MerahPutih.com - Hubungan internal di tubuh Tottenham Hotspur makin membara setelah manajer Roberto De Zerbi bersikukuh mencoret nama Richarlison dari skuad yang diboyong ke markas Liverpool pada ajang Piala Liga Inggris, dini hari nanti.
Apalagi, keputusan juru taktik asal Italia itu diambil di tengah krisis ketajaman lini depan tim. The Lilywhites sedang mengalami paceklik gol parah akibat gagal membobol gawang lawan dalam empat laga awal Premier League.
Baca juga:
Prediksi Liverpool vs Tottenham di Carabao Cup: Spurs Masih Mandul, The Reds Diunggulkan
Curhat Pilu Striker Tottenham Richarlison di Instagram
Sikap sang manajer terasa makin ganjil mengingat Richarlison mengakhiri musim lalu sebagai pencetak gol terbanyak klub lewat torehan 12 gol. Padahal, sang striker sudah menyatakan kesediaanya untuk dimainkan.
Setelah pernyataan De Zerbi terkait pencoretannya menyebar, bomber asal Brasil itu bereaksi mengutip ucapan sang pelatih di platform "Instagram", awalnya dengan menggunakan sebuah emoji yang menggambarkan tangisan, sebagai isyarat jelas akan kekecewaannya terhadap keputusan
Tak berhenti di situ, Richarlison kembali membagikan ulang unggahan itu melalui akun instgramnya, dengan menuliskan komentar singkat, tetapi mengandung makna yang jelas, "Kenapa?".
Baca juga:
Dibuang ke Skuad U-21, Richarlison Sakit Hati Gugat Hukum Tottenham Hotspur Putuskan Kontrak
Keretakan hubungan di ruang ganti kini resmi menjadi konsumsi publik. Situasi rumit ini merupakan buntut dari kegagalan proses transfer Richarlison pada bursa transfer musim panas lalu.
Richarlison kini berada di luar perhitungan De Zerbi meski secara fisik ia tersedia dan siap untuk dimainkan,
tulis laporan Daily Mail, dikutip Selasa (15/9)
Dilema Ganda Roberto De Zerbi di Tengah Tekanan Fans
Keputusan mencoret pencetak gol terbanyak Tottenham musim lalu saat tim sedang mengalami kemandulan akut memperbesar tekanan yang mengarah ke pundak Roberto De Zerbi.
Dilansir dari Goal.com, eks pelatih Brighton itu kini dihadapkan pada dilema ganda untuk segera menemukan formula serangan yang mandek sekaligus meredam konflik internal pemain.
Jika masalah efektivitas di lini depan tak kunjung teratasi, kebijakan pembekuan Richarlison dipastikan akan menjadi sasaran kritik tajam dari para suporter.
Kini publik menantikan apakah De Zerbi mampu meredam ketegangan ini, atau justru menjadi penanda akhir perjalanan karier Richarlison bersama Spurs. (*)