Merahputih.com - Momen peringatan 76 tahun kemerdekaan Indonesia jadi refleksi untuk berbenah. Meski sudah 76 tahun merdeka, masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum menikmati kemerdekaan tersebut.
"Salah satu kesimpulan yang saya tarik, masih banyak daerah yang belum menikmati hasil kemerdekaan ini. Ini tentu membuat miris kita semua,” kata Anggota Komisi V DPR, Syahrul Aidi Maazat, Selasa (17/8).
Syahrul mencontohkan di kawasan Riau. Menurut dia, disana masih banyak masyarakat yang tinggal di pedalaman dengan akses infrastruktur dan listrik yang tidak layak. Padahal Riau semenjak kemerdekaan telah memberikan devisa terbesar ke negara.
Baca juga:
Di pesisir Riau, hampir semua masyarakat tidak menikmati jalan bagus, listrik murah dan 24 jam, air bersih, pendidikan dan kesehatan.
"Mereka hidup di bawah tekanan. Dan kita tidak menampik hal ini juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia lainnya.” terangnya.
Sementara itu, Anggota DPR Johan Rosihan nilai perlu evaluasi objektif sebagai refleksi kemerdekaan terhadap kondisi hari ini. Dimana, masih banyak persoalan mendasar seperti belum hadirnya perlindungan pada sektor pangan.
"Serta belum hadirnya kesejahteraan, kecerdasan dan kedamaian jiwa bagi para petani, peternak dan nelayan di seluruh Indonesia,” terang Johan.
Menurut Johan, mestinya pemerintah menjadikan Pertanian sebagai basis ekonomi Nasional. Karena secara kewilayahan Indonesia memiliki 86,98 persen dari total desa yang punya potensi dan penghasilan utama sektor Pertanian.
"Namun kebijakan nasional tidak menempatkan Pertanian sebagai prioritas pembangunan,” ujarnya.
Disisi lain, Indonesia menunjukkan surplus beras nasional setiap tahun namun impor beras terus meningkat setiap tahun. Johan mencontohkan bahwa Produktivitas beras Indonesia berkisar antara 5,13 -5,24 ton/ha dan berada sedikit di bawah Vietnam.
“Namun biaya produksi beras Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya sehingga petani Indonesia belum sejahtera, paparnya.
Anggota Komisi IV DPR ini menyatakan pemerintah belum berhasil meningkatkan taraf hidup petani untuk lebih sejahtera.
Baca juga:
Termasuk berbagai penyebab dari belum hadirnya kesejahteraan itu ditunjukkan dengan kenyataan Harga di tingkat petani yang selalu jatuh pada saat panen. Di sisi lain saat ini telah terjadi krisis petani muda.
"Dimana berdasarkan data BPS dari tahun 2013 sampai 2020 telah terjadi penyusutan drastis petani usia produktif usia 25-34 tahun hanya tersisa sekitar 2,9 juta petani muda,” tutur Johan.
Ia hanya berharap, pemerintah mau turun untuk langsung membantu para petani dan warga kelas menengah yang kini kesulitan. (Knu)