MerahPutih.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada 2026 menunjukkan salah satu tantangan besar dalam proses pemadaman, terutama di lahan gambut.
Dalam kondisi tertentu, api tidak lagi terlihat di permukaan tanah, tetapi asap masih mengepul dari bawah tanah. Kementerian Kehutanan pernah melaporkan fenomena tersebut saat meninjau lokasi kebakaran di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
Fenomena itu dikenal sebagai ground fire, yakni kebakaran yang merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah.
Baca juga:
Hotspot Karhutla di Sumatera Selatan Makin Bertambah, Secara Nasional Diklaim Menurun
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla menjadi lebih rumit. Meski kobaran api tidak lagi terlihat, bara yang tersimpan di lapisan tanah masih dapat bertahan dan memicu kebakaran kembali.
Lantas, apa itu ground fire, bagaimana proses terjadinya, dan mengapa kebakaran jenis ini sulit dipadamkan?
Apa itu Ground Fire?
Ground fire adalah kebakaran yang berlangsung di bawah permukaan tanah, terutama pada lapisan bahan organik yang mudah terbakar, seperti gambut.
Berbeda dengan kebakaran permukaan yang ditandai kobaran api dan membakar rumput, semak, atau pepohonan, ground fire dapat berlangsung melalui proses pembakaran membara (smoldering combustion) tanpa menghasilkan nyala api besar.
Fenomena ini menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran di lahan gambut Indonesia. Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang mengalami proses penguraian dalam waktu sangat panjang.
Baca juga:
Kerugian Kebakaran Hutan di Raja Ampat Capai Rp 200,4 Miliar
Saat kondisinya tetap basah, gambut menyimpan banyak air. Namun, ketika mengering, lapisan organik tersebut dapat berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Menurut Kementerian Kehutanan, karakteristik lahan gambut memungkinkan api bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api di atasnya sudah tidak terlihat.
Kondisi tersebut membuat pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Bagaimana Ground Fire Bisa Terjadi?
Ada sejumlah kondisi yang memungkinkan ground fire muncul dan berkembang. Berikut penyebab terjadinya kebakaran di bawah permukaan tanah tersebut.
1. Lapisan Gambut Mengering
Ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang, kandungan air dalam gambut dapat berkurang. Gambut yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, terutama jika muka air tanah turun akibat drainase atau perubahan tata kelola lahan.
2. Api Merambat ke Lapisan Bawah Tanah
Kebakaran yang awalnya terjadi di permukaan dapat menjalar ke lapisan organik di bawahnya. Bara kemudian membakar material gambut secara perlahan dan merambat mengikuti lapisan bahan organik yang tersedia.
Baca juga:
Cabut Izin Perusahaan Tak Cukup, DPR Desak Pembakar Hutan Dihukum Berat
3. Pembakaran Berlangsung Tanpa Api Besar
Di bawah tanah, bahan organik dapat terbakar melalui proses pembakaran membara. Proses ini menghasilkan panas dan asap, tetapi tidak selalu disertai kobaran api yang jelas.
Akibatnya, kebakaran berpotensi luput dari pengamatan jika pemantauan hanya mengandalkan penglihatan dari permukaan tanah.
4. Bara Bertahan di Dalam Tanah
Selama masih tersedia bahan organik yang dapat terbakar dan kondisi yang mendukung proses pembakaran, bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Inilah yang membuat ground fire berpotensi memunculkan api kembali meskipun bagian atas lahan terlihat sudah padam. (Far)