Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap mengimbau warga Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mewaspadai potensi hujan ekstrem yang akan terjadi pada bulan Mei.
"Berdasarkan pengamatan kami, pada bulan Mei atau penghujung musim hujan, di Kabupaten Cilacap biasanya terjadi hujan ekstrem dengan curah lebih dari 100 milimeter dalam kurun 24 jam," kata Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo di Cilacap, Selasa (2/5).
Menurutnya, hujan ekstrem tersebut pernah terjadi pada tahun 2016, 2014, dan tahun-tahun sebelumnya dengan lokasi maupun waktu yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, Teguh mengimbau warga Kabupaten Cilacap yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan jika terjadi hujan lebat lebih dari tiga jam.
"Hal itu terlihat dari curah hujan yang terjadi selama bulan April cenderung lebih rendah dibanding bulan-bulan sebelumnya. Khusus di kota Cilacap, curah hujan selama bulan April tercatat hanya 114 milimeter," katanya.
Terkait dengan prakiraan curah hujan bulan Mei di Kabupaten Cilacap, dia mengatakan, berdasarkan pantauan satelit secara umum diprakirakan berkisar 100-300 milimeter.
Menurut dia, curah hujan yang paling tinggi diprakirakan terjadi di wilayah kota Cilacap dan Kecamatan Kampung Laut yang berkisar 200-300 milimeter, wilayah lainnya berkisar 151-200 milimeter, serta yang paling kecil di Kecamatan Kedungreja dan sekitarnya diprediksi berkisar 101-150 milimeter.
Kendati curah hujan bulan Mei di wilayah barat Cilacap atau Kecamatan Kedungreja dan sekitarnya diprakirakan paling rendah, Teguh mengatakan wilayah timur Cilacap seperti Kecamatan Binangun, dan Nusawungu justru diprediksi akan lebih dulu memasuki awal musim kemarau.
"Kami prakirakan awal musim kemarau untuk wilayah timur Cilacap berlangsung pada dasarian atau 10 harian pertama bulan Juni, disusul sebagian besar wilayah Cilacap pada dasarian kedua Juni," katanya.
Sumber: ANTARA

