO tentang pedoman masker wajah.
"Tantangannya adalah kadang-kadang klaim dibuat, tetapi tidak diuji pada masker yang sebenarnya atau dengan virus yang sebenarnya," katanya melalui panggilan konferensi video.
Sejauh ini, hanya ada sedikit penelitian yang diterbitkan, yang meneliti dampak perawatan kain antimikroba dan antivirus pada virus corona baru. Dan tidak ada satu jenis teknologi khusus yang digunakan brand fashion, jadi masing-masing memerlukan studi individual yang ekstensif untuk menilai efektivitas perlindungannya.
Penting untuk mempertimbangkan apakah kain yang dirawat dapat menetralkan virus, dan jika demikian, berapa lama waktu yang dibutuhkan, serta jumlah pencucian yang bisa menahan aplikasi antimikroba pada kain atau masker. (Aru)
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
Perancang Busana Italia Valentino Meninggal Dunia di Usia 93 Tahun
UNTOLD Stories: di Balik Outfit Kece Atlet Indonesia untuk SEA Games Thailand 2025
‘Light and Shape’: ESMOD Jakarta Rayakan Inovasi Mode dari Desainer Muda di Creative Show 2025
UNIQLO Gandeng BABYMONSTER untuk Koleksi UT Terbaru, Tampilkan Desain Edgy dan Playful
Thrifting makin Digandrungi, Industri Tekstil dalam Negeri Ketar-Ketir
Tumbler Viral, Lebih daripada Gaya Hidup Sehat tapi Fashion Statement
Panduan Thrifting Jakarta, Rekomendasi Seru dari Blok M Square hingga Pasar Santa
Menenun Cerita Lintas Budaya: Kolaborasi Artistik Raja Rani dan Linying
JF3 Fashion Festival Bawa Industri Mode Indonesia ke Kancah Global, akan Tampil di Busan Fashion Week 2025
Dari Sneakers Langka hingga Vinyl Kolektibel, Cek 3 Zona Paling Hits di USS 2025