PUASA di Bulan Ramadan selalu memberikan tantangan tersendiri bagi yang menjalankannya. Tantangan yang dihadapi oleh setiap orang tentu berbeda.
Warga Indonesia yang bermukim di luar negeri menghadapi tantangan yang tak biasa, mulai dari populasi umat muslim yang sedikit, durasi berpuasa yang lama, hingga kerinduan akan tanah air.
Berikut tantangan yang dihadapi warga Indonesia yang menjalankan ibadah puasa di luar negeri:
1. Australia
Tidak suka lama-lama menunggu waktu berbuka puasa? Australia bisa menjadi negara favoritmu yang ingin berpuasa dalam waktu singkat. Durasi puasa di Australia Barat lebih singkat dibandingkan Indonesia. Di negara tersebut, kita mulai puasa sejak pukul 05.25 dan buka puasa pukul 17.25. Meski waktu berpuasa lebih singkat, warga Indonesia yang menjalani ibadah puasa di Australia Barat tetap menghadapi tantangan. Mereka harus sahur di tengah dinginnya udara kota Perth. Pasalnya, puasa tahun ini bertepatan dengan musim dingin.
“Berhubung puasanya saat musim dingin, sehabis sahur kita langsung bersiap-siap kerja dan merasakan udara dingin,” ucap salah satu warga Indonesia yang bermukim di Perth, Bahrel Latief. Ketika udara dingin menyerang, ia biasa menghangatkan tubuhnya dengan minum segelas kopi. Ia harus bertahan di tengah musim dingin tanpa kopi karena menjalankan ibadah puasa.
Australia merupakan salah satu negara dengan tingkat toleransi yang cukup tinggi. Barel menuturkan bahwa rekan-rekannya di kantor mendukungnya menjalankan ibadah puasa. Atasannya bahkan memberinya kesempatan untuk pulang lebih cepat di hari Jumat untuk menjalankan shalat Jumat.
Kaum muslim merupakan golongan minoritas di Australia. Hal tersebut membuat aktivitas masyarakat Australia berjalan normal meski di Bulan Ramadan. Untuk menghidupkan nuansa Ramadan, Barel biasa pergi Ke University of Western untuk buka bersama. “Mereka selalu buat acara buka bersama dan dilanjutkan shalat tarawih berjamaah,” tuturnya.
2. Tiongkok
Warga Indonesia yang bermukim di Tiongkok harus merasakan beratnya ibadah puasa. Bulan Ramadan di Tiongkok bertepatan dengan musim panas. Praktis durasi puasa di negeri tirai bambu lebih panjang. Umat muslim mulai puasa sejak pukul 04.00 pagi dan berbuka puasa pukul 19.00. Musim panas membuat energi terkuras dua kali lipat lebih lama sehingga warga Indonesia yang menjalani puasa di Tiongkok kelelahan dan dehidrasi. Peralihan musim di Cina pun membuat beberapa pelajar Indonesia yang menjalankan ibadah puasa di sana jatuh sakit. “Di sana peralihan musimnya signifikan dari panas banget tiba-tiba berangin. Awal puasa sempat drop,” beber seorang mahasiswa muslim asal Indonesia, Chaya Primadina. Untuk mengatasinya, Chaya meminum vitamin.
Tiongkok merupakan negara dengan populasi muslim yang cukup rendah. Aktivitas umat muslim di sana tetap berjalan seperti biasa dan tak ada perlakuan istimewa. Para mahasiswa muslim di Tiongkok biasa mencuri waktu untuk beristirahat di perpustakaan saat waktu istirahat. Sulitnya ibadah puasa di Tiongkok justru merekatkan hubungan sesama warga muslim di sana. mengungkapkan bahwa para mahasiswa Indonesia yang tinggal di sana kerap sahur dan buka bersama. “Biasanya kami saling membangunkan teman saat sahur,” ucap mahasiswa yang berdomisili di Xi’an tersebut. Mereka juga kerap menjalankan tarawih berjamaah di asrama mereka.
3. Skotlandia
Beratnya ibadah puasa juga dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang tinggal di Skotlandia. Di Skotlandia, Bulan Ramadan jatuh pada musim panas. Hal tersebut membuat durasi waktu berpuasa di Skotlandia sangat panjang. Durasi puasa di Skotlandia yakni 20 jam. Mereka mulai sahur pukul 02.00 dan berbuka puasa pukul dan berbuka puasa antara pukul 21.00 hingga 22.00.
Seorang mahasiswa asal Indonesia, Inusa Pamusyawara Fauzi menuturkan bahwa beberapa pelajar Indonesia kerap melewatkan waktu sahur untuk beristirahat atau melewatkan waktu istirahat untuk bersantap sahur. “Di Skotlandia, ada yang langsung tidur jadi tidak sahur atau ada yang bangun terus sampai pukul 02.00,” ucap pelajar Indonesia yang mengenyam pendidikan di Aberdeen University tersebut. Menurutnya, para mahasiswa Indonesia tersebut tak masalah tetap terjaga hingga pukul 02.00 karena aktivitas mereka biasa dimulai pada pukul 09.00.
Durasi puasa yang sangat panjang tersebut tentu memberatkan umat muslim yang menjalankan ibadah puasa di Skotlandia. Beberapa warga Indonesia yang menjalankan ibadah puasa di sana pun mengikuti fatwa high latitude. “Ada beberapa orang yang pahamnya mengikuti fatwa high latitude yakni apabila latitudenya 60 derajat maka puasanya sekitar 16 jam,” paparnya.
4. Belanda
Panjangnya waktu puasa juga dirasakan oleh warga Indonesia yang menjalankan ibadah puasa di Belanda. Sama seperti Skotlandia, umat muslim harus rela menjalankan ibadah puasa selama 20 jam. Puasa di negeri kincir angin tersebut mulai sejak pukul 03.00 pagi dan buka puasa pukul 22.00.
Mahasiswi Leiden University, Amalia Putri Astari mengungkapkan bahwa di hari pertama puasa berjalan lancar. Puasa dapat dilakukan hingga pukul 22.00 tanpa kendala. Kini, beberapa mahasiswa mulai mengikuti fatwa high latitude. Sama seperti para mahasiswa di Skotlandia, pelajar Indonesia yang berpuasa mengikuti mahzab tersebut. Mereka mulai berbuka puasa pukul 07.00 petang.
Di bulan Ramadhan, homesick lebih mudah melanda. Untuk mensiasatinya, para pelajar Indonesia biasa berbuka bersama warga Indonesia lainnya. Banyak yang mengatakan bahwa Belanda merupakan Indonesia versi Eropa. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Populasi Warga Negara Indonesia di Belanda cukup besar. Momen bulan suci Ramadhan dimanfaatkan sesama warga Indonesia untuk saling mengunjungi.
Amalia Putri Astari atau yang kerap disapa Mia mengatakan bahwa saat berkumpul di rumah salah satu di antara mereka, masing-masing membawa makanan dan lalu buka bersama. “Walaupun ada yang buka jam 07.00 atau jam 10.00 malam kami tetap kompak,” tukasnya.
5. Inggris
Beratnya puasa tahun ini dirasakan oleh warga Indonesia yang tinggal di Inggris. Tanyakan pada mereka bagaimana rasanya puasa di tengah perhelatan akbar royal wedding Pangeran Harry dengan Meghan Markle. Seorang mahasiswi Southampton University, Inta Putrinta membagikan pengalamannya merasakan tantangan puasa tahun ini. Ia harus sahur terlebih dahulu pada pukul 03.30 pagi. Selanjutnya ia berangkat pukul 07.00 pagi dari kotanya di Southampton ke Windsor. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu singkat harus ditempuh dalam waktu satu jam. Dirinya harus antre selama setengah jam sebelum naik kereta. Pernikahan akbar putra mahkota Kerajaan Inggris tersebut sungguh menarik para wisatawan domestik atau mancanegara, sehingga membuat mereka berdesak-desakan di stasiun.
Perjuangan ibadah yang ia lakukan tak berhenti sampai situ. Setibanya di Windsor, ia kembali merasakan tantangan puasa. Ia harus menunggu di depan Istana Windsor untuk menunggu prosesi upacara pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle. “Kami harus menunggu di luar selama tiga jam untuk menunggu Pangeran Harry dan Meghan Markle keluar,” tuturnya. Selama menunggu, ia melihat masyarakat Inggris memanfaatkan waktu untuk berpiknik. Mereka membawa kursi dan tikar serta sampanye. Di setiap sudut, beberapa mobil van menjual es krim. “Es krimnya kelihatan lezat banget. Jujur, tergoda banget pengin beli. Sayang lagi puasa,” terangnya.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Gerbang Kastil Windsor, tempat berlangsungnya upacara pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle pun terbuka. Para pengawal keluar terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan kereta kencana yang membawa Pangeran Harry dan Meghan Markle. Kereta tersebut menyusuri The Long Walk, Windsor Castle. Berbanding terbalik dengan perjuangan yang harus dilalui, kereta yang mereka tumpangi berlalu begitu cepat. “Bayangkan, nunggu tiga jam panas-panasan sambil puasa tetapi mereka lewat enggak sampai tiga menit,” keluhnya. Meski demikian, dirinya berhasil melalui puasa hingga tiba waktu puasa. (avia)