Teknologi

Airlander, Pesawat Udara Mewah dengan Jejak Karbon Lebih Sedikit

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 28 Mei 2021
Airlander, Pesawat Udara Mewah dengan Jejak Karbon Lebih Sedikit

Pesawat Airlander 10 akan beroperasi dengan emisi 90% lebih sedikit daripada pesawat konvensional. (marketwatch.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KESADARAN akan krisis iklim semakin meningkat. Artinya, para pelancong pun akan makin berhati-hati mencari alternatif selain perjalanan dengan pesawat terbang yang memiliki jejak karbon besar.

Bagi banyak orang, itu berarti bepergian dengan kereta api berkecepatan tinggi, atau mungkin kapal layar seperti Greta Thunberg. Sekarang ada alternatif kendaraan yang bisa dipertimbangkan para pencinta lingkungan.

Perusahaan Hybrid Air Vehicles (HAV) yang berbasis di Inggris merilis rincian terbaru dari pesawatnya pada Rabu (26/5), yang menawarkan jejak karbon yang jauh lebih kecil daripada pesawat penumpang konvensional. Pesawat Airlander 10 ini bisa menampung hingga 100 penumpang dan beroperasi dengan emisi 90% lebih sedikit daripada pesawat konvensional. Demikian pernyataan perusahaan dalam siaran pers yang diberitakan CNN.com, (28/5).

BACA JUGA:

Alarm Tidur Seperti Apa yang Paling Tepat?

Pesawat itu membutuhkan bahan bakar lebih sedikit daripada pesawat konvensional karena kombinasi "daya angkat apung dari helium, gaya angkat aerodinamis, dan daya dorong vektor," menurut HAV. Selain itu, perusahaan tersebut juga akan meluncurkan model listrik hibrida dan bahan bakar jet akan tersedia pada 2025, dan versi listrik sepenuhnya pada 2030.

airlander
Kabin Airlander menampilkan jendela mulai dari lantai hingga ke langit-langit. (cnn.com)

HAV merilis satu set rendering interior kabin untuk menunjukkan bagaimana rasanya terbang dengan Airlander 10. "Seperti yang kamu lihat, itu adalah kabin yang besar, luas, dan dapat diakses," kata Kepala Eksekutif HAV Tom Grundy kepada CNN. Dia menekankan adanya jendela mulai dari lantai hingga ke langit-langit.

"Ini kebisingan rendah, getaran rendah, sangat sedikit efek turbulensi yang dikhawatirkan orang di pesawat lain," Grundy menambahkan.

Pesawat ini menawarkan kabin tanpa tekanan yang dibangun untuk menahan suhu tinggi dan rendah, angin kencang dan bahkan sambaran petir, dengan standar peraturan yang sama seperti pesawat penumpang lainnya.

Perjalanan pesawat ini nantinya tidak akan bersaing dengan penerbangan jarak jauh atau rute yang sudah terlayani dengan baik oleh koneksi kereta berkecepatan tinggi, sebaliknya akan fokus untuk menghubungkan kota-kota yang terpisah beberapa ratus mil.

Menurut pihak HAV, pesawat itu sangat cocok untuk perjalanan antar kota seperti Seattle-Vancouver. Contohnya termasuk Liverpool ke Belfast, Seattle ke Vancouver dan Stockholm ke Oslo. Grundy juga menunjukkan bahwa pesawat tersebut akan sangat berguna di negara kepulauan seperti Indonesia, atau di daerah terpencil di Kanada utara.

Pesawat itu memiliki kecepatan tertinggi 130 kilometer per jam, dan perjalanan dari Liverpool ke Belfast - 271 kilometer, sehingga akan memakan waktu lima jam 20 menit, menurut HAV. Waktu tersebut telah memperhitungkan check-in dan perjalanan ke dan dari pusat kota. Bandingkan dengan empat jam 24 menit yang diperkirakan seorang pelancong akan habiskan untuk perjalanan pesawat komersial atau sembilan jam 23 menit dengan layanan feri.

Airlander memiliki keuntungan yang signifikan di area ini karena, "Kami tidak bergantung pada infrastruktur bandara, jadi kami dapat lepas landas dan mendarat dari permukaan yang cukup datar," kata Grundy, "Itu termasuk air."

Airlander
Desain kabin Airlander siap untuk diproduksi dan telah diluncurkan perusahaan HAV. (cnn.com)

Dalam hal emisi, HAV menggunakan angka pemerintah Inggris untuk menghitung perjalanan Liverpool ke Belfast, sebuah Airlander akan menghasilkan 4,75 kilogram karbon dioksida, dibandingkan dengan 4,98 kilogram di feri dan 67,75 kilogram di pesawat terbang.

"Pertanyaan kami sebenarnya adalah, berapa lama lagi kita akan berpikir bahwa menaiki pesawat yang sangat cepat ini dapat diterima untuk perjalanan yang sangat pendek?" kata Grundy.

Sempat Tertunda
Pada Januari 2019, versi prototipe pesawat dihentikan dari layanan setelah enam penerbangan uji. Proses pengembangan dihantam oleh beberapa kemunduran besar, termasuk pendaratan darurat pada penerbangan kedua. Namun, pihak HAV akhirnya mendapatkan persetujuan untuk bekerja sama dengan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris pada versi produksi.

Sementara desain kabin masih dalam tahap konsep, HAV mengatakan "telah memasukkan banyak pertimbangan untuk memastikannya praktis, layak dan siap untuk transisi ke produksi."

Menurut Grundy, perusahaan berencana untuk memiliki tiga kapal terbang yang terbang pada tahun 2023, dengan penumpang pertama diterima pada tahun 2025 untuk pengalaman perjalanan yang mewah,

Grundy menambahkan, HAV berencana untuk mengadakan pembicaraan dengan penyedia transportasi mengenai rute titik A ke titik B yang pertama, di mana harga akan berada dalam kisaran opsi perjalanan yang ada, tambah .

Bila kamu medengan pesawat udara, yang muncul adalah bencana Hindenberg yang terkenal pada 1937, ketika 36 orang tewas di New Jersey ketika sebuah pesawat terbakar dan jatuh. Namun, pesawat itu diisi dengan hidrogen yang mudah terbakar, sedangkan Airliner 10 diisi dengan helium yang lembam dan tidak mudah terbakar, menurut situs HAV.

Airships paling terkenal adalah milik perusahaan ban Goodyear, yang telah melayang-layang di acara olahraga di seluruh dunia selama beberapa dekade. Tim lain juga sedang mengerjakan balon udara generasi berikutnya, seperti Phoenix, pesawat sepanjang 15 meter yang dapat digunakan untuk menyediakan jangkauan WiFi di daerah terpencil.(aru)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan