KABAR tak mengenakan datang dari Amazon yang memutuskan akan menutup layanan Kindle di Tiongkok. Laman CNN melansir dari pengumuman perusahaan tersebut pada Kamis (2/6), menyatakan bahwa mulai Juli 2023, pengguna Kindle negara tersebut tidak akan dapat lagi membeli buku online (E-Book).
Namun pelanggan yang ada masih dapat mengunduh buku yang dibeli sebelum Juni 2024. Amazon (AMZN) juga akan berhenti memasok perangkat Kindle ke pengecer dalam waktu dekat.
Baca Juga:
Tommy Hilfiger Masuki Dunia 'Roblox' dengan Menghadirkan Tommy Play
"Komitmen jangka panjang Amazon Tiongkok kepada pelanggan tidak akan berubah. Kami telah membangun fondasi bisnis yang luas di Tiongkok dan akan terus berinovasi dan berinvestasi," kata perusahaan yang berbasis di Seattle itu.
Amazon pertama kali memasuki daratan Tiongkok pada tahun 2004 dengan mengakuisisi Joyo.com. Itu merupakan layanan penjualan buku, musik dan video berbasis online di negara tersebut.
Sejak itu, Amazon telah menikmati kesuksesan di pasar yang luas. Ini bukan kali pertama Amazon menghentikan operasionalnya di Tiongkok. Sebelumnya, pada 2019, perusahaan telah menutup pasar lokal online.
Meskipun perusahaan tidak secara terbuka menjelaskan alasannya, analis menduga bahwa mereka sulit bersaing dengan kompetitor lokal. Pemain besar di negara itu dipimpin oleh perusahaan besar seperti Alibaba (BABA) dan JD.com (JD).
Baca Juga:
Langkah ini menambah daftar perusahaan internasional yang hengkang dari Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir. Seperti pada bulan Mei 2022, Airbnb mengumumkan bahwa mereka akan menghapus semua daftarnya di Tiongkok. Saat ini Airbnb hanya akan berkonsentrasi pada outbound travelers.
Kehancuran Airbnb di Tiongkok disebabkan oleh efek pandemi COVID-19. Ini memperparah kondisi keuangan mereka karena modal dikeluarkan tidak sepadan dengan pendapatan di negara tersebut. Mulai musim panas ini, para tamu tidak lagi dapat melakukan pemesanan pada platform tersebut di Tiongkok.
Selain itu, pada Oktober 2021, LinkedIn juga menutup layanan platform orisinilnya di Tiongkok. LinkedIn menyebutkan bahwa operasinya sangat sulit dan kebijakan otoritas yang ketat. Platform, yang dimiliki oleh Microsoft tersebut kini memutuskan untuk memperkenalkan layanan yang baru, yang lebih terlokalisasi, yang disebut InJobs.
Platform tersebut dimaksudkan untuk sebagai layanan jaringan profesional pribadi yang memungkinkan pengguna untuk berbagi pesan dan postingan online, serta lebih sebagai portal karier tradisional. (Ref)
Baca Juga:
Literasi Digital Jadi Kunci Cegah Kebocoran Data di Internet