Kesehatan

Bunda, Hindari Pemberian Madu kepada Bayi di Bawah 1 Tahun 

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 23 April 2024
Bunda, Hindari Pemberian Madu kepada Bayi di Bawah 1 Tahun 

Bunda, hindari pemberian madu untuk bayi di bawah satu tahun. (Foto: Unsplash/Hui Sang)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM – DOKTER yang juga praktisi kesehatan masyarakat, dr Ngabila Salama, mengatakan bayi berusia di bawah satu tahun tidak diperbolehkan mengonsumsi madu. Hal itu disebabkan kandungan gula dalam madu yang bisa berdampak negatif pada bayi jika dikonsumsi berlebihan.

Setidaknya ada enam dampak negatif yang mungkin akan dirasakan bayi, yakni menolak ASI, membangun kebiasaan makan yang buruk, memicu kerusakan gigi, memicu hiperaktif, menyebabkan kelesuan pada anak, dan memicu obesitas serta diabetes di usia dini.

Baca juga:

Gula Sebabkan Bayi 'Picky' Terhadap Makanan

“Gula boleh diberikan pada usia lebih dari enam bulan, tetapi sesudah lulus ASI eksklusif sebagai pendamping ASI atau MPASI. Namun, tetap tidak diberikan secara berlebihan,” kata Ngabila dalam pesan singkat yang diterima Merahputih.com, Selasa (23/4).

Selain itu, Ngabila juga berpendapat pada dasarnya bayi belum dapat mengenal rasa makanan dan minuman yang dikonsumsi sehingga rasa manis dan asin yang diterima hanya akan membuat anak menjadi picky eater atau memilih-milih makanan.

Bukan cuma itu, makanan penamping ASI (MPASI) instan yang saat ini marak digunakan masyarakat dinilai tidak memiliki kandungan gizi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Maka dari itu, Ngabila para ibu agar menghindari kebiasaan tersebut dan mencoba untuk membuat MPASI sendiri secara alami.

“Padahal yang tasty (lezat) ini seringnya tidak sehat. Bubur bayi instan diklaim memiliki kandungan gizi seimbang dan lengkap, tetapi akan lebih baik membuat MPASI alami sendiri pada usia anak 6-24 bulan dan sesudahnya tetap yang terbaik,” ucap Ngabila.(chn)

Baca juga:

Bunda Mesti Tahu, ini Tanda Bayi Alergi Terhadap Susu Sapi

#Kesehatan #Parenting
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan