Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Pesona Sumatera Selatan

8 Jam untuk Sajian Kue para Bangsawan Palembang

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 05 Agustus 2018
8 Jam untuk Sajian Kue para Bangsawan Palembang

Kue delapan jam, sajian para bangsawan Palembang. (foto: Youtube)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

NAMANYA kue delapan jam, sesuai dengan lama waktu memasak hingga kue ini bisa dihidangkan. Kue delapan jam merupakan salah satu kue khas dari Kota Palembang. Uniknya, kue yang satu ini dibuat tanpa tepung sama sekali. Hal itu amat berbeda dengan bahan pembuat kue pada umumnya yang pasti menggunakan tepung.

Kue delapan jam dibuat dari telur bebek, gula, mentega, dan susu kental manis. Teksturnya lembut, kenyal, dengan rasa manis nan legit.

Kue delapan jam dibuat tanpa tepung. (foto: youtube)

Meski kini kue delapan jam mudah ditemukan di toko oleh-oleh, dulunya kue ini hanya boleh dihidangkan dan dinikmati para bangasawan. Kue berwarna kecokelatan ini juga kerap hadir sebagai hantaran ataupun hidangan dalam upacara pernikahan tradisional Palembang. Kini, kue delapan jam selalu hadir di setiap rumah di kala Lebaran.

Proses masak kue yang lama membuat rasa kue ini amat legit. Konon, waktu memasak tak boleh kurang dari delapan jam. Proses memasaknya dimulai dari mencampurkan telur bebek, gula, dan susu. Saat waktu pemasakan selama 8 jam, telur menjadi padat, sedangkan gula dan susu menjadi karamel. Gula menjadi bagian penting dalam kue ini karena selain memberi rasa manis, gula juga membuat kue awet dan tahan lama.

Kini, kue unik ini jadi buah tangan khas Palembang. (foto: tokopedia)

Konon, karena orang zaman dahulu tidak memiliki kulkas, bahan-bahan kue ini dibuat sedemikian rupa agar tahan lama. Dengan begitu, tanpa disimpan di kulkas, kue ini bisa bertahan 3 hingga 5 hari.

Wah, unik banget kan. Jangan lupa untuk membawa kue delapan jam saat pulang dari kunjungan ke Palembang ya.(dwi)

#Pesona Sumatera Selatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Tradisi
Menelusuri Asal-Usul Bahasa Komering dari Sumatera Selatan
Bahasa Komering menjadi salah satu yang tertua di Sumatera Selatan yang dituturkan oleh Suku Komering.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 13 September 2024
Menelusuri Asal-Usul Bahasa Komering dari Sumatera Selatan
Bagikan