Musik

49 Tahun Tertidur, PHR Pressing Lanjutkan Tradisi Merilis Rekaman Piringan Hitam

Febrian AdiFebrian Adi - Sabtu, 29 April 2023
49 Tahun Tertidur, PHR Pressing Lanjutkan Tradisi Merilis Rekaman Piringan Hitam

PHR kerja sama dengan Elevation Records untuk hadirkan pabrik piringan Hitam. (Foto: Merahputih.com/Febrian Adi)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

IRAMA lagu Jam Makan Siang dari Hindia terdengar lamat-lamat di sebuah toko piringan hitam di Bintaro, Jakarta. Di depan toko, seorang pemuda menyambut dengan senyuman dan menjabat tangan pengunjung dengan begitu hangat.

Pria tersebut kemudian menceritakan sedikit tentang pesatnya penjualan piringan hitam di Indonesia yang dimulai pada 2019.

“Bila di luar negeri penjualan piringan hitam sudah terlihat meningkat sejak 2013 silam. Kalau di Indonesia sendiri, mulai terlihat pesatnya ketika kami merilis album debut dari Hindia bertajuk Menari Dengan Bayangan pada 2019 kemarin. Bisa dikatakan bahwa rilisan Hindia ini yang membawa gelombang penjualan piringan hitam di Indonesia kembali diminati para pemburu rilisan fisik,” cerita Clement Arnold, Direktur Utama PT Kerka Elevasi Mandiri kepada Merahputih.com, Kamis (27/4).

Baca juga:

Rilisan Piringan Hitam Musisi Indonesia Sepanjang 2022

Pabrik piringan hitam terakhir yang beroperasi di Indonesia berada di Lokananta pada 1971. (Foto: Merahputih.com/Febrian Adi)

Clement, yang menggemari piringan hitam sejak kuliah di Jerman, mulai rutin membawanya ke Indonesia sebagai koleksi. Ia pun berpikir untuk menawarkannya ke pasar Indonesia karena masih banyak yang masih menggemari rilisan fisik musik paling berkualitas tersebut. Dia mendirikan Piringan Hitam Record (PHR) pada 2014.

PHR bersama Elevation Records kembali menghidupkan napas penggemar piringan hitam selama satu dekade. Mereka menghadirkan kembali pabrik piringan hitam (Lokananta 1971) setelah hampir setengah abad tertidur lelap.

Didirikan oleh PT Kerka Elevasi Mandiri, pabrik piringan hitam ini tidak hanya akan meneruskan kemandirian anak bangsa dalam proses produksi dan pelestarian musik nasional.

Mereka juga bertekad memenuhi kebutuhan nyata musisi, band, dan label yang hendak merilis musik mereka dalam format piringan hitam secara lebih murah, lebih cepat, dan bebas dari hambatan-hambatan logistik.

Kehadiran pabrik piringan hitam ini tak lepas dari tangan dingin seorang pengusaha visioner bernama Edy Goh yang dengan inisiatif pribadi membuka pressing plant pada 2019 di wilayah Cengkareng, Tangerang. Sayangnya, percetakan piringan hitam ini terpaksa terhenti sebagai imbas perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

“Ini juga kami merasa sangat luar biasa, setelah melalui proses yang cukup singkat dengan tiga kali pertemuan dengan pemilik mesin sebelumnya pak Edy Goh, akhirnya sepakatlah kami meneruskan aplikasi dari mesin pressing ini, karena senada dengan visi misi yang memang sudah kami miliki dari dulu,” lanjut Clement, yang mengambil kuliah manajemen di Jerman itu.

Dengan mesin teknologi Italia dan assembly Hong Kong, PHR Pressing mampu menawarkan kapasitas produksi hingga 30 ribu keping piringan hitam per bulan. Sebuah angka yang masuk akal, mengingat tingginya permintaan konsumsi piringan hitam di Indonesia maupun pasar global.

“Bersyukur bahwa ketika kami mengambil alih dan meneruskan mesin pressing ini, kami mendapatkan instalasi sekaligus tim teknisi yang memang sudah mengerti dan sebelumnya memang pernah menggunakan mesin ini selama dua tahun lamanya,” kata Clement.

“Kapasitas produksi normalnya 500 keping. Namun sebenarnya kapasitas optimis produksi yang bisa dilakukan oleh mesin itu sendiri mencapai sampai 30 ribu keping. Namun, kami tidak ingin langsung mendorong mesin ini dengan kapasitas maksimal tersebut pada awalnya,” sambung Clement.

Pemberitaan yang terbilang besar ini pun tak hanya mengalihkan mata para penggemar koleksi musik fisik, tetapi juga para pelaku industri seperti musisi hingga label rekaman di Indonesia.

Ini terbukti dari antusiasme yang mereka berikan serta permintaan untuk melakukan pressing melalui PHR Pressing.

“Terus terang ketika kami kabarkan berita ini pertama kali di media sosial, sekitar satu sampai dua hari. Sangat banyak musisi/artis yang memperlihatkan ketertarikannya hingga puluhan jumlahnya, namun yang benar-benar ingin serius sekitar 30 pihak yang masuk dari data kami,” tambah Clement sembari tersenyum kecil.

Baca juga:

Hari Radio, Mengenal Perjuangan RRI dari Piringan Hitam hingga Era Digital

Alat pressing piringan hitam milik PHR Pressing. (Foto: Dok/PHR Pressing)

Tentu saja ini memang kabar yang menggembirakan untuk para pelaku industri musik di Indonesia. Bagaimana tidak, kehadiran pabrik piringan hitam di Indonesia sudah sangat memudahkan para musisi untuk memiliki format rekaman impian dengan mudahnya. Seperti semboyan yang dimiliki oleh PHR Pressing, “Now Everyone Can Press Vinyl”.

“Dengan adanya mesin pressing di Indonesia, kami sudah bisa memangkas beberapa kendala seperti biaya pengiriman dan sejenisnya. Sampai mengurangi risiko yang biasa terjadi ketika pengiriman itu bisa kita pangkas. Dan yang terpenting adalah waktu produksi yang sangat terpangkas,” ungkap Clement.

Kehadiran pabrik piringan hitam ini masih merupakan sebuah awal. Masih banyak yang harus dilakukan untuk terus mengharumkan musik Indonesia di mata dunia. Namun, setidaknya ini adalah langkah konkret PHR Pressing untuk terus memajukan musik Indonesia di pentas dunia.

“Singkatnya, dalam satu dan dua tahun lagi semoga terlaksana, kami ingin bantu mengekspor karya ini, musik Indonesia ini agar terdengar di seluruh dunia. Bukan hanya dalam kuantitas saja, namun juga kualitas yang bisa ditawarkan oleh para pendengar lainnya dari belahan dunia,” tutup Clement. (far)

Baca juga:

Koleksi Piringan Hitam, Perhatikan Penyimpanannya

#Musik #Barang Antik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Polemik Macklemore, Ed Sheeran Minta Maaf dan Akui Kondisi di Gaza Membuatnya Terpukul
Sheeran menyebut situasi di Gaza sebagai sesuatu yang katastrofik dan tidak dapat dibenarkan.
Dwi Astarini - 31 menit lalu
Polemik Macklemore, Ed Sheeran Minta Maaf dan Akui Kondisi di Gaza Membuatnya Terpukul
ShowBiz
Ed Sheeran Ngaku Salah, Keliru Batalkan Macklemore yang Pro-Palestina
Sheern menyebut kebebasan merupakan hal mendasar tidak peduli di tempat mana kebebasan bersuara itu dilakukan.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
Ed Sheeran Ngaku Salah, Keliru Batalkan Macklemore yang Pro-Palestina
ShowBiz
Calvin Harris Gelar Tur Headline Pertama di Australia pada Februari 2027
Calvin Harris akan menggelar tur headline pertamanya di Australia pada Februari 2027 dengan menyambangi Perth, Brisbane, Sydney, dan Melbourne.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Calvin Harris Gelar Tur Headline Pertama di Australia pada Februari 2027
ShowBiz
'Stand by me' Jadi Single Kolaborasi Dhira Bongs dan WITHDOM, Ada Sentuhan Pop 90-an
Dhira Bongs berkolaborasi dengan grup vokal asal Kyoto, Jepang, WITHDOM, lewat single 'Stand by me' yang memadukan R&B, UK garage, dan pop 90-an.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
'Stand by me' Jadi Single Kolaborasi Dhira Bongs dan WITHDOM, Ada Sentuhan Pop 90-an
ShowBiz
Rosé Rilis Single Baru 'new trick', Video Musiknya Dibuat Pakai iPhone 18 Pro
Rosé BLACKPINK merilis 'new trick' pada 18 September 2026. Lagu ini bercerita tentang bangkit setelah patah hati dan menemukan kekuatan baru.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Rosé Rilis Single Baru 'new trick', Video Musiknya Dibuat Pakai iPhone 18 Pro
ShowBiz
Madonna akan Kembali ke VMAs Setelah 23 Tahun, Aksi 2003 Kembali Jadi Sorotan
Madonna kembali ke panggung VMAs setelah 23 tahun dan akan menjadi penampil pembuka VMAs 2026 di Los Angeles pada 27 September.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Madonna akan Kembali ke VMAs Setelah 23 Tahun, Aksi 2003 Kembali Jadi Sorotan
ShowBiz
Dicoret dari Tur Ed Sheeran, Macklemore Donasikan Rp 17,7 Miliar untuk Bantu Rakyat Palestina
Macklemore berencana mendonasikan 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 17,7 miliar kepada enam organisasi yang membantu rakyat Palestina.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Dicoret dari Tur Ed Sheeran, Macklemore Donasikan Rp 17,7 Miliar untuk Bantu Rakyat Palestina
ShowBiz
Film Dokumenter 'Linkin Park: Unshatter' Tayang 30 September, Rekam Perjalanan Band setelah Chester Bennington
Linkin Park: Unshatter merekam perjalanan band setelah tujuh tahun jeda pascakepergian Chester Bennington dan hadirnya dua anggota baru.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 18 September 2026
Film Dokumenter 'Linkin Park: Unshatter' Tayang 30 September, Rekam Perjalanan Band setelah Chester Bennington
ShowBiz
ZZUF Kembali dengan Album Penuh Kedua, Hadirkan 15 Lagu dan 3 Kolaborasi
ZZUF kembali lewat album penuh kedua yang berisi 15 lagu. Album ini menghadirkan kolaborasi dengan softtrauma, Deathro, dan After Hours.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 18 September 2026
ZZUF Kembali dengan Album Penuh Kedua, Hadirkan 15 Lagu dan 3 Kolaborasi
ShowBiz
Zeke and The Popo Siapkan Sesi Dengar 'Crazy Life' di 9 Kota Jelang Rilis Album Kedua
Zeke and The Popo menyiapkan sesi dengar Crazy Life di 9 kota jelang perilisan album kedua pada 7 Oktober 2026 melalui Black Morse Records.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 18 September 2026
Zeke and The Popo Siapkan Sesi Dengar 'Crazy Life' di 9 Kota Jelang Rilis Album Kedua
Bagikan